Ada realita penting yang harus ditanamkan dalam jiwa dengan kuat, sekuat gunung yang menjulang. Yaitu, barangsiapa memanfaatkan detik-detik umurnya dalam ketaatan kepada Rabb- nya dan menggunaka n hitungan usianya yang terbatas dalam perkara-perkara yang diridhai oleh Rabb dan Penciptanya, niscaya Allah akan memberinya keteguhan dan khusnul khatimah pada saat kematian. Ini tidaklah aneh. Karena barangsiapa menjaga Allah subhanahu wa ta’ala dalam suka, maka Dia akan menaga dan memeliharanya pada saat duka dan susah, dan saat-saat duka paling besar adalah saat-saat menjelang kematian. Apabila Anda ingin bukti nyata tentang hakikat besar ini, maka bacalah contoh- contoh yang cemerlang dan bentuk- bentuk yang gemilang dari akhir kehidupan orang-orang yang baik lagi bertakwa. Al-Jariri berkata, “Saya berada di kepala Junaid ketika menjelang kematiannya. Pada saat itu, dia sedang membaca Al- Quran dan saya berkata kepadanya, “Kasihanilah dirimu.” (Yakni, jangan engkau memberatkan dirimu dengan membaca Al-Quran pada saat ajal menjemput). Dia menjawab, “Apakah ada orang yang lebih membutuhkan pahala dariku pada saat seperti ini, dan inilah diriku. Buku catatan amalku hampir ditutup.” Al-Jariri berkata, “Junaid telah mengkhatamkan Al- Quran, dia kemudian memulai lagi dengan surat Al-Baqarah dan telah membaca tujuh puluh ayat, kemudian dia wafat.” (Thabaqat Asy-Syafi’iyyah, As-Subki, juz 4). Betapa mulia akhir hidupnya. Betapa indah penghujung hidup seorang hamba shalih yang menjaga waktunya untuk ketaatan kepada Tuhannya. Seorang hamba shalih, Amir bin Abdul Qais rahimahullah sedang dalam keadaan sakit yang dekat dengan kematian. Kesulitan-kesulitan dan sakaratul maut-pun telah turun kepadanya. Lalu dia mendengar adzan shalat Maghrib, maka Amir memiinta orang-orang yang berada di sekelilingnya untuk membawa ke masjid agar bisa meaksanakan shalat berjamaah. Ketika dia shalat di belakang imam dan bersujud pada rakaat pertama, Allah memanggilnya, sementara dia dalam keadaan sujud (Syiar A’lamin Nubala, 5/22). Berbahagialah hamba yang shalih ini. Ia wafat dalam keadaan bersujud kepada Allah. Maka pada hari Kiamat dia dibangkitkan dalam keadaan sujud kepada Allah Ta’ala. Ibnul Ammad Al-Hambali menyebutkan, bahwa Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah adalah orang yang selalu memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala. Hingga dia meninggal dalam keadaan bertasbih yang dia hitung dengan jarinya (Syadzarat Adz-Dzahab, Ibnul Ammad Al-Hambali, juz 5). Benar, meraka adalah para pemimpin kebaikan. Maka mereka mendapatkan balasan kebaikan, bahkan lebih. Imam Abu Ishak An-Naisaburi rahimahullah sedang menghadapi ajalnya. Sepanjang hari itu dia berpuasa. Dia berakta kepada anaknya, “Buka kelambu,” kemudian dia berkata lagi, “Saya haus.” Lalu anaknya membawakan air untuknya. Abu Ishak berkata, “Apakah matahari telah terbenam?” Anaknya menjawab, “Belum.” Maka Abu Ishak mengembalikan air tersebut, lalu dia berkata, “Untuk seperti inilah hendaknya orang-orang beramal.” Kemudian ruhnya pergi kepada Tuhannya (Tarikh Baghdad, Al-Khatib Al-Baghdadi, juz 6). Saudaraku, inilah akhir hidup orang- orang shalih yang menjaga waktu mereka. Apakah Anda tidak merindukan akhir hidup seperti mereka? Jika ya, maka maksimalkanlah usia Anda dan bersegeralah melaksanakan ketaatan. Karena, barangsiapa berjalan di jalan semestinya, niscaya dia akan sampai di tujuan dan barangsiapa bersungguh- sungguh, niscaya ia akan berhasil. Sumber: 125 Kiat Orang-orang Terdahulu Menjadikan Waktu Produktif,
Tuesday, December 4, 2012
10 HAL YANG TIDAKBERMANFAAT DANSIA – SIA
Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan bahwa ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat. Pertama ..: memiliki ilmu namun tidak diamalkan. Kedua ..: beramal namun tidak ikhlas dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga ..: memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat. Keempat ..: hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah. Kelima ..: badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah. Keenam ..: cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah- Nya. Ketujuh ..: waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah. Kedelapan ..: pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat. Kesembilan ..: pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu. Kesepuluh ..: rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati. Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: HATI YANG SELALU LALAI DAN WAKTU YANG TERSIA-SIAKAN. Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan- angan. Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam. Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.
LUPA SESUATU SANG IMAM MENYURUH SHOLAT
Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Imam Abu Hanifah, mengadukan kepadanya tentang harta yang ia simpan namun ia lupa tempat menaruhnya. Maka Imam Abu Hanifah menyuruhnya untuk shalat malam sampai subuh, insya Allah dia akan ingat. Benarlah, ternyata ketika shalat, dia ingat tempat harta tersebut disimpan, lalu ia ambil. Paginya ia menemui Imam Abu Hanifah dan b ertanya, kok bisa tahu kalau ia bakal ingat tempat harta tersebut disimpan? Maka dijawab oleh Al Imam: “Karena aku tahu bahwa setan tidak akan membiarkanmu meneruskan shalat, sehingga ia mengalihkanmu dari shalat dengan dengan mengingat tempat hartamu itu.”
PEMUDA SHOLEH DAN AHLI IBADAH ITU BERNAMA RABI’ BIN KHAITSAM
Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat keduapuluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya , “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!” Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar. Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak- anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama. Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’. Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya. Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid. Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi’, “Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?” “Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam. “Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir. Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya. Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, “Wahai saudari, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?! “Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini ?! “Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!” Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah. Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, “Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat!” Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir. Wallahu a’lam bishawab …
TENTANG PRESIDEN DR.MURSY
Wahai DR Muhammad Mursy Kamu diktator pertama yang melarang memenjarakan jurnalis … Meskipun ia menghinamu dengan hinaan yang menjijikkan Lalu ia menyebarkan penghinaan itu Kamu diktator pertama yang membiarkan Anakmu pergi ke Negara arab lain Seperti anak-anak mesir lainnya Sebab alasan mencari rezeki Kamu diktator pertama yang membiarkan Saudari kandungmu meninggal dunia Karena menderita sakit parah di rumah sakit umum Tanpa memberikan layanan pengobatan khusus Kamu diktator pertama yang dijelek- jelekka n Dicaci maki dan dihina-hina oleh Koran dan televisi Yang dibiayai oleh para kroni Husni Mubarak Tapi kamu tidak melarang dan mencegahnya Kamu diktator pertama yang tinggal di rumah kontrakan Dikawasan yang sederhana jauh dari pusat kota Dan menolak tinggal di istana Negara Kamu diktator pertama yang bersedia Bertemu mendengar dan berdialog Dengan para penentangmu Kamu diktator pertama yang melarang istrimu Tampil di televisi, Koran dan majalah Bahkan dalam berita sederhana Di sebuah siaran berita sekalipun Kamu diktator pertama yang melaporkan Jumlah harta kekayaanmu Sebelum menerima jabatan sebagai presiden Kamu diktator pertama yang menarik kembali Keputusanmu memindahkankan profesi jaksa agung Tanpa harus merasa rendah diri dan malu Kamu diktator pertama yang mengusahakan Undang-undang yang mengurangi wewenangmu Dan dibagi kepada Perdana Menteri Dan pimpinan parlemen Wahai presiden yang mulia Engkau telah membuat diktatorisme baru Selamat datang wahai presiden Kami berharap engkau tidak pelit Memberikan kami kediktatoranmu
ALIM ULAMA BERKATA TENTANG CINTA
Imam Ibnu Qayyim mengatakan, “Tidak ada batasan cinta yang lebih jelas daripada kata cinta itu sendiri; membatasinya justru hanya akan menambah kabur dan kering maknanya. Maka batasan dan penjelasan cinta tersebut tidak bisa dilukiskan hakikatnya secara jelas, kecuali dengan kata cinta itu sendiri. Ar Rabi’ bin Anas rahimahullah Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya. Salman al Farisi radhiyallahu ‘anhu Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya. Malik bin Dinar rahimahullah Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu. Ibnu Qayyim rahimahullâh tentang cinta yang terpuji dalam kitab ad-Dâ’ wa ad-Dawâ’ (Penyakit dan Obat): “Cinta yang terpuji adalah cinta yang memberikan manfaat kepada orang yang merasakan cinta itu untuk kebahagiaan dunia dan akhiratnya. Cinta inilah yang menjadi asas kebahagiaan. Sedangkan cinta bencana adalah cinta yang membahayakan pelakunya di dunia maupun akhirat dan membawanya ke pintu kenistaan serta menjadikannya asas penderitaan dalam jiwanya.” Ibnu Qayyim rahimahullâh “Cinta membangkitkan jiwa dan menata prilaku. Mengungkapkannya adalah suatu kewajaran dan memendamnya menjadi beban.” Lalu, beliau berkata: “Mereka berucap: ‘Kita tidak memungkiri kerusakan cinta jika terbumbui oleh perbuatan tercela kepada sesama makhluk. Yang kita dambakan adalah cinta suci dari seorang laki-laki idaman yang selalu komitmen kepada agama, kehormatan, dan akhlak. Jangan sempat cinta itu menjadi jurang pemisah antara menusia dengan Khaliq-nya dan menyebabkan antara pecinta dengan yang dicintainya jatuh ke dalam perbuatan nista. “Cinta itu mensucikan akal, mengenyahkan kekhawatiran, memunculkan keberanian, mendorong berpenampilan rapi, membangkitkan selera makan, menjaga akhlak mulia, membangkitkan semangat, mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, serta menjaga adab dan kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah.”
KEMATIAN YANG KALIAN BERUSAHA LARI DARINYA
Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.” Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kalian senantiasa berusaha lari darinya, maka dia pasti menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan k epada Dzat yang mengetahui perkara gaib dan perkara yang tampak, lalu Allah akan memberitakan kepada kalian apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8) Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap jiwa pasti merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran: 185) Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2) Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kematian.” (QS’ al-Hijr: 99) Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102) Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan olehnya untuk hari esok…” (QS. Al-Hasyr: 18) Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berbekallah kalian, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kalian kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” (QS. Al- Baqarah: 198) Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Tidak ada waktu bagi seorang mukmin untuk bersantai-santai kecuali ketika dia sudah berjumpa dengan Allah.” Suatu ketika ada yang berkata kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, “Wahai Abu Sa’id, apa yang harus kami perbuat? Kami berteman dengan orang- orang yang senantiasa menakut-nakuti kami sampai-sampai hati kami hendak melayang.” Maka beliau menjawab, “Demi Allah! Sesungguhnya jika kamu berteman dengan orang-orang yang senantiasa menakut-nakuti dirimu hingga mengantarkan dirimu kepada keamanan, maka itu lebih baik daripada kamu bergaul dengan teman- teman yang senantiasa menanamkan rasa aman hingga menyeretmu kepada situasi yang menakutkan.” Seorang penyair mengatakan: Wahai anak Adam, engkau terlahir dari ibumu seraya melempar tangisan Sedangkan orang-orang di sekelilingmu tertawa gembira Maka, beramallah untuk menyambut suatu hari tatkala mereka melempar tangisan Yaitu hari kematianmu, ketika itu engkaulah yang tertawa gembira Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang senantiasa mengingat waktu datangnya kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak mengingat kematian kecuali akan tampak buahnya di dalam amal perbuatannya.” Syaikh Abdul Malik al-Qasim berkata, “Betapa seringnya, di sepanjang hari yang kita lalui kita membawa [jenazah] orang-orang yang kita cintai dan teman-teman menuju tempat tinggal tersebut [alam kubur]. Akan tetapi seolah-olah kematian itu tidak mengetuk kecuali pintu mereka, dan tidak menggoncangkan kecuali tempat tidur mereka. Adapun kita; seolah-olah kita tak terjamah sedikit pun olehnya!!” ‘Amar bin Yasir radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat dan pelajaran. Cukuplah keyakinan sebagai kekayaan. Dan cukuplah ibadah sebagai kegiatan yang menyibukkan.” al-Harits bin Idris berkata: Aku pernah berkata kepada Dawud ath-Tha’i, “Berikanlah nasehat untukku.” Maka dia menjawab, “Tentara kematian senantiasa menunggu kedatanganmu.” Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Barangsiapa yang banyak mengingat kematian niscaya akan menjadi sedikit kegembiraannya dan sedikit kedengkiannya.” Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Aku senang dengan kemiskinan, karena hal itu semakin membuatku merendah kepada Rabbku. Aku senang dengan kematian, karena kerinduanku kepada Rabbku. Dan aku menyukai sakit, karena hal itu akan menghapuskan dosa-dosaku.” Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah aku melihat sebuah perkara yang meyakinkan yang lebih mirip dengan perkara yang meragukan daripada keyakinan manusia terhadap kematian sementara mereka lalai darinya. Dan tidaklah aku melihat sebuah kejujuran yang lebih mirip dengan kedustaan daripada ucapan mereka, ‘Kami mencari surga’ padahal mereka tidak mampu menggapainya dan tidak serius dalam mencarinya.” Salah seorang yang bijak menasehati saudaranya, “Wahai saudaraku, waspadalah engkau dari kematian di negeri [dunia] ini sebelum engkau berpindah ke suatu negeri yang engkau mengangan-angankan kematian akan tetapi engkau tidak akan menemukannya.” Ibnu Abdi Rabbihi berkata kepada Mak- hul, “Apakah engkau mencintai surga?” Mak-hul menjawab, “Siapa yang tidak cinta dengan surga.” Lalu Ibnu Abdi Rabbihi pun berkata, “Kalau begitu, cintailah kematian; karena engkau tidak akan bisa melihat surga kecuali setelah mengalami kematian.” Sumber: Aina Nahnu min Ha’ula’i, Jilid 1. Karya Abdul Malik al-Qasim