Kamis, 13 Desember 2012

Benarkah Habib itu Wali Allah?

Benarkah Habib itu Wali
Allah?
Ketika disebut kata habib,
maka yang langsung terbayang
dalam benak kita adalah
seorang keturunan Rasulullah
yang memiliki keistimewaan
yang tidak dimiliki orang
lainnya dan merupakan
seorang wali Allah. Itulah yang
dapat ditangkap dari
pemahaman masyarakat
terhadap habib ini. Lalu
siapakah wali Allah yang
sebenarnya? Apakah benar
setiap habib adalah wali Allah?
Definisi Wali
Secara etimologi, kata wali
adalah lawan
dari ‘aduwwu (musuh)
dan muwaalah adalah lawan
dari muhaadah (permusuhan).
Maka wali Allah adalah orang
yang mendekat dan menolong
(agama) Allah atau orang yang
didekati dan ditolong Allah.
Definisi ini semakna dengan
pengertian wali dalam
terminologi Alquran,
sebagaimana Allah berfirman,
ﻵَﺃ َّﻥِﺇ َﺀﺂَﻴِﻟْﻭَﺃ ٌﻑْﻮَﺧَﻻ ِﻪﻠﻟﺍ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ
{62} َﻥﻮُﻧَﺰْﺤَﻳ ْﻢُﻫَﻻَﻭ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ
ﺍﻮُﻨَﻣﺍَﺀ َﻥﻮُﻘَّﺘَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛَﻭ 63}
“Ingatlah, sesungguhnya wali-
wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka
dan tidak (pula) mereka
bersedih hati. (Yaitu) orang-
orang beriman dan selalu
bertakwa.” (QS. Yunus: 62–63)
Dari ayat tersebut, wali adalah
orang yang beriman kepada
Allah dan apa yang datang
dari-Nya yang termaktub
dalam Alquran dan terucap
melalui lisan Rasul-Nya,
memegang teguh syariatnya
lahir dan batin, lalu terus
menerus memegangi itu semua
dengan
dibarengi muroqobah (merasa
diawasi oleh Allah), kontinyu
dengan sifat ketakwaan dan
waspada agar tidak jatuh ke
dalam hal-hal yang dimurkai-
Nya berupa kelalaian
menunaikan kewajiban dan
melakukan hal yang
diharamkan.
(Lihat Muqoddimah Karomatul
Auliya’, Al-Lalika’i , Dr. Ahmad
bin Sa’d Al-Ghomidi, 5:8).
Ibnu Katsir rahimahullah
menafsirkan, “Allah Ta’ala
menginformasikan bahwa para
wali Allah adalah orang-orang
yang beriman dan bertakwa.
Siapa saja yang
bertakwa ,maka dia adalah wali
Allah.” ( Tafsir Ibnu Katsir,
2:384).
Syaikh Ibnu
Utsaimin rahimahullah juga
menjelaskan dalam Syarah
Riyadhus Shalihin no.96, bahwa
wali Allah adalah orang-orang
yang beriman dan bertakwa.
Mereka merealisasikan
keimanan di hati mereka
terhadap semua yang wajib
diimani, dan mereka
merealisasikan amal sholih
pada anggota badan mereka,
dengan menjauhi semua hal-
hal yang diharamkan seperti
meninggalkan kewajiban atau
melakukan perkara yang
haram. Mereka
mengumpulkan pada diri
mereka kebaikan batin dengan
keimanan dan kebaikan lahir
dengan ketakwaan, merekalah
wali Allah.
Wali Allah Adalah yang
Beriman Kepada
Rasulullah shallallahu ‘Alaihi
Wa Sallam
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
dalam kitabnya yang
berjudul Al Furqon Baina
Auliya’ir Rohman wa Auliya’us
Syaithon Hal.34 mengatakan,
“Wali Allah hanyalah orang
yang beriman kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam , beriman dengan apa
yang dibawanya, dan
mengikutinya secara lahir dan
batin. Barangsiapa yang
mengaku mencintai Allah dan
wali-Nya, namun tidak
mengikuti beliau maka tidak
termasuk wali Allah bahkan
jika dia menyelisihinya dan
berbuat bid’ah, maka termasuk
musuh Allah dan wali setan.
Allah Ta’ala berfirman,
ْﻞُﻗ ﻥِﺇ ْﻢُﺘﻨُﻛ َﻥﻮُّﺒِﺤُﺗ َﻪﻠﻟﺍ
ﻲِﻧﻮُﻌِﺒَّﺗﺎَﻓ ُﻢُﻜْﺒِﺒْﺤُﻳ ْﺮِﻔْﻐَﻳَﻭ ُﻪﻠﻟﺍ
ْﻢُﻜَﺑﻮُﻧُﺫ ْﻢُﻜَﻟ
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-
benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-
dosamu’.” (QS. Ali Imran: 31)
Hasan Al Bashri berkata,
“Suatu kaum mengklaim
mencintai Allah, lantas Allah
turunkan ayat ini sebagai ujian
bagi mereka.”
Allah sungguh telah
menjelaskan dalam ayat
tersebut, barangsiapa yang
mengikuti
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, maka Allah akan
mencintainya. Namun siapa
yang mengklaim mencintai-Nya
tapi tidak mengikuti
beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam maka tidak termasuk
wali Allah. Walaupun banyak
orang menyangka dirinya atau
selainnya sebagai wali Allah,
tetapi kenyataannya mereka
bukan wali-Nya.
Dari uraian di atas, terlihat
bahwa cakupan definisi wali ini
begitu luas, mencakup setiap
orang yang memiliki keimanan
dan ketakwaan. Maka wali
Allah yang paling utama adalah
para nabi. Para nabi yang
paling utama adalah para
rasul. Para Rasul yang paling
utama adalah ‘ulul azmi.
Sedang ‘ulul azmi yang paling
utama adalah Nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam .
Dengan demikian sangat salah
suatu pemahaman yang
berkembang di masyarakat kita
saat ini, bahwa wali itu hanya
monopoli orang-orang tertentu,
semisal ulama, habib, kyai,
apalagi hanya terbatas pada
orang yang memiliki ilmu yang
aneh-aneh dan sampai pada
orang yang meninggalkan
kewajiban syariat yang
dibebankan padanya.
Kalau pun benar seseorang
merupakan keturunan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam, maka hal itu hanya
keistimewaan dari segi nasab
saja, apabila ia tidak beriman
dan beramal sholih sesuai
tuntunan Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam
keistimewaan itu akan
terkubur sia-sia dan tidak akan
berarti. Nabi shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Wahai kaum Quraisy – atau
perkataan yang mirip ini-,
selamatkanlah jiwa kalian
sesungguhnya aku tidak bisa
menolong kalian sama sekali.
Wahai bani Abdu Manaf, aku
sama sekali tidak bisa menolong
kalian. Wahai Abbas bin
Abdilmuttholib, aku tidak bisa
menolongmu sama sekali.
Wahai Sofiyah bibinya
Rasululllah, aku sama sekali
tidak bisa menolongmu. Wahai
Fatimah putri Muhammad,
mintalah kepadaku apa yang
engkau kehendaki dari hartaku,
aku sama sekali tidak bisa
menolongmu.” (HR. Al-Bukhari,
no. 4771)
Maksudnya, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidak berkuasa menarik
kemanfaatan bagi dirinya dan
keluarganya juga beliau tidak
mampu menolak
kemudharatan dari dirinya dan
keluarganya serta tidak
mampu mencegah adzab Allah
yang akan menimpanya jika
mereka bermaksiat kepada
Allah.
Wallahu a’lam.
Sumber :
konsultasisyariah.com ,
muslim.or.id