Sunday, December 27, 2009

[oase] [resend] Kisah Sahabat: Teladan dari Dua Umar

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Ahad, 16 Januari 2005, oleh: abufaiz97
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=483

Kisah Sahabat: Teladan dari Dua Umar

Teladan dari Dua Umar

Umar bin Abdul Aziz membersihkan kedua tangannya. la berdiri. Di depannya nampak makam Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah sebelumnya. Berdasarkan wasiat al marhum, Umar bin Abdul Aziz menduduki jabatan khalifah. Baru saja Umar bangkit berdiri, tiba-tiba ia mendengar suara riuh. "Ada apa?", tanya Khalifah kedelapan Bani Umayyah itu heran.

"Ini kendaraan Anda, wahai Amirul Mukminin," ujar salah seorang sambil menunjuk sebuah kendaraan mewah yang khusus disiapkan untuk sang khalifah.

Dengan suara gemetar dan terbata bata karena kelelahan dan kurang tidur, Umar berkata, "Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah kendaraan ini. Se¬moga Allah memberkahi kalian." Lalu ia berjalan ke arah seekor keledai yang menjadi tunggangannya selama in!

Baru saja ia duduk di atas punggung hewan itu, serombongan pengawal datang berbaris mengawal di belakangnya. Di tangan masing masing tergenggam tombak tajam mengkilat. Mereka siap menjaga sang
khalifah dari marabahaya.

Melihat keberadaan pasukan itu, Umar menoleh heran dan berkata, "Aku tidak membutuhkan kalian. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum Muslimin. Aku berjalan pagi hari dan sore hari sama seperti rakyat biasa."

Selanjutnya, Umar berjalan bersama o¬rang prang menuju masjid. Dari segala penjuru orang orang pun berdatangan. Ketika mereka sudah berkumpul, Umar bin Abdul Aziz berdiri. Setelah memuji Allah dan ber¬shalawat pada Nabi dan para sahabatnya, ia berkata, 'Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuan terlebih dulu, memintanya atau pun ber¬musyawarah dulu dengan kaum Muslimin. Sesungguhnya, aku telah melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku. Untuk selanjutnya silakan pilih dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridhai.'

Mendengar ucapannya itu, orang orang pun berteriak dengan satu suara, "Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin. Kami ridha terhadapmu. Aturlah urusan kami dengan karunia dan berkah Allah.'

Banyak hal yang bisa kita teladani dari sikap hidup Umar bin Abdul Aziz. Selain sikap zuhud dan kesederhanaan, kita juga belajar wara' (menjauhi syubhat). Kisah dirinya ketika memadamkan lampu minyak saat menerima kedatangan anaknya, diabadikan oleh sejarah. la tak mau menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi atau keluarga.

Kits bandingkan dengan sikap pemimpin saat ini. Sulit membedakan mana harta mereka pribadi dan mana milik pemerintah. Berapa banyak para pejabat yang tetap menggunakan fasilitas negara saat kampanye yang nota bene untuk kepentingan sendiri.

Begitu pun setelah mereka berkuasa. Bahkan, mereka yang selama ini dikenal dekat dengan rakyat menjadi jauh. Akibatnya, mereka sendiri merasa tidak aman. Kemana pun pergi selalu dijaga ketat oleh para pengawal.

Kenyataan ini akan sangat bertolak belakang jika kita tengok jauh lagi ke belakang. Pada akhir abad 17 Hijriyah, misalnya. Saat itu kaum Muslimin sebenarnya sedang menikmati kemenangan pasukan mereka di Irak dan Syam. Namun di tengah kegembiraan itu, mereka dikejutkan oleh datangnya musim kemarau berkepanjangan. Selama sembilan bulan hujan tak turun. Bumi gersang dan penuh debu. Hewan dan tanaman menjadi korban.

Kondisi Madinah tak terlalu buruk. Di bawah pemerintahan Umar bin Khaththab, Khalifah Kedua setelah Rasulullah saw wafat, penduduk Madinah dibiasakan menyimpan makanan. Akibatnya, dari berbagai daerah masyarakat datang berbondong bondong, mengungsi di kota Nabi itu. Selama beberapa saat Madinah bisa bertahan. Tapi lama kelamaan penduduknya makin tertekan. Mereka mulai kekurangan bahan makanan. Lalu apa yang dilakukan Umar bin Khaththab kala itu?

Ketika kelaparan mencapai puncaknya, Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang Badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum Badui itu melakukannya lebih dahulu. Orang Badui sepertinya benar benar menikmati makanan itu. "Agaknya, Anda tak pernah mengenyam lemak?" tanya Umar.

"Benar," kata Badui itu. "Saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang orang memakannya sampai sekarang," tambahnya.

Mendengar kata kata sang Badui, Umar bersumpah tidak akan memakan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat ini, "Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya," ujar Umar.

Padahal, saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada di tangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Kita diberikan pelajaran sangat berharga oleh dua Umar. Dengan meneladani kehidupan dua khafrfah itu, para pemimpin akan merasakan penderitaan rakyat. Perasaan inilah yang akan melipatgandakan perjuangannya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin akan bisa berjuang kalau ia sendiri tak merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sikap zuhud dan kedekatan dengan rakyat ini akan menenteramkan masyarakat. Kedekatan pada rakyat akan melahirkan kecintaan. Bayangkan dengan diri Rasulullah saw. Bagaimana mungkin rakyat tidak dekat dengannya kalau menjelang ajal pun beliau masih menyebut nyebut, "Ummati, ummati, ummati (umatku, umatku, umatku)." Kepedulian Rasulullah saw pada umatnya nyaris tak berbalas.

Kecintaan inilah yang akan menciptakan rasa aman. Kedekatan dengan rakyat berbanding lurus dengan tingkat kenyamanan seorang pemimpin. Semakin dekat dirinya dengan rakyat, semakin tinggi juga tingkat rasa aman dirinya. Inilah yang menjelaskan mengapa kedua Umar, baik Umar bin Abdul Aziz maupun Umar bin Khaththab tak pernah mau dikawal. Mereka tak memerlukan pengawal karena merasa dirinya aman. Mereka terbiasa berkeliling di tengah gelapnya malam. Mereka juga biasa tidur tiduran di tempat umum. Tak ada rasa takut dan khawatir dalam diri mereka. Penyebabnya: mereka berlaku adil, bersih, dekat dengan rakyat, maka rakyat pun mencintainya.

[Sabili


-------------------------------------------------------------
Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs

Tuesday, December 22, 2009

[oase] [resend] Kisah Sahabat: Said bin Amir, gubernur yang masuk dalam daftar orang miskin

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Selasa, 23 September 2003, oleh: abufaiz97
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=75

Kisah Sahabat: Said bin Amir, gubernur yang masuk dalam daftar orang miskin

Sumber: Tarbawi

Khalifah Umar bin Khattab berniat menggantikan gubernur Syam yang semula dipercayakan kepada Muawiyah. Penggantinya yang diinginkan Khalifah adalah Said bin Amir Al-Jumahi. "Aku ingin memberimu amanah menjadi gubernur," kata Umar kepada Said. Said berkata, "Jangan kau jerumuskan aku ke dalam fitnah, wahai Amirul Mukminin. Kalian mengalungkan amanah ini di leherku kemudian kalian tinggal aku." Umar mengira bahwa Said menginginkan gaji, "Kalau begitu, kita berikan untukmu gaji." Said menjawab, "Allah telah memberiku rizki yang cukup bahkan lebih dari yang kuinginkan."

Begitulah kursi gubernuran yang ditolak oleh Said dengan halus. Walau akhirnya dia harus menunjukkan ketaatannya kepada Khalifah dengan menaati keinginan Umar yang tetap bersiteguh untuk mengangkatnya sebagai gubernur Syam.
Akhirnya hari yang ditentukan untuk keberangkatannya ke Syam tiba. Dari Madinah dia berangkat beserta istrinya menuju tempat tugasnya yang baru.

Sesampainya di Syam, Said memulai hari-harinya dengan amanah baru, menjadi gubernur Syam. Hingga suatu saat Said terlilit kebutuhan yang memerlukan uang. Sementara tidak ada uang pribadinya yang bisa dia pakai. Sementara itu di Madinah Umar mendapatkan tamu utusan dari Syam. Mereka datang untuk melaporkan beberapa kebutuhan dan urusan mereka sebagai rakyat yang hidup di bawah kekhilafahan Umar bin Khattab.

Umar berkata, "Tuliskan nama-nama orang miskin di tempat kalian."

Mereka pun menuliskan nama-nama orang yang membutuhkan bantuan dari negara. Tulisan itu diserahkan kepada Umar. Dengan agak terkejut, Umar menemui sebuah nama. Said.

"Apakah ini Said gubernur kalian?"

"Ya, itu Said gubernur kami." "Dia termasuk daftar orang-orang miskin?" tanya Umar lagi mempertegas.

"Ya," jawab mereka meyakinkan.

Umar kemudian mengambil sebuah kantong dari kain yang terikat ujungnya. "Berikan ini kepada gubernur kalian," kata Umar sambil memberikan kantong itu kepada mereka.

Rombongan itu akhirnya kembali ke Syam. Setelah sampai, mereka menyampaikan amanah dari Umar itu kepada Said gubernur mereka.

Sore harinya Said pulang ke rumah. Dia membuka kantong tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Dan ternyata kantong tersebut berisi uang seribu dinar. Jumlah yang tidak sedikit. "Innalillahi wainna ilaihi rojiun," katanya lirih. Ternyata istrinya mendengar perkataan tersebut. "Apakah amirul mukminin meninggal?" tanya istrinya. "Tidak, tetapi musibah yang lebih besar dari itu," kata Said. "Maukah engkau membantuku?" sambung Said. "Tentu," jawab istrinya. "Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku," kata Said.

Esok paginya, Said memanggil orang kepercayaannya untuk membagikan uang itu kepada para janda, anak yatim dan orang miskin yang membutuhkan. Tanpa tersisa sedikit pun. Barulah istrinya memahami kata-kata Said, "Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku."

Begitulah. Dan memang Said selalu berusaha untuk menjadikan dunia yang dimilikinya untuk membeli akhirat. Agar mendapatkan bidadari surga.

Ketika suatu hari istrinya menuntut uang yang diberikan dari kakhilafahan, sementara uang itu telah habis disumbangkan kepada orang lain. Hingga tuntutannya itu membuat Said tersiksa. Said berusaha menghindari istrinya beberapa hari dengan selalu pulang malam. Agar dia tidak mendengar lagi tuntutan istrinya.

Sampai istrinya akhirnya tahu bahwa hartanya telah habis dibagikan cuma-cuma. Sang istri menangisi kepergian harta itu. Dan inilah yang dikatakan Said kepada istri tercintanya, "Sebenarnya istriku, dulu aku mempunyai teman-teman yang kini telah lebih dulu meninggalkanku. Aku tidak rela setelah mereka pergi aku bergelimang harta. Dan kemudian bidadari surga itu jika muncul di langit dunia akan menerangi seluruh penduduk bumi dan sinarnya itu akan memadamkan sinar matahari dan rembulan. Pakaian yang dia pakai lebih baik daripada dunia seisinya. Maka aku lebih memilih dirimu untuk menjadi bidadariku di surga nanti." Kata-kata ini membuat istrinya Said ridho.

Kehidupan seorang gubernur Said bin Amir tidak hanya terhenti sampai tingkat kesenangannya membagikan harta. Kalau kita menengok dalam rumahnya lebih ke dalam lagi, kita akan menjumpai kehidupan seorang gunernur yang tak kita jumpai hari ini. Gubernur yang sangat zuhud kepada dunia, tidak merasa begitu perlu dengan harta, maka mustahil kalau dia rela memakan harta rakyatnya.

Inspeksi mendadak yang dilakukan Umar ke Syam akan mengantarkan kita kepada kisah-kisah dalam rumah tangga Said. Begitu sampai Himsa, Umar mengumpulkan penduduk kota tersebut dan bertanya, "Wahai penduduk Himsa, bagaimana kalian mendapati gubernur kalian?" Jawaban mereka cukup mengejutkan, "Kami mengeluhkan empat hal. Pertama, dia selalu keluar kepada kami setelah siang datang." "Ini berat," kata Umar. "Kemudian apa?" tanya Umar kembali.

"Kedua, dia tidak melayani siapa pun yang datang malam hari."

"Ini juga masalah serius, kemudian apa lagi?"

"Ketiga, ada satu hari dalam satu bulan dimana dia tidak keluar sama sekali untuk menemui kami."

"Ini tidak boleh dianggap enteng, kemudian yang keempat?"

"Dia terkadang pingsan ketika bersama kami."

Mendengar aduan ini, Umar tidak bisa tinggal diam. Dia merasa perlu untuk cepat menyelesaikan permasalahan yang timbul antara pejabatnya itu dengan rakyatnya. Itulah pemimpin mulia yang langsung mendengar masalah rakyatnya dan langsung memberikan solusi konkrit dan bukan pepesan kosong serta janji memuakkan. Umar membuat pertemuan akbar antara Said sebagai gubernur dan rakyatnya yang siap mengadili gubernur mereka.

"Ya Allah, jangan Engkau kecewakan prasangka baikku selama ini kepadanya."

Kata Umar membuka pertemuan, "Baiklah, apa yang kalian keluhkan?"

"Pertama, Said tidak keluar menemui kami kecuali setelah siang datang menjelang."

Said angkat bicara, "Demi Allah sesungguhnya aku tidak suka menjawabnya. Aku tidak mempunyai pembantu, maka aku harus mengadoni roti sendiri, kemudian aku tunggu sampai adonan itu mengambang dan kemudian aku panggang hingga menjadi roti, kemudian aku wudhu dan baru keluar.'

"Terus apa lagi?"

"Kedua, Said tidak mau melayani yang datang kepadanya di malam hari."

"Apa jawabmu, wahai Said?"

"Sesungguhnya aku tidak suka menjawabnya. Aku menjadikan siang hariku untuk mereka dan aku menjadikan malamku untuk Allah Azza Wajalla saja."

"Kemudian apa lagi?"

"Ada satu hari tertentu dimana dia tidak keluar sama sekali dari rumahnya."

"Apa komentarmu?"

"Aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku. Sementara aku tidak memiliki pakaian yang lain. Maka aku mencucinya sendiri dan aku tunggu sampai kering, selanjutnya aku keluar kepada mereka saat sudah sore."

"Selanjutnya apa lagi?"

"Said suka pingsan."

"Aku menyaksikan meninggalnya Khubaib Al-Anshari di Mekah. Kematiannya sangat tragis di tangan orang-orang kafir Quraisy. Mereka menyayat-nyayat dagingnya kemudian menyalibnya di pohon kurma. Orang Quraisy itu meledek, "Khubaib, apakah kamu rela jika Muhammad sekarang yang menggantikanmu untuk disiksa?" Khubaib menjawab, "Demi Allah, kalau saya berada tenang dengan keluarga dan anakku, kemudian Muhammad tertusuk duri sungguh aku tidak rela." Ketika itu aku masih dalam keadaan kafir dan menyaksikan Khubaib disiksa sedemikian rupa. Dan aku tidak bisa menolongnya. Setiap ingat itu, aku sangat khawatir bahwa Allah tidak mengampuniku untuk selamanya. Jika ingat itu, aku pingsan."

Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan prasangka baikku kepadanya."

Sunday, December 20, 2009

[oase] (3 dari 6) Aliansi Mengerikan antara Darwinisme dan Fasisme [1 Attachment]

PDF File attached.

-----
Wassalam
Webmaster Oase Qalbu
http://www.oaseqalbu.net

Thursday, December 17, 2009

[oase] Lembar Jum'at: Bisikan Setan pada Penguasa

Archive update by: abufaiz97, 18 December 2009, 01:49:19 WIB
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=765

Lembar Jum'at: Bisikan Setan pada Penguasa

"Sesungguhnya setan itu berjalan menurut aliran darah anak Adam.
Sesungguhnya aku khawatir setan menyusupkan kejahatan ke dalam hati
kalian." (HR. Muslim)

Setan selalu menemukan jalan untuk membisikkan godaannya. Terlebih pada
penguasa. Ditiup-tiupkan keutamaan, bahwa mereka adalah pilihan Allah,
jika tidak mana mungkin Allah member takdir kemenangan dan kekuasaan.
Kerajaan dan singgasana tidak akan turun kecuali atas kehendak Allah.
Dan para penguasa mengira, semua amal kebaikan, semua keutamaan yang
pernah dilakukannya yang mengantar Allah menurunkan kemenangan.

Tapi sungguh, banyak peristiwa sejarah telah mengajarkan pada manusia,
bahwa tidak jarang Dia menurunkan kekuasaan kepada orang-orang yang
zalim agar dosa mereka terus menggunung dan bertambah. Agar mereka tak
menemukan jalan keluar dan tertimbun dengan banyak kesalahan yang mereka
sangka sebagai kebaikan.

Banyak sekali orang-orang zalim diberi kekuasaan, lalu mereka berbuat
zalim pada orang-orang shalih yang mengatakan dan berpihak kepada
kebenaran. Sehingga, tidak sedikit pun dari apa yang diberikan Allah
kepada mereka tidak berbuah kecuali keburukan.

"Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian
tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya
Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa
mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan." (Q.S Ali Imran: 179)

Malang benar jika ternyata Allah member tangguh dan member kekuasaan
kepada kita hanya untuk bertambah berat timbangan dosa dan bertambah
besar kesalahan yang kita lakukan. Kekuasaan adalah pemantik kecil dari
dosa-dosa besar yang akan dilakukan siapa pun yang tidak berpegang teguh
kepada tali Allah.

Iblis membisikkan kalimat panas di telinga para penguasa, bahwa tidak
mungkin mereka berkuasa tanpa pamor dan daya pikat yang lahir atas
kekaguman manusia. Maka setiap penguasa digelitik oleh kalimat-kalimat
yang tanpa sadar telah membuatnya takabur dan merasa mulia. Karena
ketinggian semu yang mereka rasakan, mereka enggan menuntut ilmu dan
belajar atas kebenaran.

Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis mengatakan, "Penguasa-penguasa
seperti ini enggan duduk bersama ulama yang shalih. Mereka tak mau
mengamalkan pendapat ulama-ulama yang benar.Lalu mereka jauh dari agama."

Jika seorang penguasa mendekat dan duduk tak berjarak dengan para ulama
yang bekerja untuk dan hanya demi kebenaran, maka tabiat-tabiat
kebenaran akan menjadi milik penguasa. Tapi jika seoarang penguasa jauh
dari orang-orang yang menjaga kebenaran, dan sebagai gantinya mereka
justru akrab dengan kaum yang hanya pandai menjilat, maka kebenaran
hanya sebuah lipstick palsu yang berfungsi menutup kezaliman.

Maka dengan sendirinya, ketika mereka jauh dengan kebenaran, secara
otomatis mereka akan memusuhi kebenaran. Dan ketika kebenaran sudah
menjadi musuh, sungguh hanya Allah yang mampu menolong mereka keluar
dari kegelapan.

Pada para penguasa, iblis selalu mengulang-ulang bisikan ancaman
kekalahan, dan ketakutan pada lawan. Satu-satunya kekuatan yang mereka
punya justru bukan pada Allah yang Maha Mengetahui Segalanya, tapi takut
pada musuh dan kekalahan yang mengancam mereka. Mereka berbuat apa saja
demi menjaga kemenangan. Mereka mampu melakukan apa saja demi
mempertahankan kekuasaan agar tetap dalam genggaman.

Semakin menjadi ketakutan mereka pada kekalah, semakin besar kekuatan
iblis pada penguasa-penguasa yang zalim. Sehingga semakin tipis
ketakutan mereka pada kebenaran Allah yang mutlak dan absolute.
"Barangsiapa yang diangkat Allah menjadi waliyul amri dari sebagian
urusan orang-orang muslim, lalu dia tidak memenuhi kebutuhan, keperluan
dan kefakiran mereka, maka Allah azza wa jalla tidak akan memenuhi
kebutuhan, keperluan dan kefakirannya." (HR Abu Daud, Al Hakim dan
Tharbrani)

Jika Allah tidak memenuhi kebutuhan dan keperluan kita, serta tidak juga
menutupi kefakiran kita, lalu siapa yang akan menolong kita? Apakah
mereka mengira ada penolong selain Allah?

Penguasa-penguasa yang takutnya pada kekalahan melebihi takut mereka
pada Allah, pasti mereka akan mengangkat dan bekerja sama dengan
orang-orang yang kurang lebih sama derajatnya. Iblis membujuk mereka
mengikuti hasil pikiran dan rekayasa yang hanya berujung pada kezaliman
yang kian melimpah. Politik dan posisi menjadi pertimbangan utama setiap
tindakan yang mereka lakukan. Sebaliknya, hukum Allah dan syariat islam
menjadi barang jualan demi mencapai kepentingan.

Harta dan tahta adalah pintu masuk yang akan digunakan iblis untuk
menipu manusia. Disiapkannya berjuta perangkap, agar harta dan tahta
Nampak baik dan melahirkan kebaikan. Yang celah ditutupi dan terlihat
rapi. Yang rusak dimanipulasi agar nampak indah. Iblis mampu
melakukannya dengan pembenaran-pembenaran yang tidak pernah terpikirkan
oleh manusia.

Apa yang lebih berat dalam hidup ini jika ditimbang dengan pengkhianatan
kepada Allah SWT? Dan para penguasa itu dengan beribu-ribu pengkhianatan
mereka masih berani mengatakan berdiri dalam jalam kebenaran?

Setan telah membuat para penguasa berjanji. Lalu para penguasa
mengkhianati janji-janji yang diucapkannya sendiri. Iblis telah membuat
banyak penguasa dengan mudah memutar lidah. Tapi lihat nanti, ketika
tiba masa Allah memutar lidah mereka, apakah ada jawaban yang mampu
diberikan?

Malik bin Dinar pernah berkata : "Cukupkan disebut pengkhianat jika ia
melindungi pelaku pengkhianatan."

Apa hari ini yang tidak dilakukan orang-orang yang ingin berkuasa?
Mereka mengkhianati diri sendiri, mereka mengkhianati pengikut dan
rakyatnya, mereka bahkan mengkhianati Allah.

Allah memerintahkan kepada kita untuk berlindung pada-Nya dalam segala
aktivitas. Karena setan senantiasa mengincar tanpa lelahdan tanpa jeda.
Bahkan ketika kita membaca ayat-ayat suci sekalipun. "Apabila kamu
membaca al-Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari
setan yang terkutuk," (Q.S an-Nahl: 98)

Jika kita membaca ayat-ayat Allah yang berisi petunjuk bagi manusia
saja, kita diperintahkan untuk berlindung, apalagi jika kita dalam
kondisi memegang kekuasaan.

Ibnu Mas'ud ra mengatakan bahwa setan mempunyai langkah demi
keberhasilan agenda mereka. "Agenda setan adalah mengembalikan kejahatan
dan mendustakan kebenaran."

Ibnul Jauzi mengibaratkan hati tidak ubahnya seperti sebuah benteng.
Disekeliling benteng itu ada pagar-pagar yang sangat banyak. Dan setiap
pagar yang banyak memiliki pintu-pintu. Pintu dan pagar yang ada dalam
hati manusia memiliki penjaga yaitu akal dan para malaikat.

Benteng-benteng ini, dari waktu ke waktu selalu diserang oleh pasukan
musuh yang bernama setan dan nafsu.

Setan selalu berputar-putar mencari celah kelemahan, dan ketika
melihatnya mereka akan mengirimkan nafsu sebagai gempuran. Mereka tidak
pernah lelah, dan tak memerlukan waktu untuk istirahat.

Seorang ulama, Hassan al Basri pernah ditanya oleh muridnya. "Apakah
setan dan iblis juga tidur?"
"Seandainya mereka tidur, tentu kita bias beristirahat,"ujar Hassan al
Basri. Artinya, penjaga pintu dan pagar yang ada di dalam hati tidak
boleh lengah dan harus berilmu tinggi, agar mereka mengenali setiap
gerakan yang menggoda hati.

Strategi setan yang pertama dilancarkan adalah memperbanyak asap agar
pandangan penjaga hati kabur dan terselimuti. Dan jika pandangan hati
yang benar telah terselimuti kabut godaan setan, maka dengan mudah ia
akan ditaklukkan. Strategi berikutnya, ia akan belajar dari banyak
kejadian yang dialami ketika berinteraksi dengan manusia.

Iblis dan setan pernah berkata, "Ada kalanya aku bertemu manusia dan aku
ajarkan sesuatu pada mereka. Tapi ada kalanya juga aku bertemu manusia
dan aku belajar sesuatu dari mereka."

Mereka pintar, lebih pintar dari manusia. Karena itu ketika berhadapan
dengan orang-orang yang pintar, setan maju dengan membawa mahkota nafsu.
Lalu dia sibuk dengan kepintaran dan pikirannya, sehingga lalai dan
menjadi tawanan dari tujuan besar setan.

Tak banyak orang yang selamat dari serbuan setan, kecuali orang-orang
yang tunduk patuh pada perintah Allah dan mengikuti sunah Rasulullah.
Setiap mukmin harus memiliki baju besi dan tameng pelindung ini. Jika
tidak, mereka akan bertemu Allah dalam keadaan berkhianat atas
ketentuan-ketentuan besar yang telah ditetapkan.

Sumber : Sabili No.22 Th.XVI

Saturday, December 12, 2009

[oase] Hikmah: Janji Bukan Sebatas Ucapan

Archive update by: abufaiz97, 13 December 2009, 00:14:55 WIB
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=764

Hikmah: Janji Bukan Sebatas Ucapan

Oleh Ust. Abu Syauqi M., Lc.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisaa: 145)

DISEBUTKAN dalam sebuah hadits shahih bahwa ciri-ciri orang munafik ada tiga: pertama, apabila ia berbicara ia berdusta; kedua, apabila ia berjanji ia mengingkari; ketiga, apabila diberi amanah ia berkhianat. (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut dapat dilihat bahwa janji bukanlah perkara biasa. Meski demikian, kenyataannya janji sering muncul sebatas ucapan, yang begitu saja mudah dilupakan, seolah tiada bekas sama sekali. Padahal, kedudukan janji sangat tinggi pertanggungjawabannya di sisi Allah. Dalam hadits riwayat Muslim sendiri, orang-orang yang senang mengingkari janji dikategorikan sebagai orang-orang munafik. Selain itu, Al-Quran pun mensinyalirnya sebagai berikut, Orang-orang munafik mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan. (QS. Ali Imran: 167).

Betapa banyak wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada umat-Nya mengingatkan tentang bahaya orang-orang munafik dan balasan yang akan diterimanya, baik pada kehidupan dunia maupun akhirat. Salah satunya dapat kita petik dari surat An-Nisaa ayat 138 yang mengabarkan siksaan yang amat pedih bagi orang-orang munafik.

Hidup manusia tidak pernah luput dari selimut janji. Sejak ruh manusia ditiupkan, manusia telah berjanji kepada Rabb-Nya, kepada Rasul-Nya dan atas konsekuensi dien-nya. Sebuah ucapan kalimat sakti dari setiap hamba sebagai bentuk janji, ikrar diri tentang keesaan Tuhannya.

Kemudian, seorang anak manusia lahir ke dunia. Dalam perkembangannya, manusia akan hidup dalam lingkungan keluarga, menjalankan fungsinya sebagai bagian dari masyarakat, mengemban peran-peran. Di situlah manusia mulai akrab dengan istilah yang disebut janji. Di situ pula kesetiaan seseorang pada ucapannya diuji.

Ucapan menuntut sebuah pembuktian. Pembuktian tentang jaminan kesejahteraan, dan peningkatan kesejahteraan hidup, dan yang lain. Mungkin juga pembuktian atas janji pada diri, keluarga, anak, istri, untuk melakukan perbaikan.

Lisan memang menjadi godaan yang berat. Bukankah semua hal yang kita ucapkan atau bahkan hanya kita simpan dalam hati, akan dipinta pertanggungjawaban oleh Allah?

Tidak dipungkiri, hati kecil sendiri sering berontak dengan pengingkaran-pengingkaran yang kita perbuat. Tapi entah, manusia lebih suka dengan dalih. Ya, segala macam alasan sering terlontar sebagai bentuk pertahanan dari kekerdilan jiwa yang ringkih. Sebagai bentuk pembenaran dari peningkatan yang dibuat sendiri. Kebohongan yang kesekian kali untuk pembenaran diri sendiri. Karena begitu seringnya terjadi atau kita dengar dalam lingkungan hidup kita, tak heran bualan-bualan janji akhirnya berkembang menjadi budaya. Budaya buruk yang terpelihara.

Dalam tatanan sosial, sanksi yang diterima oleh orang-orang yang mengumbar janji, antara lain jatuhnya harga diri seseorang. Kepada orang-orang yang sering berjanji dan sering pula mengingkari, ia tidak akan dipercaya lagi dalam lingkungannya. Apapun yang diucapkan akan dianggap angin lalu yang tidak berguna sekalipun itu sangat penting. Inilah konsekuensi berat yang harus diterima bagi orang-orang yang senang "obral" janji. Orang yang senang mempermainkan janji juga akan tersisih dari lingkungannya.

Lalu, apa yang akan diterima baginya sebagai balasan di akhirat nanti? Dikatakan dalam surat An-Nisaa ayat 145, Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.

Ya, Allah lindungilah kami, hamba-Mu ini dari sifat ingkar janji. Semoga kita terpelihara dari sifat-sifat orang munafik, sifat yang suka mengumbar janji tanpa peduli untuk menepati. Wallahu a''lam.***

Monday, December 7, 2009

[oase] [resend] Kisah Kaum Salaf: Tsabit bin Ibrahim

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Selasa, 23 September 2003, oleh:
abufaiz97

http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=76

Kisah Kaum Salaf: Tsabit bin Ibrahim

Milist Daarut-Tauhiid

Seorang lelaki yang saleh bernama Tsabit bin Ibrahim sedang berjalan di pinggiran kota Kufah. Tiba-tiba dia melihat sebuah apel jatuh ke luar pagar sebuah kebun buah-buahan. Melihat apel yang merah ranum itu tergeletak di tanah terbitlah air liur Tsabit, terlebih-lebih di hari yang sangat panas dan di tengah rasa lapar dan haus yang mendera. Maka tanpa berpikir panjang dipungut dan dimakannyalah buah apel yang terlihat sangat lezat itu. Akan tetapi baru setengahnya di makan dia teringat bahwa buah apel itu bukan miliknya dan dia belum mendapat ijin pemiliknya.

Maka ia segera pergi ke dalam kebun buah-buahan itu dengan maksud hendak menemui pemiliknya agar menghalalkan buah apel yang telah terlanjur dimakannya. Di kebun itu ia bertemu dengan seorang lelaki. Maka langsung saja ia berkata, "Aku sudah memakan setengah dari buah apel ini. Aku berharap Anda menghalalkannya". Orang itu menjawab, "Aku bukan pemilik kebun ini. Aku hanya khadamnya yang ditugaskan merawat dan mengurusi kebunnya".

Dengan nada menyesal Tsabit bertanya lagi, "Dimana rumah pemiliknya? Aku akan menemuinya dan minta agar dihalalkan apel yang telah kumakan ini." Pengurus kebun itu memberitahukan, "Apabila engkau ingin pergi kesana maka engkau harus menempuh perjalanan sehari semalam".

Tsabit bin Ibrahim bertekad akan pergi menemui si pemilik kebun itu. Katanya kepada orangtua itu, "Tidak mengapa. Aku akan tetap pergi menemuinya, meskipun rumahnya jauh. Aku telah memakan apel yang tidak halal bagiku karena tanpa seijin pemiliknya. Bukankah Rasulullah Saw sudah memperingatkan kita lewat sabdanya : "Siapa yang tubuhnya tumbuh dari yang haram, maka ia lebih layak menjadi umpan api neraka."

Tsabit pergi juga ke rumah pemilik kebun itu, dan setiba disana dia langsung mengetuk pintu. Setelah si pemilik rumah membukakan pintu, Tsabit langsung memberi salam dengan sopan, seraya berkata, "Wahai tuan yang pemurah, saya sudah terlanjur makan setengah dari buah apel tuan yang jatuh ke luar kebun tuan. Karena itu sudikah tuan menghalalkan apa yang sudah kumakan itu ?" Lelaki tua yang ada di hadapan Tsabit mengamatinya dengan cermat. Lalu dia berkata tiba-tiba, "Tidak, aku tidak bisa menghalalkannya kecuali dengan satu syarat." Tsabit merasa khawatir dengan syarat itu karena takut ia tidak bisa memenuhinya. Maka segera ia bertanya, "Apa syarat itu tuan?" Orang itu menjawab, "Engkau harus mengawini putriku !"

Tsabit bin Ibrahim tidak memahami apa maksud dan tujuan lelaki itu, maka dia berkata, "Apakah karena hanya aku makan setengah buah apelmu yang jatuh ke luar dari kebunmu, aku harus mengawini putrimu ?" Tetapi pemilik kebun itu tidak menggubris pertanyaan Tsabit. Ia malah menambahkan, katanya, "Sebelum pernikahan dimulai engkau harus tahu dulu kekurangan-kekurangan putriku itu. Dia seorang yang buta, bisu, dan tuli. Lebih dari itu ia juga seorang gadis yang lumpuh !"

Tsabit amat terkejut dengan keterangan si pemilik kebun. Dia berpikir dalam hatinya, apakah perempuan semacam itu patut dia persunting sebagai isteri gara-gara ia memakan setengah buah apel yang tidak dihalalkan kepadanya? Kemudian pemilik kebun itu menyatakan lagi, "Selain syarat itu aku tidak bisa menghalalkan apa yang telah kau makan !"

Namun Tsabit kemudian menjawab dengan mantap, "Aku akan menerima pinangannya dan perkawinannya. Aku telah bertekad akan mengadakan transaksi dengan Allah Rabbul 'Alamin. Untuk itu aku akan memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hakku kepadanya karena aku amat berharap Allah selalu meridhaiku dan mudah-mudahan aku dapat meningkatkan kebaikan-kebaikanku di sisi Allah Ta'ala". Maka pernikahanpun dilaksanakan. Pemilik kebun itu menghadirkan dua saksi yang akan menyaksikan akad nikah mereka. Sesudah perkawinan usai, Tsabit dipersilahkan masuk menemui istrinya. Sewaktu Tsabit hendak masuk kamar pengantin, dia berpikir akan tetap mengucapkan salam walaupun istrinya tuli dan bisu, karena bukankah malaikat Allah yang berkeliaran dalam rumahnya tentu tidak tuli dan bisu juga. Maka iapun mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum…."

Tak dinyana sama sekali wanita yang ada dihadapannya dan kini resmi menjadi istrinya itu menjawab salamnya dengan baik. Ketika Tsabit masuk hendak menghampiri wanita itu, dia mengulurkan tangan untuk menyambut tangannya. Sekali lagi Tsabit terkejut karena wanita yang kini menjadi istrinya itu menyambut uluran tangannya.

Tsabit sempat terhentak menyaksikan kenyataan ini. "Kata ayahnya dia wanita tuli dan bisu tetapi ternyata dia menyambut salamnya dengan baik. Jika demikian berarti wanita yang ada di hadapanku ini dapat mendengar dan tidak bisu. Ayahnya juga mengatakan bahwa dia buta dan lumpuh tetapi ternyata dia menyambut kedatanganku dengan ramah dan mengulurkan tangan dengan mesra pula", kata Tsabit dalam hatinya. Tsabit berpikir mengapa ayahnya menyampaikan berita-berita yang bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya ?

Setelah Tsabit duduk disamping istrinya, dia bertanya, "Ayahmu mengatakan kepadaku bahwa engkau buta. Mengapa ?" Wanita itu kemudian berkata, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah". Tsabit bertanya lagi, "Ayahmu juga mengatakan bahwa engkau tuli. Mengapa?" Wanita itu menjawab, "Ayahku benar, karena aku tidak pernah mau mendengar berita dan cerita orang yang tidak membuat ridha Allah. Ayahku juga mengatakan kepadamu bahwa aku bisu dan lumpuh, bukan?" tanya wanita itu kepada Tsabit yang kini sah menjadi suaminya. Tsabit mengangguk perlahan mengiyakan pertanyaan istrinya. Selanjutnya wanita itu berkata, "aku dikatakan bisu karena dalam banyak hal aku hanya mengunakan lidahku untuk menyebut asma Allah Ta'ala saja. Aku juga dikatakan lumpuh karena kakiku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang bisa menimbulkan kegusaran Allah Ta'ala".

Tsabit amat bahagia mendapatkan istri yang ternyata amat saleh dan wanita yang akan memelihara dirinya dan melindungi hak-haknya sebagai suami dengan baik. Dengan bangga ia berkata tentang istrinya, "Ketika kulihat wajahnya……Subhanallah, dia bagaikan bulan purnama di malam yang gelap".

Tsabit dan istrinya yang salihah dan cantik rupawan itu hidup rukun dan berbahagia. Tidak lama kemudian mereka dikaruniai seorang putra yang ilmunya memancarkan hikmah ke penjuru dunia. Itulah Al Imam Abu Hanifah An Nu'man bin Tsabit.

Wednesday, December 2, 2009

KONTROVERSI FILM 2012

Jarum
jam
baru
menunjuk
angka
11
kurang
sedikit.
Mega
Bekasi XXI, gedung
bioskop dengan tujuh
ruang pertunjukan, yang
berada di lantai V Mega
Bekasi Hyper Mall yang
terletak di depan pintu tol
Bekasi Barat belum
dibuka pintunya. Namun
ratusan orang tua-muda
sudah memadati halaman
depan yang sempit. Walau
ruangan memiliki fasilitas
air-conditioner, namun
udara tetap terasa gerah.
Saking penuhnya, tidak
ada tempat untuk
sekadar duduk
meluruskan kaki.
Pukul 11.05 wib, tiga pintu
kaca serentak dibuka.
Ratusan penonton
berhamburan saling-
berlomba antri di depan
loket tiket yang juga
masih tutup. Antrean
mengular jauh ke
belakang. Salah seorang
petugas keamanan
kepada eramuslim.com
mengaku jika jumlah
penonton film “2012”
besutan sutradara
Hollywood kelahiran
Jerman, Rolland Emerich,
memecahkan rekor
jumlah penonton selama
ini.
“Jumlah penonton Harry
Potter dan Laskar Pelangi
yang banyak itu belum
ada apa-apanya
dibanding antusiasme
penonton sekarang yang
ingin menyaksikan film
2012 itu,” ujar petugas
bioskop sambil mengatur
antrean yang kian
panjang.
Membludaknya jumlah
penonton yang ingin
menyaksikan film yang
biaya produksinya
menelan biaya US $260
juta ini bukan hanya
terjadi di Mega Bekasi XXI
saja, namun nyaris terjadi
di semua gedung bioskop
yang memutarnya di
seluruh dunia. Wajar saja
jika dalam hitungan hari,
laba yang diraup oleh
produsernya amat
banyak. Hanya dalam
waktu tiga hari, film yang
dibintangi aktor John
Cusack ini nyaris sudah
mendekati break event
point, yakni meraup
pendapatan sebesar US
$225 juta.
Menurut hemat penulis,
gegar film 2012
sebenarnya
mengherankan karena
film ini tidak beda jauh
dengan film-film bertema
sama yang lebih dahulu
tayang seperti film The
Day After Tomorrow
(2004) dan Knowing
(2009). Hanya saja patut
diakui jika di film 2012,
spesial efeknya memang
lebih canggih ketimbang
film-film lainnya.
Sedangkan alur cerita
dan plot bisa dibilang
tidak ada yang baru.
Sebab itu, antusiasme
penonton di seluruh dunia
terhadap film ini sangat
mungkin lebih disebabkan
kontroversi tema yang
menjadi fokus utama dari
film yang digarap selama
enam bulan di Vancouver-
Kanada tersebut
ketimbang isi filmnya
sendiri. Apalagi ditambah
dengan adanya segelintir
tokoh masyarakat yang
terprovokasi dengan film
biasa ini dan menyerukan
agar pemerintah
melarang pemutarannya,
seperti yang terjadi di
Malang, Jawa Timur.
Padahal kita sudah
ketahui bersama, jika
logika masyarakat kita
sekarang ini “rada
aneh”: semakin dilarang,
maka produk itu semakin
dicari dan makin laku.
Larangan hanya akan
menambah popularitas
film ini sendiri. Hasilnya
justru akan
kontraproduktif.
Dan satu lagi, ada logika
yang “tidak
nyambung” di sini. Film
2012 jelas-jelas dibuat
oleh Hollywood yang
notabene bukan
diproduksi oleh sineas-
sineas Muslim, jadi pangsa
pasarnya ya pangsa
pasar sekular, demikian
juga visi dan misinya.
Adalah amat naif jika kita
mengharapkan film yang
dibuat oleh kaum kufar
tersebut bisa
mengandung nilai-nilai
Islam. Orang-orang kufar
akan dengan mudah
menjawab, “Mengapa
kalian bisanya mencela
tapi tidak bisa berkarya
seperti kami ?” Kita
harus berendah hati
untuk mengakui jika kita
memang tertinggal
sangat jauh dalam hal
penguasaan teknologi
perfilman dibandingkan
dengan mereka, juga
dalam banyak bidang
lainnya.
Jika pun yang harus
disalahkan dengan
lolosnya film-film yang
dianggap tidak benar di
negara ini, maka bukan
film dan produsernya
yang harus digugat,
tetapi para pejabat di
negara ini yang
membawahi dan
bertanggungjawab atas
peredaran film di
Indonesia-lah yang harus
dimintai keterangannya,
mungkin masyarakat
harus meminta
keterangan kepada
Menkominfo atau
Menbudpar.
Nah, daripada kita
berpolemik yang tak
berkesudahan, ada
baiknya kita secara jernih
menilai, memilah film 2012
ini, dan memisahkannya
antara fakta ilmiah,
dengan mitos yang
disisipkan di dalam film
tersebut. Dan kita juga
harus memberi
pemahaman kepada
saudara-saudara kita
sesama umat Islam
tentang proses hari akhir
— dimana hari kiamat
menjadi salah satu
tahapannya —sesuai
dengan pemahaman Islam
yang lurus. Mari kita
simak paparan di bawah
ini:
Ramalan Suku Maya Soal
21.12.2012
Isu tentang “Kiamat
2012” sangat terkait
dengan ramalan suku
Maya sebagaimana
digambarkan dalam salah
satu penanggalan
kunonya yang
menyatakan jika pada 21
Desember 2012 akan
terjadi pergantian abad
yang ditandai dengan
“ pembersihan bumi”.
Dalam peristiwa ini, umat
manusia akan memulai
satu abad yang sama
sekali baru. Ramalan suku
Maya memang sangat
diperhatikan banyak
kalangan, dari akademisi
hingga kalangan
supranatural, disebabkan
bangsa ini memang
terkenal dengan
keakuratan sistem
penanggalannya.
Lawrence E. Josep, CEO
Aerospace Consulting
Corporation yang
berbasis di New Mexico, di
dalam bukunya yang
terkenal “Apocalypse
2012” (2007) dengan
penuh kekaguman
menulis, “Tanpa
bantuan teleskop atau
peralatan lain, astronom
Maya memperhitungkan
lamanya satu bulan lunar
adalah 29,53020 hari —
hanya berbeda 34 detik
dari apa yang sekarang
kita ketahui sebagai
jangka aktualnya:
29,53059 hari. Secara
keseluruhan, banyak
orang percaya kalender
Maya berusia duaribu
tahun itu lebih akurat
dibanding kalender
Gregorian berusia
limaratus tahun yang kita
gunakan sehari-hari.”
Dan apa yang diramalkan
bangsa Maya ribuan
tahun silam ternyata juga
banyak diprediksi oleh
bangsa-bangsa lain,
misalnya kitab suci
bangsa China I-Ching yang
juga menunjuk tahun
2012 sebagai hari kiamat,
dan sekarang juga
dijadikan patokan bagi
banyak kalangan
akademisi untuk
menunjuk suatu
perubahan drastis bagi
kehidupan di bumi.
“Prediksi di Nature—
mungkin jurnal paling
dihormati di dunia —
menyatakan bahwa
paling tidak tigaperempat
spesies di Bumi akan
musnah setiap 62 sampai
65 juta tahun. Sudah 65
juta tahun sejak bencana
Cretaceous-Tertiary
memusnahkan
dinosaurus, berarti sudah
waktunya kita
menghadapi malapetaka
besar yang tak diragukan
lagi akan menurangi
paling tidak setengah
populasi kita, ” tulis
Lawrence E. Joseph.
Benarkah Suku Maya
menyatakan 21 Desember
2012 sebagai Hari
Kiamat? Ternyata tidak
demikian. Masih menurut
Lawrence E. Joseph, yang
juga dikuatkan oleh
peneliti-peneliti sistem
penanggalan Maya dunia
lainnya seperti Jose
Arguelles, Ph.D; Robert K.
Stiller; dan lain-lain,
mereka menyatakan jika
di paruh akhir tahun 2012
yang akan terjadi
bukanlah kiamat dalam
artian musnahnya seluruh
umat manusia dan
kehidupan di bumi, namun
lebih merupakan satu
perpindahan zaman yang
entah benar atau tidak,
akan diwarnai oleh
bencana alam yang hebat.
Soal bencana alam yang
akan terjadi satu-dua
tahun ke depan,
beberapa lembaga
penelitian dunia yang
secara intens mengamati
dan mempelajari denyut
alam semesta memang
memperkirakan (bukan
meramalkan) akan
terjadinya sejumlah
peningkatan aktifitas
alam semesta, antara lain
peningkatan aktifitas
matahari yang
intensitasnya sangat
mencemaskan.
Salah satu ahli dalam hal
ini, Sami Solanki dari Max
Plank Institute for Solar
System Research yang
bermarkas di Katlenburg-
Lindau, Jerman,
menyatakan jika perilaku
matahari sekarang ini
sangat enerjik.
“ Matahari jauh lebih
aktif saat ini dibanding
kapan pun selama 11.000
tahun terakhir atau akhir
dari zaman es terakhir !”
Para ahli banyak yang
beranggapan jika masa
melelehnya es di zaman
es terakhirlah yang
menyebabkan banjir
besar di seluruh dunia dan
kita mengenalnya dalam
kisah Nabi Nus a.s. Umat
Kristen menyebutnya
sebagai Noah. Dan salah
satu pemain utama dalam
film 2012, anak lelaki dari
John Cusack, juga
bernama Noah.