Rabu, 18 April 2012

Jadilah Seperti Air
April 17th, 2012 by Choiriyah
Ilustrasi (wunderground.com)
dakwatuna.com – “Mahasuci Allah
yang menguasai (segala) kerajaan, dan
Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.
Yang menciptakan mati dan hidup
untuk menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia
Maha perkasa, Maha pengampun. Yang
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Tidak akan kamu lihat sesuatu yang
tidak seimbang pada ciptaan Tuhan
Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah
sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu
cacat?” (QS. Al Mulk: 1-3)
Allah menciptakan apa-apa yang ada di
langit dan di bumi, agar kita mampu
berfikir dan menelaah. Saat kita duduk
di tepi sungai, akan kita rasakan
serasinya ciptaan Allah. Batu yang
sangat keras dan kokohnya, air yang
mengalir sangat lembut. Tidakkah kita
mampu menerapkannya dalam
kehidupan yang sebenarnya.
Kita ambil ‘ibrah dari air dan batu yang
dapat bekerja sama dengan satu
harmoni yang sangat indah sesuai
kehendak-Nya. Begitulah seharusnya
kita bersikap dan bertindak dalam
dakwah ini. Dakwah ini tidak akan
berjalan dengan segelintir orang saja,
tetapi atas banyak unsur yang berjalan
dengan serasi. Begitu indah pelajaran
yang bisa kita tarik dalam setiap
ciptaan-Nya.
Dakwah ini tidak akan berjalan dengan
selalu memperselisihkan tugas,
“Ini hak Antum, ini hak Ane. Ini
kewajiban Antum, dan ini kewajiban
Ane,”
Malulah kita dengan apa yang terjadi
dengan air dan batu. Tidak ada
pertikaian di antara mereka. Kita sama-
sama muslim dan kita adalah saudara.
Memahami keadaan itu, kita akan
menemukan sebuah pelajaran penting
dalam ukhuwah. Hati kita harus selalu
dijaga kelembutannya, agar ruh-ruh kita
tetap bercahaya. Kita dalam dakwah ini
bukan saling terikat membebani,
melainkan untuk saling tersenyum
memahami dan saling mengerti dengan
kelembutan nurani.
Tertatih kita menjalani kehidupan
dalam dakwah ini, menyambung
silaturahim yang terasa kering, dan
hubungan yang terasa sangat pahit.
Saat kita memaknai dan menamakan
hubungan ini karena Allah maka
semuanya akan terasa indah dan sejuk
dalam sanubari.
Dakwah ini meniti jalan yang sangat
terjal dan berliku, penuh dengan onak
dan duri. Kembali kita meluruskan niat,
mengokohkan tekad, menguatkan
simpul komitmen kita dalam dakwah
dan menunaikan setiap tanggungan
amal-amal yang harus di tunaikan.
Tanpa harus memikulkan tanggungan
kita kepada yang lain, atau
membebankan tugas yang seharusnya
dipikul bersama kepada sebagian dan
bahkan seorang saja.
Berusaha mengukur sendiri
kemampuan diri untuk mampu
mengukur kemampuan orang lain. Saat
kita merasa itu berat bagi kita jangan
lantas di alihkan ke salah seorang
ikhwah kita.
Jangan tanyakan lagi tentang keikhlasan
kepada mereka, karena mereka akan
dengan rela dibebani banyak tugas
meski yang lain dalam keadaan tenang
karena bebas tugas. Yang mereka
pikirkan adalah pahala dan cinta dari
Tuhannya.
Tapi apakah kita tega dan bersenang
hati melihat saudara kita terbebani? Dia
tertatih dengan tugasnya sementara
kita menyibukkan diri dengan
kehidupan pribadi?
“Cintailah orang lain sebagaimana kau
ingin dicintai. Perlakukanlah orang lain,
sebagaimana kau ingin di cintai.”
Maka orang lain akan banyak yang salah
paham. Ada yang merasa tersakiti dan
terluka dari cara kita menyayanginya.
Dan orang akan merasa kita tidak
mencintainya padahal itu wujud cinta
kita padanya.
Maka gantilah bunyinya, “Cintailah
orang lain sebagaimana mereka ingin di
cintai. Perlakukan orang lain dengan
cara sebagaimana mereka ingin
diperlakukan.”
Dengan begitu maka dakwah dan
ukhuwah ini akan terasa indah. Tidak
ada yang merasa hanya sebagian yang
terbebani dan sebagian bebas dari
tugas.
Maka mencobalah untuk menanyakan
kepada saudara kita. Dan pahami
setiap kemampuan diri kita adalah
berbeda. Dengan meminta masukan
pendapat itu maka akan semakin
menguatkan persaudaraan dan
melimpahkan ketulusan.