Kamis, 13 Desember 2012

Jika Allah Memang Ada

Suatu ketika, seseorang mengeluh kepada
sahabatnya tentang kesulitan hidupnya. Dia
lalu menanyakan banyak hal. Sesaat
kemudian, mereka berdua terlibat
percakapan yang hangat.
Pertanyaan pertama diajukannya ...
"Apakah pernah kau berpikir, jika Allah
memang ada, mengapa ya harus ada
kesedihan dan air mata? bukankah
gampang baginya untuk membuat semua
hal menjadi bahagia?"
Sang sahabat dengan tenang menjawab,
"Sahabatku...tanpa mengalami kesedihan,
manusia tak akan tahu tentang sebuah
kesyukuran saat mereka akhirnya bisa
berbahagia. Jika manusia tak pernah
bersedih, mereka juga akan mudah lupa
tentang indahnya semangat bangkit dari
keterpurukan.
Kesedihan akhirnya juga menuntun manusia
untuk menyadari bahwa tiada
kesempurnaan sebuah bahagia, kecuali jika
dia meletakkan segalanya hanya kepada
Allah yang maha kuasa.
Dia kemudian bertanya kembali, "Lalu, jika
Allah memang ada, mengapa harus ada
kegagalan? Bukankah mudah bagiNya untuk
membuat segalanya selalu dalam keadaan
berhasil?"
Sang sahabat kembali menjawab,
"InshaAllah dengan berlalunya waktu,
manusia akan menyadari bahwa kegagalan
selalu mengajarkan pentingnya semangat
"sekali lagi". Sebuah semangat yang akan
mendekatkan kita pada sebuah
keberhasilan dan kesuksesan yang
sebenarnya.
Kegagalan menjadikan manusia tegar dalam
cobaan, dan tetap rendah hati saat dia telah
berhasil. Dengan itu pula terseleksilah
mana- mana manusia yang kuat dan mana
saja manusia yang lemah.
Kegagalan juga mengajarkan sebuah sifat
mulia yaitu menghargai. Lihatlah para
manusia yang pernah gagal dalam sesuatu,
dia akan melangkah dengan hati- hati dan
lebih menghargai, karena dia telah
menyaksikan sendiri dan merasakan sendiri
bagaimana susahnya menjadi manusia yang
gagal. Setelah itu, saksikanlah pula, bahwa
akan ada sesuatu yang membaik dalam
hidupnya.
Selain itu, Allah ingin menguji siapa yang
serius untuk menjauh dari hal yang
bernama gagal. Allah juga ingin melihat
siapa hambanya yang serius berusaha
untuk itu, dan siapa yang tidak. Bayangkan
jika di dunia ini, semua hal bisa di dapat
dengan mudah tanpa ada cambuk dari
sebuah kegagalan, pasti tidak akan seru
lagi hidup kita ini, kan?
Masih dengan rasa penasaran yang hebat,
pertanyaan kembali dihadirkan olehnya,
"Jika Allah memang ada, kenapa harus
hambanya menjadi seorang miskin dan
yang lain kaya?"
Tetap dengan senyum, sang sahabat
menjawab, "Pernahkan kau melihat orang
kaya yang tak bisa menikmati kekayaannya
dan malah menjadikan semuanya itu terasa
kosong dikehidupannya?. Pernahkah juga
kau menyaksikan, orang miskin yang dengan
ringan bisa tertawa riang tanpa beban,
walau mereka tidak tahu apa yang akan
mereka makan besok?. Allah telah banyak
memiskinkan orang kaya karena terlalu
sibuknya mereka dengan harta, dan
mengkayakan orang miskin lantaran luasnya
hati mereka menyikapi kehidupan. Sungguh,
bukan banyaknya atau sedikitnya harta yang
membahagiakan, namun hanya sebuah
keberkahan yang terkandung di dalamnya
lah yang mendamaikan batin kita, dan
itulah yang sebenar-benarnya kita
butuhkan.
Allahpun juga ingin menguji, siapa
hambanya yang tetap pada jalanNya,
bahkan saat dia kaya ataupun miskin.
Bukankah harta adalah salah satu yang
menggelitik batin manusia untuk mudah
berpaling dariNya?
Allah juga mengajarkan bahwa jika kau
ingin beroleh banyak harta, maka kerja
keraslah yang harus kita lakukan, atau
kemiskinan akan mendera kehidupan kita.
Kau rajin maka kau kaya, kau malas maka
kau akan miskin, dengan semua itu
bukankah Allah itu sudah sangat maha
adil?"
Selanjutnya, seperti tidak mau kalah,
pertanyaan bertubi- tubi pun tetap
dilontarkannya. "Lalu bisakah kau
menjelaskan mengapa harus ada sebuah
kekurangan di dunia ini? bukankah dengan
kuasaNya, Allah bisa melebihkan kita atas
segala hal?. Dan bagaimana pula dengan
sebuah kekalahan? Mengapa dia biarkan
manusia mengalami kekalahan?"
Sang sahabat menjawab, "Jika engkau hidup
dalam kekurangan, tahukah kau sebenarnya
itulah cara Allah menyayangmu. Kau akan
selalu dekat dengannya. Kau akan sangat
ringan menengadahkan tanganmu dalam
memohon, kau akan sangat tulus dalam
menangis saat meminta, dan kau akan
merendahkan dirimu demi terkabulnya doa-
doamu. Sampai- sampai kau tak punya
waktu lagi untuk berbuat dosa kepadaNya.
Dan ketika semua itu tercapai, kau akan
menyadari bahwa yang kau perlukan
sebenarnya hanyalah Allah saja, maka
hidupmu akan terasa sangat lengkap dan
berlebih.
Dan tentang sebuah kekalahan, tahukah kau
bahwa Dia sangat menyayangmu sehingga
Allah tidak ingin melihatmu sombong
dengan terus menerus memberikan
kemenangan. Dia ingin menegaskan
kepadamu bahwa sifat sombong itu tidak
pantas untukmu. Bahwa diatas langit masih
ada langit. Bukankah Allah itu sangat baik
dengan tetap menjagamu untuk selalu
menjadi manusia yang rendah hati dan mau
terus menerus memperbaiki untuk menjadi
seorang pemenang?
Mendengar penjelasan sahabatnya, sebuah
pertanyaan kembali diajukan "Bagaimana
halnya dengan rasa sakit? Jika Allah
memang ada, kenapa dia membiarkan
kesakitan mendera tubuh dan hati
manusia?"
Kesakitan yang terus menerus yang
dirasakan manusia sebenarnya hanyalah
peringatan kepada manusia tentang efek
kejahatan mereka sendiri. Allah Subhanahu
wata'ala juga ingin menyadarkan manusia,
bahwa sebenarnya hanya Dia lah yang
maha menyembuhkan. Hanya dengan
mendekat kepadaNya manusia akan
sembuh dari segala sakitnya. Allah selalu
ingin kau berakrab dengan kita, bahkan saat
semua manusia meninggalkan kita sendirian
dalam kesakitanmu. Percayalah bahwa baik
ataupun buruk yang terjadi kepadamu,
Allah senantiasa menyayangmu dan tak
akan pernah mendholimimu.
Setelah menjawab banyak pertanyaan
tersebut, sang sahabat ganti bertanya
kepadanya "Sekarang jawablah
pertanyaanku. Jika memang Allah jelas-
jelas ada, mengapa kau masih menyembah
sesuatu yang lain selainNya?. Mengapa kau
masih berharap kepada yang lain selain
pada ridhoNya?. Bukankah Allah adalah
yang maha kuasa untuk menghidupkan
bahkan mematikanmu?
Jika Allah itu memang ada, mengapa kau
masih kerap berputus asa dan bersedih
atas dunia?. Bukankah rejeki bahkan jatah
nafasmu telah dihitung dan bahkan dijamin
kepastiannya?. Dahulu kau terlahir bahkan
tanpa bekal apapun, namun kini mereka
telah menjadi seseorang manusia yang utuh
yang mengenal dunia.
Jika Allah memang ada, mengapa kau
masih mengeluh atas kesengsaraan, dan
kegagalan, akibat ulah tanganmu sendiri?
bukankah Allah itu maha penolong?.
Mengapa kau tak lantas membuang egomu
jauh- jauh, menengadahkan tangan dan
bersujud memohon ampun serta
pertolongan kepadaNya. Malah kau sibuk
memprotes Allah, dengan begitu banyak
pertanyaan?
Mendengar hal itu, dia hanya terdiam tanpa
bisa menjawab apapun.
Sang sahabat kemudian meneruskan
perkataannya "Ketahuilah sahabatku, Allah
memang ada, dia menyayangmu dengan
caraNya, dia mengawasimu bahkan dengan
cara yang Maha detail dari yang pernah
kau kira, Dia tetap menemanimu saat kau
butuh atau saat kau acuh. Yang kau
perlukan hanyalah percaya, bahwa Allah itu
benar- benar ada. Dia dekat dengan para
pemilik hati yang teduh, dengan jiwa yang
damai, dan sikap yang indah, yang percaya
bahwa Allah itu maha pengasih dan tidak
pernah meragukan atau bahkan
mempertanyakan "Jika Allah memang
ada,mengapa aku begini dan begitu...?"