Rabu, 18 April 2012

Kerabatmu Dulu,
Baru Sahabatmu
April 18th, 2012 by Abi Sabila
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Pulang sekolah,
Anisa mendapati Bunda sedang melipat
baju yang baru diangkat dari jemuran,
membuat ia teringat dengan sebuah
rencana. Khawatir terlupa lagi, Anisa
langsung menyampaikan rencana
tersebut kepada sang bunda.
“Bunda, boleh tidak kalau aku
memberikan baju yang sudah kekecilan
pada orang yang membutuhkan?”
“Boleh saja. Tapi, bukankah dua minggu
yang lalu semua baju kecilmu sudah
kamu berikan kepada sepupumu?”
“Masih ada satu, Bunda. Baju warna
biru yang dulu ayah belikan. Boleh ya,
Bunda?” Anisa memohon.
“Oh, yang itu. Sekarang kamu sudah
berubah pikiran? Daripada hanya
tersimpan di lemari, Bunda memang
lebih setuju kalau kamu berikan kepada
yang membutuhkan. Bunda yakin Ayah
juga setuju dengan idemu. Kalau boleh
tahu, kepada siapa baju itu akan kamu
berikan?”
Dengan semangat Anisa pun bercerita
bahwa di sekolahnya ada penjual
jajanan yang mempunyai anak
perempuan. Usianya di bawah Anisa.
Kepadanyalah Anisa berencana
memberikan baju yang sebenarnya
sangat special. Baju itu hadiah dari
Ayah saat ulang tahunnya setahun yang
lalu. Tapi karena Ayah keliru memilih
ukuran, sejak dibeli baju itu hanya
tersimpan di lemari. Masih baru, belum
pernah dipakai sama sekali.
“Kamu sudah bilang sama anak atau
ibu penjual jajanan itu kalau kamu akan
memberikan baju?” tanya Bunda.
Anisa menggeleng. Sebenarnya ia agak
khawatir kalau pemberiannya justru
akan menyinggung perasaan mereka.
Terus terang Anisa tidak begitu akrab
dengan mereka.
“Begini, Anisa. Sebenarnya Bunda
mendukung penuh niatmu. Mau
diberikan kepada siapa saja, yang
penting kamu harus ikhlas, tidak
mengharapkan apapun kecuali ridha
Allah semata. Tapi di pengajian
mingguan kemarin, kebetulan ustadzah
membahas tentang prioritas orang-
orang yang berhak menerima sedekah
kita.”
Anisa menatap Bunda, tak mengerti
apa yang Bunda maksudkan.
Maka dengan lemah lembut Bunda
menjelaskan bahwa meski tidak ada
larangan untuk memberikan sedekah
kepada siapa pun, tapi sebenarnya ada
pihak-pihak yang harus diprioritaskan.
Keluarga dan kerabat lebih utama
didahulukan dibanding pihak lain.
Seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad
dan Muslim, Rasulullah saw pernah
bersabda, ““Jika salah seorang di
antaramu miskin, hendaklah dimulai
dengan dirinya, jika ada kelebihan maka
untuk keluarganya, jika ada kelebihan
lagi untuk kerabatnya.” Atau beliau
bersabda: “Untuk yang ada hubungan
kekeluargaan dengannya. Kemudian
apabila masih ada barulah untuk ini
dan itu.”
Juga ada satu firman Allah yang
menunjukkan keutamaan memberi
shadaqoh kepada keluarga, kaum
kerabat kemudian tetangga sekitar,
berdasarkan firman Allah swt: “Kepada
anak yatim yang mempunyai hubungan
kerabat. “ (QS. Al Balad: 15)
Karenanya, Bunda menyarankan
kepada Anisa untuk memberikan baju
itu kepada kerabatnya. Ada satu orang
sepupu Anisa yang belum kebagian
saat Anisa membagi-bagikan baju
bekas layak pakainya dua minggu yang
lalu.
“Jika kita memiliki beberapa yang bisa
kita sedekahkan, tidak masalah kita
berikan kepada beberapa orang,
termasuk yang bukan kerabat kita. Tapi
Adakalanya, kita tak mempunyai
banyak yang bisa kita berikan, bahkan
satu-satunya seperti baju yang akan
kau berikan, kita harus membuat skala
prioritas. Siapa yang paling
membutuhkan, dan siapa yang terdekat
dengan kita. Jika dua orang sama-sama
membutuhkan, tapi hanya satu yang
bisa kita berikan, maka kita utamakan
dulu yang masih ada hubungan keluarga
dengan kita. Menurut Bunda, Aisyah
adalah pilihan yang paling tepat. Kita
tahu, hidup mereka sangat sederhana.
Sudah semestinya ia kita prioritaskan
sebelum orang lain.” Panjang lebar
Bunda menjelaskan.
“Tapi kalau semua orang lebih
mementingkan saudaranya, bagaimana
dengan mereka yang tidak memiliki
saudara, siapa yang akan membantu
mereka? Apa negara, Bunda?”
Bunda tersenyum, menatap Anisa yang
telah melepas kerudungnya, kegerahan.
“Jangan khawatir mereka tidak ada yang
memperhatikan. Apa yang nabi
contohkan, bukan berarti kita tidak
perlu memperhatikan dan membantu
orang lain yang bukan saudara. Bukan
itu maksudnya, Anisa. Jika ada dua
pihak yang sama-sama sangat
membutuhkan, tapi hanya kepada
salah satunya kita bisa membantu,
maka utamakan yang terdekat
hubungannya dengan kita. Jika kita
mampu, membantu orang lain yang
tidak memiliki hubungan kekerabatan
juga dianjurkan. Yang terpenting, kita
harus ikhlas, tidak boleh mengharap
imbalan dan tidak juga boleh menyakiti
perasaan mereka.”
“Mengenai orang-orang yang mungkin
tidak memiliki keluarga, seperti yang
kamu pelajari di sekolah, orang miskin
dan anak-anak terlantar seharusnya
menjadi tanggung jawab negara, dalam
hal ini aparat pemerintahannya. Begitu
pun dalam pandangan agama, seorang
pemimpin wajib memperhatikan
kesejahteraan hidup rakyat yang
dipimpinnya.” Bunda menambahkan.
Kening Anisa berkerut. Masih ada yang
mengganjal di hatinya. “Tapi kok masih
banyak orang-orang yang hidupnya
kekurangan, terlantar di pinggir jalan
dan tinggal di kolong-kolong jembatan.
Apa pemerintah kita tidak tahu, pura-
pura atau justru tidak mau tahu?
Jangan-jangan, para pejabat negeri ini
beralasan kalau mereka sekedar
mengikuti sunah nabi. Karenanya
mereka selalu mengutamakan keluarga
dan kerabatnya saja? Memperkaya diri
sendiri dengan cara korupsi?”
Bunda terkekeh. Cara berfikir Anisa
memang seringkali melampaui anak
seusianya.
“Secara pribadi seorang pejabat tidak
salah jika mengutamakan keluarga dan
kerabatnya. Tapi sebagai aparat
pemerintah, mereka bertanggung jawab
terhadap kesejahteraan rakyat yang
dipimpinnya. Bukankah dalam ruang
lingkup negara, seluruh warga negara
adalah juga keluarganya? Jadi kalau ada
seorang pemimpin, pejabat negara
yang tidak peduli dengan rakyatnya,
dan hanya mengutamakan keluarga
dalam kehidupan pribadinya, maka ia
telah menyalahi amanah yang rakyat
berikan kepadanya. Apalagi kalau
sampai korupsi, memperkaya diri dan
keluarganya sendiri dengan mengambil
hak-hak rakyat, maka tunggulah di
akhirat, ia akan diminta
pertanggungjawabannya.”
Anisa mengangguk. Bukan sok paham,
ia benar-benar telah paham.
“Ya sudah, kalau begitu baju Anisa yang
biru itu buat Aisyah saja. Lain kali, kalau
ada yang sudah tidak muat lagi baru
Anisa berikan kepada anak si penjual
jajanan.”
“Berdoalah, Nak. Semoga Allah
meluaskan rezeki kita agar kita bisa
berbagi dengan banyak orang. Tak
harus menunggu baju kamu kekecilan,
tapi kita bisa membelikan baju-baju
baru untuk mereka yang hidupnya
kekurangan.”
“Amin…”