Sabtu, 08 Mei 2010

HTI &PKS

MENYIMAK kegiatan
pemuda Muslim beberapa
dasawarsa terakhir, saya
semakin optimistis bahwa
kiamat belum segera
datang pada abad ini
akibat tidak ada lagi orang
yang bersedia
memperjuangkan Islam.
Wallahualam, hanya Allah
Yang Maha Tahu kapan
tepatnya kiamat akan
terjadi.
Tidaklah berlebihan
apabila kita memberikan
apresiasi yang sangat
tinggi kepada generasi
muda Muslim sekarang
yang terus gigih
melakukan perjuangan di
tengah semakin
gencarnya tekanan dari
kalangan non-Muslim.
Mereka, khususnya Barat,
seperti tidak pernah
berhenti mencari celah
dan menunggu momentum
umat Islam berbuat
kesalahan dan anarkis.
Begitu umat Islam
terjebak, telunjuk mereka
secara beramai-ramai
akan menunjuk muka
umat Islam sembari
berteriak,
“ Terorissss…!”
Anton Winardi dalam
bukunya Konsep Negara &
Gerakan Islam Baru —
Menuju Negara Modern
Sejahtera telah
memberikan kontribusi
yang signifikan bagi
penggambaran peta
perjuangan dakwah kaum
Muslimin, baik yang
berjuang melalui
pembentukan partai
politik maupun
pembentukan organisasi
massa dan LSM. Anton
berhasil secara apik
melukiskan peta
perbedaan maupun
kesamaan antara Partai
Keadilan Sejahtera (PKS)
dan Hizbut Tahrir (HT).
Apresiasi banyak
diberikan kepada para
aktivis PKS dan HT.
Mereka pada umumnya
digambarkan sebagai
generasi muda yang
sangat peduli terhadap
Islam dan menyadari
sepenuhnya posisi kaum
Muslimin yang sehasta
demi sehasta dan
sejengkal demi sejengkal
menjadi kacung dan
akhirnya menjadi
“ bancakan”
masyarakat Barat.
Kesadaran ini sangat
penting, mengingat sejak
bangsa Indonesia
berkenalan dengan
bangsa Barat empat abad
yang lalu, mereka
senantiasa
memperlakukan bangsa ini
tak lebih sebagai budak
dan sapi perahan. Selama
berabad-abad, mereka
menjajah Indonesia dan
negara-negara dunia
ketiga. Lepas dari
penjajahan secara
teritorial, mereka
kemudian memasang
perangkap dengan
berbagai pinjaman dan
utang, sehingga pada
akhirnya semua kekayaan
milik bangsa ini mereka
kuasai tanpa menyisakan
sedikit pun untuk rakyat,
kecuali kesengsaraan dan
penderitaan. Tak pernah
ada niat baik dari mereka
kecuali mengajak
masyarakat dunia ketiga
masuk ke dalam lubang
kadal sebagaimana
disabdakan Nabi
Muhammad saw.
Anton dalam penelitiannya
berhasil secara jernih
membedakan antara PKS
dan HT. PKS digambarkan
sebagai partai yang
beranggapan bahwa Islam
dan negara tidak dapat
dipisahkan, karena syariat
Islam menyangkut seluruh
aspek kemasyarakatan.
Jalan yang ditempuh
adalah dengan masuk ke
dalam pemerintahan yang
ada dan menjalankan
setiap mekanisme yang
telah ditetapkan.
Walaupun demikian,
setelah berganti nama
menjadi PKS pada Pemilu
2004, partai ini dalam
usulannya mengenai
amendemen UUD 1945
Pasal 29 tidak lagi
menganggap penting
warisan Piagam Jakarta.
PKS justru mengusulkan
konsep yang
menunjukkan
kecenderungan pluralisme
yaitu Piagam Madinah.
Sementara Hizbut Tahrir,
menurut Anton (Minardi,
2008: 12-13),
mengusulkan agar Islam
dijadikan sebagai
landasan pemerintahan
dan negara, bahkan
mengusulkan didirikan
khilafah. Dalam
merealisasikan
gagasannya, HT menolak
bergabung ke dalam
sistem pemerintahan
Indonesia yang ada,
karena dianggap tidak
sesuai dengan sistem
Islam.
Kesamaan keduanya
adalah, PKS dan HT
melakukan perekrutan
anggota dengan ajakan
yang sifatnya persuasif,
yang berangkat dari
penyadaran akan
eksistensi manusia
sebagai khalifah beserta
tugas-tugasnya dan
memberikan pemahaman
mengenai sistem Islam
yang harus diterapkan
dalam seluruh kehidupan
manusia yang beriman.
Perekrutan yang
dilakukan dapat melalui
acara formal partai
maupun melalui berbagai
kegiatan yang sifatnya
penambahan wawasan,
seperti seminar maupun
kegiatan sosial. Dakwah
dan pembinaan
selanjutnya dilakukan
secara terstruktur, baik
secara materi maupun
jenjang pembinaan sesuai
dengan keaktifan dan
loyalitas seseorang
kepada partai.
Yang pasti, PKS dan HT
membawa pemahaman
yang relatif baru
mengenai pemerintahan
menurut Islam. PKS
menerima terminologi
demokrasi masuk ke
dalam sistem
pemerintahan dan
membangun
komunitasnya di tengah
masyarakat dengan
prinsip tarbiah. Sementara
HT menolak konsep
demokrasi Barat yang
dianggap terlalu
mengedepankan
kebebasan individu yang
dianggap menyimpang.
Mereka mengampanyekan
berdirinya khilafah Islam
sebagai penggantinya
dengan cara berjuang
secara damai di luar
sistem pemerintahan
dengan melakukan dialog
terbuka dan membangun
komunitas di luar sistem.
Gerakan PKS semakin
mendapatkan tempat di
berbagai kalangan di
Indonesia, terutama
kalangan intelektual dan
ekonomi menengah.
Perbedaan antara PKS
dan Hizbut Tahrir justru
saling melengkapi.
Perbedaan yang berhasil
diidentifikasi bukan untuk
dipertentangkan,
melainkan masing-masing
harus memainkan peran
yang saling melengkapi
demi `Izzul Islam
Walmuslimin. Dalam hal ini
saya teringat dengan
Jujun S. Suriasumantri
yang menulis buku Filsafat
Ilmu. Beliau meminjam
pemikiran Will Durant yang
menjelaskan bahwa
hubungan antara ilmu dan
filsafat seperti pasukan
marinir yang berhasil
merebut pantai untuk
pendaratan pasukan
infanteri. Pasukan
infanteri ini adalah
sebagai pengetahuan
yang di antaranya adalah
ilmu. Filsafatlah yang
memenangi tempat
berpijak bagi kegiatan
keilmuan. Setelah itu,
ilmulah yang membelah
gunung dan merambah
hutan, menyempurnakan
kemenangan ini menjadi
pengetahuan yang dapat
diandalkan.
Demikian pula PKS dan HT,
bagi saya, PKS adalah
filsafat yang bertindak
sebagai marinir yang
harus merebut pantai hati
masyarakat. PKS harus
memberikan praktik dan
contoh politik islami dan
membuktikan bahwa Islam
adalah rahmatan lil `alamin
yang mampu memberikan
kesejahteraan lahir
maupun batin. Jika praktik
politik islami yang
diperagakan PKS dapat
menjadi solusi bagi bangsa
Indonesia yang tengah
mengalami krisis
multidimensional, niscaya
masyarakat semakin
percaya dengan konsep
Islam. Pada saat demikian,
HT yang bertindak
sebagai ilmu pengetahuan
bagaikan pasukan
infanteri. Kalau hati
rakyat sudah direbut
dengan Islam, apa pun
namanya tentang sistem
politik Islam akan diterima
tanpa reserve.
Sembari terus meminta
pertolongan kepada Allah
SWT, kita harus
senantiasa mewaspadai
kemungkinan padamnya
api perjuangan Islam
sambil berharap dua
gerakan yang semakin
menampakkan hasil yang
efektif.