Tuesday, January 26, 2010

[oase] Kisah Tokoh Islam: Abu Al Qasim Khalaf Ibn Al Abbas Al Zahrawi: Bapak Ilmu Bedah Modern

Archive update by: abufaiz97, 27 January 2010, 02:26:09 WIB
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=769

Kisah Tokoh Islam: Abu Al Qasim Khalaf Ibn Al Abbas Al Zahrawi: Bapak Ilmu Bedah Modern

Dalam dunia kedokteran, seringkali kita mendengar istilah 'jahitan' untuk menutup luka yang menganga. Penjahitan yang dalam bahasa kedokteran disebut hecting, biasanya dilakukan pada kulit atau jaringan tubuh lain yang robek. Untuk melakukan tindakan hecting diperlukan dua alat, yaitu jarum dan benang yang dikenal dengan istilah catgut.

Catgut dibuat dari jaringan hewan. Biasanya dari usus sapi atau kambing. Mengapa dipilih dua hewan tersebut? Tak lain karena zat dari dua hewan inilah yang dapat diterima oleh tubuh manusia ketika benang (catgut) tersebut menyatu dengan kulit. Dan yang paling penting adalah karena dua hewan tadi halal digunakan menurut hukum islam. Faktor kehalalan ini sangat diperhitungkan karena penemu metode hecting dengan zat catgut adalah seorang muslim.

Adalah seorang ilmuwan muslim, Abu Al Qasim Khalaf Ibn Al Abbas Al Zahrawi yang pertama kali menemukan catgut dan metode hecting pada abad ke-10. Dunia pun mencatat kontribusi Abu Al Qasim ini. Sebuah buku yang ditulis oleh Ingrid Hehmeyer dan Aliya Khan, diterbitkan oleh Canadian Medical Association Journal (2007) berjudul Islam' Forgotten Contributions to Medical Science (Kontribusi Islam yang Terlupakan dalam Ilmu Pengetahuan Medis), mengutip bahwa Abu Al Qasim adalah orang yang pertama yang menggunakan catgut sebagai bahan untuk melakukan hecting.

Metode ini ia temukan saat ia menjabat sebagai anggota Dewan Dokter Raja Al Hakam II masa kekhalifahan Umayyah di Andalusia (Spanyol sekarang). Penemuan tersebut merupakan sumbangan terbesar untuk dunia kedokteran dalam melakukan pembedahan. Betapa tidak, sebelum metode hecting ini ditemukan, pembedahan pada luka pasien dilakukan dengan cara membakar kulit atau jaringan yang terbuka. Istilah medisnya cauterization. Tindakan ini efektif menutup luka tapi sangat menyakitkan dan mempunyai efek jangka panjang yang buruk.

Peran Abu Al Qasim ini mengembangkan dunia medis terus berlanjut. Ia tak hanya menemukan metode (hecting) dan penggunaan catgut. Tokoh yang juga ahli kebidanan ini menemukan foreceps. Forcep adalah sebuah pisau bedah yang dipakai untuk mengeluarkan fetus (janin yang mati dalam kandungan). Abu Al Qasim juga dikenal sebagai orang pertama yang mengenali penyakit kelainan darah (hemophilia). Yang menakjubkan, ia juga membuat beragam obat untuk keperluan setelah operasi. Bahkan dalam hal menyiapkan gigi palsu dan memasangnya pun dapat ia lakukan.

Masih banyak kontribusi Abu Al Qasim dalam dunia medis yang dijadikan rujukan sampai sekarang. Semua rangkuman pengetahuannya tentang medis tercantum dalam bukunya yang berjudul Al-Tasrif (Metode Pengobatan). Di dalamnya ia mengemukakan banyak hal berkaitan dengan pengobatan, bahkan ia juga mengenalkan lebih dari 200 peralatan bedah yang sangat berguna untuk keperluan operasi. Al-Tasrif telah beberapa kali diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi rujukan utama sekolah-sekolah kedokteran Eropa selama lima abad. Satu nama yang pernah menerjemahkan Al-Tasrif adalah Gerard of Cremonia. Ia menerjemahkan Al-Tasrif dalam bahasa latin pada abad ke-12.

Karena kontribusinya inilah Abu Al Qasim, dalam sebuah literature medis berjudul Neuroscience in Al-Andalus and its influence on Medieval Scholastic Medicine ( Neuroscience di Andalusia dan pengaruhnya pada pendidikan medis abad pertengahan –red) yang diterbitkan tahun 2002, karya empat orang ilmuwan Spanyol yaitu A. Martin-Araguz, C.Bustamante-Martinez, Ajo. V. Fernandes-Armayor, J.M. Moreno Martinez, menobatkan Abu Al Qasim sebagai bapak ilmu bedah modern. Subhanallah…

Sumber: Majalah Ummi edisi spesial Agustus 2009


-------------------------------------------------------------
Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs

Sunday, January 17, 2010

[oase] Hikmah: Hanya yang Terbaik

Archive update by: abufaiz97, 17 January 2010, 20:48:37 WIB
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=768

Hikmah: Hanya yang Terbaik

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik." (Q.S Ali Imran: 110)

Di dunia olah raga berkumandang motto Vini, Vidi, Vici. Datang, bertanding, dan menang. Dalam kompetisi memang harus ada pemenang. Datang ke suatu kompetisi kemudian bertanding dan menang itu memang idaman setiap atlet. Setiap pagelaran Olimpiade selalu melahirkan manusia yang bermotto citius,altius,fortius. Tercepat,tertinggi,terkuat.

Persoalannya bukan hanya semata menjadi pemenang. Tapi, kemenangan agung itu setelah melewati proses yang benar. Tidak curang dan melewati aturan yang telah disepakati bersama. Sportif. Tidak pula lewat sogokan ke wasit.

Para atlet pun berlatih sungguh-sunggguh. Mereka juga melewati serangkaian seleksi dari mulai RT, RW, provinsi hingga nasional. Dalam melewati sebuah kompetisi tak hanya teknik, tapi juga menyangkut gizi asupan makanan dan juga mental psikologis. Selain pelatih yang brilian, ada lagi faktor lain yakni dukungan penonton.

Maka untuk mencapai sebuah kemenangan, para atlet berlatih keras. Lebih baik berpeluh saat latihan daripada berdarah-darah ketika pertandingan. Disiplin adalah kuncinya. Hanya yang terbaik yang terpilih.

Jadi, medali di tangan seorang atlet adalah kebanggan. Nilai intrinsiknya ada pada proses pencapaiannya. Proses yang meliputi persyaratan lengkap. Dari mulai latihan,pendaftaran, pertandingan hingga final menentukan satu pemenang.

Dunia adalah medan kompetisi yang luas. Mulai dari diri kita sendiri, dihati kita sudah terjadi pertarungan. Bahkan ketika memasuki rahim ibu, kita adalah pemenang setelah melewati ribuan sel yang bertarung untuk lolos menjadi sebuah janin.

Disadari atau tidak, di keluarga juga terjadi persaingan. Sayang kalau sebagai orang tua hanya memperhatikan pekerjaan dibandingkan keluarganya yang hancur. Tidak mempersiapkan anak-anak kita untuk menjadi petarung yang handal.

Rasulullah SAW dalam haditsnya mengatakan, pendidikan anak diutamakan melatih anak tersebut dengan tiga hal: berenang, berkuda dan memanah. Ternyata berenang menggambarkan kekuatan, semua otot bergerak. Artinya semua potensi dikerahkan. Satu kaki saja yang bergerak,maka keseimbangan akan kacau.

Berkuda menggambarkan kecepatan. Selain itu menggambarkan suatu keharmonisan. Kesatuan antara manusia dan sistem. Bagaimana sistem bekerja antara kuda dan penunggangnya seakan satu kesatuan. Ternyata naik kuda harus seirama,sejiwa, dengan hewan tunggangan kita itu. Kalau tidak kita akan terpental. Benar kita yang mengendalikan, tapi sistem juga menuntut penunggangnya harus sejalan.

Memanah menggambarkan ketepatan atau akurasi. Apa artinya kuat dan apa artinya cepat, kalau ternyata tidak sampai pada tujuan? Tujuan akhir atau gol adalah penting dalam setiap misi. Dan tujuan akhir ini harus mengantarkan kita pada suatu cita-cita yang besar yang sesungguhnya.

Begitulah seorang muslim dan tujuan hidupnya. Dia menyiapkan diri secara pribadi kemudian masuk ke sebuah sistem (jamaah) lalu fokus pada tujuannya (istiqamah). Untuk mencapai itu semua itu tidak ada cara lain selain disiplin dan kerja keras. Umar bin Khatab menghardik orang yang terus-terusan berdoa di masjid tanpa bangkit bergerak.

Jadi kalau kita berdoa agar Allah SWT membimbing kita ke jalan yang lurus atau ingin mengubah hidup ke arah yang lebih baik, atau ingin mendapatkan rezeki yang banyak maka kita harus bangun. Karena bagaimana mungkin menuntun kita berjalan sementara kita duduk.

Orang yang sukses dalam kehidupan mereka rahasianya adalah mereka berpikir tentang apa yang paling mereka inginkan. Artinya banyak menyebut apa yang diidam-idamkannya. Selalu menjadi bahan perbincangan dimanapun berada. Kemudian dipikirkan menjadi sebuah rumusan langkah. Dari situ menjadi sebuah peta yang harus dia jelajahi.
Sudahkah Anda memiliki tujuan hidup yang jelas?

Sumber : Sabili No.22 Th.XVI


-------------------------------------------------------------
Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs

Friday, January 8, 2010

Google Groups: You've been invited to Newsletter Oase

oaseqalbu oaseqalbu@googlemail.com has invited you to join the Newsletter
Oase group with this message:

Yth. Subscriber Newsletter Oase Qalbu

Kami akan memindahkan membership mailing list oaseislam@yahoogroups.com ke
oase@googlegroups.com. Apabila Anda berkeberatan dengan pemindahan ini silakan
mengirimkan email ke lurah@oaseqalbu.com, dan kami akan menghapus keanggotaan
Anda di Googlegroups.

Untuk selanjutnya mailing list oaseislam@yahoogroups.com tidak akan
dipergunakan lagi.

Terima kasih.

Wassalam
Moderator Newsletter Oase Qalbu
http://www.oaseqalbu.net

Here is the group's description:

Newsletter Oase adalah sebuah media dakwah Islam satu arah yang dikelola satu
paket dengan Website Oase Qalbu: http://www.oaseqalbu.net

---------------------- Google Groups Information ----------------------

You can accept this invitation by clicking the following URL:

http://groups.google.com/group/oase/sub?s=Vg1M6wwAAADojQKEJ2tngnQ6W94h7Rrm


--------------------- If This Message Is Unwanted ---------------------

If you feel that this message is abuse, please inform the Google Groups staff
by using the URL below.

http://groups.google.com/groups/abuse?invite=YgAAAKENhCnIAAAAEiSMRwwAAAAAABFq9f0WGh-WyoMJ70ffeLu0EgY

Thursday, January 7, 2010

[oase] [resend] Lembar Jum'at: Konspirasi Rapuh

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Jum'at, 07 Januari 2005, oleh: abufaiz97
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=481

Lembar Jum'at: Koalisi Rapuh

Suatu hari Rasulullah saw dan beberapa sahabatnya mendatangi Yahudi Bani Nadhir untuk minta bantuan membayar diyat dua orang Bani Kilab yang terbunuh. Ini merupakan kewajiban mereka sesuai perjanjian Piagam Madinah.

Bani Nadhir menyanggupi permintaan itu. Mereka meminta Nabi saw dan para sahabatnya menunggu di suatu tempat. Sementara mereka pergi menemui beberapa temannya.

Watak asli bangsa Yahudi muncul. Melihat ada peluang untuk mencelakai Rasulullah saw, mereka segera membuat rencana keji. Salah seorang dari mereka segera menyiapkan batu besar untuk dilemparkan di atas kepala Rasulullah saw!

Allah takkan membiarkan Nabi-Nya celaka. Jibril turun memberitakan pada Rasulullah saw tentang rencana jahat itu. Beliau segera meninggalkan tempat duduknya tanpa diketahui siapa pun. Para sahabat lainnya segera menyusul ke Madinah. Setibanya di Madinah, Rasulullah saw memberi tahu rencana orang-orang Yahudi itu.

Karena bangsa Yahudi menyalahi perjanjian, Rasulullah saw segera menyiapkan sekelompok utusan yang dipimpin Muhammad bin Maslamah untuk mengusir mereka dari Madinah. "Keluarlah dari Madinah. Aku beri waktu sepuluh hari. Jika setelah itu aku melihat kalian di Madinah, akan kupenggal batang lehernya!" Demikian pesan Rasulullah saw yang disampaikan pada Bani Nadhir.

Tak ada pilihan lain bagi Yahudi Bani Nadhir kecuali keluar dari Madinah. Mereka pun bersiap-siap. Namun, gembong munafik, Abdullah bin Ubay, mengirimkan utusan pada mereka dan mengatakan, "Kalian tetap tinggal di sini dengan senang hati. Jangan keluar dari tempat tinggal kalian. Aku akan membantu dengan dua ribu prajurit siap tempur dalam benteng kalian. Mereka siap mati membela kalian. Jika kalian benar-benar diusir, kami pasti keluar bersama kalian dan kami selamanya takkan taat kepada siapa pun yang hendak menyusahkan kalian. Jika kalian diperangi, kami akan membantu. Kalian juga akan dibantu Bani Quraizhah dan sekutu mereka dari Ghathfan."

Atas dorongan itu, kepercayaan diri Yahudi Bani Nadhir muncul. Mereka mengambill keputusan untuk melakukan perlawanan. Pemimpin mereka, Huyay bin Akhthab, mengirimkan utusan pada Rasulullah saw untuk menyampaikan keputusan, "Kami takkan keluar dari tempat tinggal kami. Silakan bertindak sesuka Anda!"

Begitu mendengar jawaban Huyay bin Akhtab, Rasulullah saw bertakbir, kemudian berangkat bersama para sahabatnya untuk mengepung mereka. Bani Nadhir bersembunyi dalam benteng-benteng dan melempari kaum Muslimin dengan anak panah dan batu. Dalam hal ini, keberadaan kebun kurma sangat membantu orang-orang Yahudi. Rasulullah saw memerintahkan agar membabat habis dan membakar kebun kurma tersebut.

Orang Yahudi berperang sendirian. Mereka ditinggalkan Bani Quraizhah, dan dikhianati Abdullah bin Ubay dan sekutu-sekutunya dari Ghathfan. Tak seorang pun yang memberikan bantuan. Allah SWT mengumpamakan mereka seperti syaithan, "Bujukan orang-orang munafik itu seperti (bujukan) syaithan ketika dia berkata kepada manusia,'Kafirlah kamu. Lalu, tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu'," (QS al-Hasyr: 16).

Pengepungan berlangsung selama beberapa hari. Karena tak kunjung mendapat bantuan dari Abdullah bin Ubay dan sekutunya, akhirnya Bani Nadhir menyerah dan menyatakan diri keluar dari Madinah. Rasulullah saw memperbolehkan mereka membawa semua miliknya yang dapat diangkut, kecuali senjata.

Bani Nadhir pergi setelah menghancurkan rumah-rumah agar dapat membawa pintu-pintu dan jendela-jendela. Bahkan seperti dituturkan Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya, sebagian mereka ada yang membawa tiang-tiang penopang. Mereka juga membawa istri dan anak-anak. Semuanya diangkut dengan enam ratus unta.

Mayoritas Bani Nadhir termasuk pimpinan mereka, Huyay bin Akhthab dan Salam bin Abul Haqiq berangkat menuju Khaibar. Sebagian lagi berangkat ke Syam. Sementara yang masuk Islam hanya Yamin bin Amru dan Abu Sa'd bin Wahb. Keduanya mendapatkan hartanya.

Rasulullah saw menyita senjata, tanah, rumah, dan harta benda mereka. Senjata yang didapatkan sebanyak lima puluh perisai, lima puluh topi baja,dan tiga ratus empat puluh pedang.

Perang yang terjadi pada Rabi'ul Awal tahun 4 H atau Agustus 625 M ini diabadikan Allah dalam al-Qur'an. Allah menurunkan surat al-Hasyr secara keseluruhan. Karenanya, tentang surat al-Hasyr ini, Ibnu Abbas berkata, "Katakanlah surat ini adalah surat an-Nadhir."

Akhir riwayat para pengkhianat dalam kisah ini menjelaskan banyak hal. Di antaranya, umat Islam harus meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat berada dalam ikatan perjanjian dengan pihak lawan.

Ketika berada di atas panggung politik, semuanya tak bisa dilihat secara hitam putih. Ada wilayah abu-abu yang mengharuskan kita untuk berinteraksi bahkan melakukan kerja sama dengan musuh politik.

Tindakan ini menjadi boleh jika memenuhi syarat: tak merugikan kepentingan umat Islam dan tonggak kendali dipegang kaum Muslimin. Ini yang dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya ketika melakukan ikatan Piagam Madinah dengan orang-orang Yahudi.

Perjanjian itu menguntungkan karena kaum Muslimin aman dan bebas berdakwah di Madinah. Di sisi yang sama, saat perjanjian itu ditanda-tangani, kaum Muslimin juga yang memegang kendali. Sehingga, ketika bangsa Yahudi berkhianat, Rasulullah saw dan para sahabatnya bisa bertindak seperti yang mereka lakukan terhadap Yahudi Bani Nadhir.

Dalam berpolitik tak ada kawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan. Karenanya, ketika melakukan ikatan koalisi, umat Islam tetap harus waspada. Tak boleh lengah meski sekejap. Tak boleh ada kata maaf untuk menindak pengkhianat.

Hal lain yang menarik diamati dalam kisah di atas adalah begitu rapuhnya koalisi kafir. Ikatan yang tak dilandasi dengan pondasi akidah, takkan bisa bertahan lama. Ini yang dialami beragam partai di negeri ini. Umumnya, koalisi atau kerja sama yang mereka jalin dilandasi kepentingan politik sesaat. Ketika kepentingan itu usai, kerja sama pun putus. Ketika kebutuhan mereka tak lagi ada, pengkhianatan pun dilakukan.

Bagi umat Islam, ini pelajaran penting. Kerja sama yang dilakukan, baik secara personal maupun kelompok seharusnya tak didasari kepentingan untuk mendapatkan jabatan, kedudukan atau harta. Semua kepentingan itu hanya sesaat. Ia akan segera lenyap seiring putusnya jalinan kerja sama.

Hepi Andi (Sabili)


-------------------------------------------------------------
Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs

Sunday, December 27, 2009

[oase] [resend] Kisah Sahabat: Teladan dari Dua Umar

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Ahad, 16 Januari 2005, oleh: abufaiz97
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=483

Kisah Sahabat: Teladan dari Dua Umar

Teladan dari Dua Umar

Umar bin Abdul Aziz membersihkan kedua tangannya. la berdiri. Di depannya nampak makam Sulaiman bin Abdul Malik, khalifah Bani Umayyah sebelumnya. Berdasarkan wasiat al marhum, Umar bin Abdul Aziz menduduki jabatan khalifah. Baru saja Umar bangkit berdiri, tiba-tiba ia mendengar suara riuh. "Ada apa?", tanya Khalifah kedelapan Bani Umayyah itu heran.

"Ini kendaraan Anda, wahai Amirul Mukminin," ujar salah seorang sambil menunjuk sebuah kendaraan mewah yang khusus disiapkan untuk sang khalifah.

Dengan suara gemetar dan terbata bata karena kelelahan dan kurang tidur, Umar berkata, "Apa hubungannya denganku? Jauhkanlah kendaraan ini. Se¬moga Allah memberkahi kalian." Lalu ia berjalan ke arah seekor keledai yang menjadi tunggangannya selama in!

Baru saja ia duduk di atas punggung hewan itu, serombongan pengawal datang berbaris mengawal di belakangnya. Di tangan masing masing tergenggam tombak tajam mengkilat. Mereka siap menjaga sang
khalifah dari marabahaya.

Melihat keberadaan pasukan itu, Umar menoleh heran dan berkata, "Aku tidak membutuhkan kalian. Aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum Muslimin. Aku berjalan pagi hari dan sore hari sama seperti rakyat biasa."

Selanjutnya, Umar berjalan bersama o¬rang prang menuju masjid. Dari segala penjuru orang orang pun berdatangan. Ketika mereka sudah berkumpul, Umar bin Abdul Aziz berdiri. Setelah memuji Allah dan ber¬shalawat pada Nabi dan para sahabatnya, ia berkata, 'Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapat cobaan dengan urusan ini (khilafah) yang tanpa aku dimintai persetujuan terlebih dulu, memintanya atau pun ber¬musyawarah dulu dengan kaum Muslimin. Sesungguhnya, aku telah melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku. Untuk selanjutnya silakan pilih dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridhai.'

Mendengar ucapannya itu, orang orang pun berteriak dengan satu suara, "Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin. Kami ridha terhadapmu. Aturlah urusan kami dengan karunia dan berkah Allah.'

Banyak hal yang bisa kita teladani dari sikap hidup Umar bin Abdul Aziz. Selain sikap zuhud dan kesederhanaan, kita juga belajar wara' (menjauhi syubhat). Kisah dirinya ketika memadamkan lampu minyak saat menerima kedatangan anaknya, diabadikan oleh sejarah. la tak mau menggunakan fasilitas negara untuk keperluan pribadi atau keluarga.

Kits bandingkan dengan sikap pemimpin saat ini. Sulit membedakan mana harta mereka pribadi dan mana milik pemerintah. Berapa banyak para pejabat yang tetap menggunakan fasilitas negara saat kampanye yang nota bene untuk kepentingan sendiri.

Begitu pun setelah mereka berkuasa. Bahkan, mereka yang selama ini dikenal dekat dengan rakyat menjadi jauh. Akibatnya, mereka sendiri merasa tidak aman. Kemana pun pergi selalu dijaga ketat oleh para pengawal.

Kenyataan ini akan sangat bertolak belakang jika kita tengok jauh lagi ke belakang. Pada akhir abad 17 Hijriyah, misalnya. Saat itu kaum Muslimin sebenarnya sedang menikmati kemenangan pasukan mereka di Irak dan Syam. Namun di tengah kegembiraan itu, mereka dikejutkan oleh datangnya musim kemarau berkepanjangan. Selama sembilan bulan hujan tak turun. Bumi gersang dan penuh debu. Hewan dan tanaman menjadi korban.

Kondisi Madinah tak terlalu buruk. Di bawah pemerintahan Umar bin Khaththab, Khalifah Kedua setelah Rasulullah saw wafat, penduduk Madinah dibiasakan menyimpan makanan. Akibatnya, dari berbagai daerah masyarakat datang berbondong bondong, mengungsi di kota Nabi itu. Selama beberapa saat Madinah bisa bertahan. Tapi lama kelamaan penduduknya makin tertekan. Mereka mulai kekurangan bahan makanan. Lalu apa yang dilakukan Umar bin Khaththab kala itu?

Ketika kelaparan mencapai puncaknya, Umar pernah disuguhi remukan roti yang dicampur samin. Umar memanggil seorang Badui dan mengajaknya makan bersama. Umar tidak menyuapkan makanan ke mulutnya sebelum Badui itu melakukannya lebih dahulu. Orang Badui sepertinya benar benar menikmati makanan itu. "Agaknya, Anda tak pernah mengenyam lemak?" tanya Umar.

"Benar," kata Badui itu. "Saya tak pernah makan dengan samin atau minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang orang memakannya sampai sekarang," tambahnya.

Mendengar kata kata sang Badui, Umar bersumpah tidak akan memakan lemak sampai semua orang hidup seperti biasa. Ucapannya benar benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saat ini, "Kalau rakyatku kelaparan, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin orang terakhir yang menikmatinya," ujar Umar.

Padahal, saat itu Umar bisa saja menggunakan fasilitas negara. Kekayaan Irak dan Syam sudah berada di tangan kaum Muslimin. Tapi tidak. Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Kita diberikan pelajaran sangat berharga oleh dua Umar. Dengan meneladani kehidupan dua khafrfah itu, para pemimpin akan merasakan penderitaan rakyat. Perasaan inilah yang akan melipatgandakan perjuangannya. Bagaimana mungkin seorang pemimpin akan bisa berjuang kalau ia sendiri tak merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Sikap zuhud dan kedekatan dengan rakyat ini akan menenteramkan masyarakat. Kedekatan pada rakyat akan melahirkan kecintaan. Bayangkan dengan diri Rasulullah saw. Bagaimana mungkin rakyat tidak dekat dengannya kalau menjelang ajal pun beliau masih menyebut nyebut, "Ummati, ummati, ummati (umatku, umatku, umatku)." Kepedulian Rasulullah saw pada umatnya nyaris tak berbalas.

Kecintaan inilah yang akan menciptakan rasa aman. Kedekatan dengan rakyat berbanding lurus dengan tingkat kenyamanan seorang pemimpin. Semakin dekat dirinya dengan rakyat, semakin tinggi juga tingkat rasa aman dirinya. Inilah yang menjelaskan mengapa kedua Umar, baik Umar bin Abdul Aziz maupun Umar bin Khaththab tak pernah mau dikawal. Mereka tak memerlukan pengawal karena merasa dirinya aman. Mereka terbiasa berkeliling di tengah gelapnya malam. Mereka juga biasa tidur tiduran di tempat umum. Tak ada rasa takut dan khawatir dalam diri mereka. Penyebabnya: mereka berlaku adil, bersih, dekat dengan rakyat, maka rakyat pun mencintainya.

[Sabili


-------------------------------------------------------------
Untuk berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe
Untuk berhenti berlangganan Newsletter Oase silakan klik link berikut:
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=Oase_Subscribe&op=Unsubs

Tuesday, December 22, 2009

[oase] [resend] Kisah Sahabat: Said bin Amir, gubernur yang masuk dalam daftar orang miskin

Arsip artikel ini telah diupdate pada: Selasa, 23 September 2003, oleh: abufaiz97
http://www.oaseqalbu.net/modules.php?name=News&file=article&sid=75

Kisah Sahabat: Said bin Amir, gubernur yang masuk dalam daftar orang miskin

Sumber: Tarbawi

Khalifah Umar bin Khattab berniat menggantikan gubernur Syam yang semula dipercayakan kepada Muawiyah. Penggantinya yang diinginkan Khalifah adalah Said bin Amir Al-Jumahi. "Aku ingin memberimu amanah menjadi gubernur," kata Umar kepada Said. Said berkata, "Jangan kau jerumuskan aku ke dalam fitnah, wahai Amirul Mukminin. Kalian mengalungkan amanah ini di leherku kemudian kalian tinggal aku." Umar mengira bahwa Said menginginkan gaji, "Kalau begitu, kita berikan untukmu gaji." Said menjawab, "Allah telah memberiku rizki yang cukup bahkan lebih dari yang kuinginkan."

Begitulah kursi gubernuran yang ditolak oleh Said dengan halus. Walau akhirnya dia harus menunjukkan ketaatannya kepada Khalifah dengan menaati keinginan Umar yang tetap bersiteguh untuk mengangkatnya sebagai gubernur Syam.
Akhirnya hari yang ditentukan untuk keberangkatannya ke Syam tiba. Dari Madinah dia berangkat beserta istrinya menuju tempat tugasnya yang baru.

Sesampainya di Syam, Said memulai hari-harinya dengan amanah baru, menjadi gubernur Syam. Hingga suatu saat Said terlilit kebutuhan yang memerlukan uang. Sementara tidak ada uang pribadinya yang bisa dia pakai. Sementara itu di Madinah Umar mendapatkan tamu utusan dari Syam. Mereka datang untuk melaporkan beberapa kebutuhan dan urusan mereka sebagai rakyat yang hidup di bawah kekhilafahan Umar bin Khattab.

Umar berkata, "Tuliskan nama-nama orang miskin di tempat kalian."

Mereka pun menuliskan nama-nama orang yang membutuhkan bantuan dari negara. Tulisan itu diserahkan kepada Umar. Dengan agak terkejut, Umar menemui sebuah nama. Said.

"Apakah ini Said gubernur kalian?"

"Ya, itu Said gubernur kami." "Dia termasuk daftar orang-orang miskin?" tanya Umar lagi mempertegas.

"Ya," jawab mereka meyakinkan.

Umar kemudian mengambil sebuah kantong dari kain yang terikat ujungnya. "Berikan ini kepada gubernur kalian," kata Umar sambil memberikan kantong itu kepada mereka.

Rombongan itu akhirnya kembali ke Syam. Setelah sampai, mereka menyampaikan amanah dari Umar itu kepada Said gubernur mereka.

Sore harinya Said pulang ke rumah. Dia membuka kantong tersebut tanpa sepengetahuan istrinya. Dan ternyata kantong tersebut berisi uang seribu dinar. Jumlah yang tidak sedikit. "Innalillahi wainna ilaihi rojiun," katanya lirih. Ternyata istrinya mendengar perkataan tersebut. "Apakah amirul mukminin meninggal?" tanya istrinya. "Tidak, tetapi musibah yang lebih besar dari itu," kata Said. "Maukah engkau membantuku?" sambung Said. "Tentu," jawab istrinya. "Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku," kata Said.

Esok paginya, Said memanggil orang kepercayaannya untuk membagikan uang itu kepada para janda, anak yatim dan orang miskin yang membutuhkan. Tanpa tersisa sedikit pun. Barulah istrinya memahami kata-kata Said, "Dunia telah memasuki diriku untuk merusak akhiratku."

Begitulah. Dan memang Said selalu berusaha untuk menjadikan dunia yang dimilikinya untuk membeli akhirat. Agar mendapatkan bidadari surga.

Ketika suatu hari istrinya menuntut uang yang diberikan dari kakhilafahan, sementara uang itu telah habis disumbangkan kepada orang lain. Hingga tuntutannya itu membuat Said tersiksa. Said berusaha menghindari istrinya beberapa hari dengan selalu pulang malam. Agar dia tidak mendengar lagi tuntutan istrinya.

Sampai istrinya akhirnya tahu bahwa hartanya telah habis dibagikan cuma-cuma. Sang istri menangisi kepergian harta itu. Dan inilah yang dikatakan Said kepada istri tercintanya, "Sebenarnya istriku, dulu aku mempunyai teman-teman yang kini telah lebih dulu meninggalkanku. Aku tidak rela setelah mereka pergi aku bergelimang harta. Dan kemudian bidadari surga itu jika muncul di langit dunia akan menerangi seluruh penduduk bumi dan sinarnya itu akan memadamkan sinar matahari dan rembulan. Pakaian yang dia pakai lebih baik daripada dunia seisinya. Maka aku lebih memilih dirimu untuk menjadi bidadariku di surga nanti." Kata-kata ini membuat istrinya Said ridho.

Kehidupan seorang gubernur Said bin Amir tidak hanya terhenti sampai tingkat kesenangannya membagikan harta. Kalau kita menengok dalam rumahnya lebih ke dalam lagi, kita akan menjumpai kehidupan seorang gunernur yang tak kita jumpai hari ini. Gubernur yang sangat zuhud kepada dunia, tidak merasa begitu perlu dengan harta, maka mustahil kalau dia rela memakan harta rakyatnya.

Inspeksi mendadak yang dilakukan Umar ke Syam akan mengantarkan kita kepada kisah-kisah dalam rumah tangga Said. Begitu sampai Himsa, Umar mengumpulkan penduduk kota tersebut dan bertanya, "Wahai penduduk Himsa, bagaimana kalian mendapati gubernur kalian?" Jawaban mereka cukup mengejutkan, "Kami mengeluhkan empat hal. Pertama, dia selalu keluar kepada kami setelah siang datang." "Ini berat," kata Umar. "Kemudian apa?" tanya Umar kembali.

"Kedua, dia tidak melayani siapa pun yang datang malam hari."

"Ini juga masalah serius, kemudian apa lagi?"

"Ketiga, ada satu hari dalam satu bulan dimana dia tidak keluar sama sekali untuk menemui kami."

"Ini tidak boleh dianggap enteng, kemudian yang keempat?"

"Dia terkadang pingsan ketika bersama kami."

Mendengar aduan ini, Umar tidak bisa tinggal diam. Dia merasa perlu untuk cepat menyelesaikan permasalahan yang timbul antara pejabatnya itu dengan rakyatnya. Itulah pemimpin mulia yang langsung mendengar masalah rakyatnya dan langsung memberikan solusi konkrit dan bukan pepesan kosong serta janji memuakkan. Umar membuat pertemuan akbar antara Said sebagai gubernur dan rakyatnya yang siap mengadili gubernur mereka.

"Ya Allah, jangan Engkau kecewakan prasangka baikku selama ini kepadanya."

Kata Umar membuka pertemuan, "Baiklah, apa yang kalian keluhkan?"

"Pertama, Said tidak keluar menemui kami kecuali setelah siang datang menjelang."

Said angkat bicara, "Demi Allah sesungguhnya aku tidak suka menjawabnya. Aku tidak mempunyai pembantu, maka aku harus mengadoni roti sendiri, kemudian aku tunggu sampai adonan itu mengambang dan kemudian aku panggang hingga menjadi roti, kemudian aku wudhu dan baru keluar.'

"Terus apa lagi?"

"Kedua, Said tidak mau melayani yang datang kepadanya di malam hari."

"Apa jawabmu, wahai Said?"

"Sesungguhnya aku tidak suka menjawabnya. Aku menjadikan siang hariku untuk mereka dan aku menjadikan malamku untuk Allah Azza Wajalla saja."

"Kemudian apa lagi?"

"Ada satu hari tertentu dimana dia tidak keluar sama sekali dari rumahnya."

"Apa komentarmu?"

"Aku tidak mempunyai pembantu yang mencucikan pakaianku. Sementara aku tidak memiliki pakaian yang lain. Maka aku mencucinya sendiri dan aku tunggu sampai kering, selanjutnya aku keluar kepada mereka saat sudah sore."

"Selanjutnya apa lagi?"

"Said suka pingsan."

"Aku menyaksikan meninggalnya Khubaib Al-Anshari di Mekah. Kematiannya sangat tragis di tangan orang-orang kafir Quraisy. Mereka menyayat-nyayat dagingnya kemudian menyalibnya di pohon kurma. Orang Quraisy itu meledek, "Khubaib, apakah kamu rela jika Muhammad sekarang yang menggantikanmu untuk disiksa?" Khubaib menjawab, "Demi Allah, kalau saya berada tenang dengan keluarga dan anakku, kemudian Muhammad tertusuk duri sungguh aku tidak rela." Ketika itu aku masih dalam keadaan kafir dan menyaksikan Khubaib disiksa sedemikian rupa. Dan aku tidak bisa menolongnya. Setiap ingat itu, aku sangat khawatir bahwa Allah tidak mengampuniku untuk selamanya. Jika ingat itu, aku pingsan."

Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakan prasangka baikku kepadanya."

Sunday, December 20, 2009

[oase] (3 dari 6) Aliansi Mengerikan antara Darwinisme dan Fasisme [1 Attachment]

PDF File attached.

-----
Wassalam
Webmaster Oase Qalbu
http://www.oaseqalbu.net