Selasa, 18 Desember 2012

USUL BID'AH BAB 6 (DALIL-DALIL BID'AH ADALAH SESAT)


BAB KE ENAM
DALIL-DALIL AL QUR'AN &
HADIST SERTA ATSYAR YANG
MENJELASKAN BETAPA SESAT &
TERCELANYA BID'AH DALAM
AGAMA.
Larangan dari melakukan bid'ah
adalah larangan dari pembuat
syari'at karana larangan tersebut
disertai dengan berbagai-bagai
ancaman oleh Allah dan Rasul-
Nya. Diantara yang paling tegas
ialah larangan akan berlaku
kesesatan dan pelanggaran batas
hukum (hudud) yang telah
ditetapkan oleh Allah di dalam
syari'at yang akhirnya membawa
kepada kefasikan dan mengkufuri
agama serta ayat-ayat Allah. Hal
ini telah dijelaskan oleh allah &
RasulNya sallallahu 'alaihi wa
sallam diantaranya
A. DALIL DARI AL QUR'AN:
Dalil dari al qur'an:
{ ْﻞُﻗ ْﻢُﺘْﻨُﻛ ْﻥِﺇ َﻥﻮُّﺒِﺤُﺗ َﻪَّﻠﻟﺍ
ُﻢُﻜْﺒِﺒْﺤُﻳ ﻲِﻧﻮُﻌِﺒَّﺗﺎَﻓ ُﻪَّﻠﻟﺍ }
Katakanlah: "Jika kamu (benar-
benar) mencintai Allah, ikutilah
aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu." ( QS
Al-Imran : 31) dalam ayat ini di
perintahkan bagi kita untuk
mengikuti ( itiba') Rasulullah
salallahu 'alaihi wasalam.
ﻪﻟﻮﻗﻭ ﻞﺟ- :-ﻼﻋﻭ ُﻩﻮُﻌِﺒَّﺗﺍَﻭ }
َﻥﻭُﺪَﺘْﻬَﺗ ْﻢُﻜَّﻠَﻌَﻟ }
“Dan ikutilah Dia ( muhammad )
supaya kamu mendapat petunjuk".
( QS Al-A'raf : 158 )
:ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻪﻟﻮﻗﻭ } ْﺪَﻘَﻟ َﻥﺎَﻛ ْﻢُﻜَﻟ ﻲِﻓ
ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻝﻮُﺳَﺭ ٌﺓَﻮْﺳُﺃ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ }
“Sesungguhnya Telah ada pada
(diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagimu.” ( QS al
ahzab:21 )
ﺎَﻣَﻭ ُﻝﻮُﺳَّﺮﻟﺍ ُﻢُﻛﺎَﺗَﺁ ُﻩﻭُﺬُﺨَﻓ ﺎَﻣَﻭ
ْﻢُﻛﺎَﻬَﻧ ﺍﻮُﻬَﺘْﻧﺎَﻓ ُﻪْﻨَﻋ
“Apa yang diberikan Rasul
kepadamu, maka terimalah. dan
apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah.” (QS Al-Hasyr :
7).
ﻪﻟﻮﻗﻭ - ﺰﻋ ﻞﺟﻭ - } ْﻡَﺃ ْﻢُﻬَﻟ ُﺀﺎَﻛَﺮُﺷ
ﺍﻮُﻋَﺮَﺷ ْﻢُﻬَﻟ َﻦِﻣ ِﻦﻳِّﺪﻟﺍ ﺎَﻣ ْﻢَﻟ ْﻥَﺫْﺄَﻳ
ِﻪِﺑ ُﻪَّﻠﻟﺍ }
“Apakah mereka mempunyai
sembahan-sembahan selain Allah
yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan
Allah?” (Qs As-Syura' : 21 )
ﻥﺃﻭ ﺍﺬﻫ ﺎﻤﻴﻘﺘﺴﻣ ﻲﻃﺍﺮﺻ
ﻩﻮﻌﺒﺗﺎﻓ ﺍﻮﻌﺒﺘﺗ ﻻﻭ ﻞﺒﺴﻟﺍ
ﻕﺮﻔﺘﻓ ﻢﻜﺑ ﻪﻠﻴﺒﺳ ﻦﻋ ﻢﻜﻟﺫ
ﻢﻛﺎﺻﻭ ﻢﻜﻠﻌﻟ ﻪﺑ ﻥﻮﻘﺘﺗ
“Dan bahwa (yang Kami
perintahkan) ini adalah jalan-Ku
yang lurus, maka ikutilah dia; dan
janganlah kamu mengikuti jalan-
jalan (yang lain), karena jalan-jalan
itu mencerai-beraikan kamu dari
jalan-Nya. Yang demikian itu
diperintahkan Allah kepadamu
agar kamu bertakwa. QS Al-An'am
(6) : 153
Diriwayatkan dari Abul Hujjaj bin
Jubair Al-Makky(1), menafsirkan
ﺍﻮﻌﺒﺘﺗ ﻻﻭ ﻞﺒﺴﻟﺍ (dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan yang
lain), beliau berkata yang
dimaksud dengan ﻞﺒﺴﻟﺍ (jalan-
jalan yang lain) adalah bid’ah dan
syubuhat.
B. DALIL DARI AS SUNNAH
ْﻢُﻜْﻴِﺻْﻭُﺍ ﻯَﻮْﻘَﺘِﺑ ِﻪﻠﻟﺍ َّﺰَﻋ َّﻞَﺟَﻭ
ِﺔَﻋﺎَّﻄﻟﺍَﻭ ِﻊْﻤَّﺴﻟﺍَﻭ ْﻥِﺍَﻭ َﻥﺎَﻛ ﺍًﺪْﺒَﻋ
ﺎًّﻴِﺸَﺒَﺣ ، ُﻪَّﻧِﺎَﻓ ْﻦَﻣ ْﺶِﻌَﻳ ْﻢُﻜْﻨِﻣ ﻯَﺮَﻳ
ﺎًﻓَﻼِﺘْﺧِﺍ ﻯِﺪْﻌَﺑ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻌَﻓ ﺍًﺮْﻴِﺜَﻛ
ِﺔَّﻨُﺳَﻭ ْﻰِﺘَّﻨُﺴِﺑ ِﺀﺎَﻔَﻠُﺨْﻟﺍ َﻦْﻳِﺪِﺷﺍَّﺮﻟﺍ
َﻦْﻴِّﻳِﺪْﻬَﻤْﻟﺍ ْﻦِﻣ ﻯِﺪْﻌَﺑ ﺎَﻬِﺑﺍﻮُﻜَّﺴَﻤَﺗ
ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ ﺍْﻮُّﻀَﻋَﻭ ْﻢُﻛﺎَّﻳِﺍَﻭ ِﺬِﺟﺍَﻮَّﻨﻟﺎِﺑ
ِﺭْﻮُﻣُﻻْﺍ ِﺕﺎَﺛَﺪْﺤُﻣَﻭ َّﻥِﺎَﻓ َّﻞُﻛ ٍﺔَﺛَﺪْﺤُﻣ
ﺔَﻋْﺪِﺑ َّﻥِﺍَﻭ َّﻞُﻛ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ٌﺔَﻟَﻼَﺿ
"Aku berwasiat kepada kamu
sekalian supaya bertakwa kepada
Allah, mendengar dan taat
sekalipun diperintah oleh seorang
hamba Habsyi. Sesungguhnya
siapa saja yang hidup (selepas ini)
di antara kamu sekalian selepasku
akan melihat perselisihan yang
banyak, maka kembalilah
(berpeganglah) kamu kepada
sunnahku dan sunnah para Khulafa
ar-Rasyidin selepas peninggalanku,
berpegang teguhlah dengannya,
maka gigitlah dengan gigi geraham,
kemudian berhati-hatilah dengan
hal yang baru (dicipta dalam
agama) sesungguhnya setiap
ciptaan yang baru itu adalah
bid'ah dan setiap yang bid'ah itu
sesat". (Hadis Riwayat Ahmad
(1653). At-Tirmizi (2600). Musnad
Abu Daud (3991). As-Sunnan Ibn
Majah (42))
ُّﻞُﻛ ٌﺔَﻋْﺪِﺑ ٍﺔَﺛَﺪْﺤُﻣ ُّﻞُﻛَﻭ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ٌﺔَﻟَﻼَﺿ
ُّﻞُﻛَﻭ ٍﺔَﻟَﻼَﺿ ﻰِﻓ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ
"Setiap yang diada-adakan itu
bid'ah, setiap yang bid'ah itu sesat
dan setiap yang sesat itu adalah
ke dalam neraka". (Hadis Riwayat
Muslim)
ﻰِﻓ ِّﻰِﺒَّﻨﻟﺍ ِﺔَﺒْﻄُﺧ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ :َﻝﺎَﻗ ﺎَّﻣَﺍ :ُﺪْﻌـَﺑ َّﻥِﺎَﻓ َﺮْﻴَﺧ
ِﺚـْﻳِﺪَﺤْﻟﺍ ِﻪﻠﻟﺍ ُﺏﺎَﺘِﻛ َّﺰَﻋ َّﻞَﺟَﻭ ،
ِﻱْﺪَﻬْﻟﺍ َﺮْﻴَﺧَﻭ ُﻱَْﺪَﻫ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ
ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠـَﺳَﻭ ، َّﺮَﺷَﻭ ِﺭﻮُﻣُﻻْﺍ
ﺎَﻬُﺗﺎَﺛَﺪْﺤُﻣ ، ّﻞُﻛَﻭ ٍﺔَﺛَﺪْﺤُﻣ ٌﺔَﻋْﺪِﺑ ،
َّﻞُﻛَﻭ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ٌﺔَﻟَﻼَﺿ ، َّﻞُﻛَﻭ ٍﺔَﻟَﻼَﺿ ﻰِﻓ
ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ
"Dalam khutbah Nabi sallallahu
'alaihi wa sallam baginda
bersabda: Kemudian dari itu,
sesungguhnya sebaik-baik
perkataan itu kitab Allah, sebaik-
baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad sallallahu 'alaihi wa
sallam dan sekeji-keji perkara
(perbuatan) ialah mengada-adakan
yang baru dan setiap bid'ah (yang
baru itu) adalah sesat dan setiap
yang sesat ke neraka". (Hadis
Riwayat Muslim, Abu Daud dan
Ibn Majah)
_____________________________________
_____
(1) Beliau adalah Sa'id bin Jubair,
ulama’ Tabi'in yang ahli tafsir dan
pakar di zamannya
Dari hadits di atas, dinyatakan
bahwa ﻞﻛ ﺔﻟﻼﺿ ﺔﻋﺪﺑ (Tiap bid’ah
itu sesat), yakni hal ini
menunjukkan secara terang dan
nyata bahwa tidak ada bid’ah
hasanah, karena Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa Salam telah
menjelaskan secara gamblang
bahwa ﻞﻛ ﺔﻟﻼﺿ ﺔﻋﺪﺑ (Tiap bid’ah
itu sesat). Para ulama’ sepakat
bahwa kata ﻞﻛ (Kullu) yang diikuti
oleh ﻢﺳﺍ ﺓﺮﻗﺎﻧ ism naaqirah
(obyek indefinitif) bukan ﻢﺳﺍ
ﺔﻓﺮﻌﻣ ‘ism ma’rifat (obyek
definitif) tanpa adanya
ﺀﺎﻨﺜﺘﺳﺍistitsna’ (pengecualian),
maka ia terkena keumuman dari
kata ﻞﻛ (Kullu) tersebut. Sehingga
bermakna, bahwa semua bid’ah
tanpa terkecuali adalah sesat!!!
Maka batallah pernyataan
sebagian kaum muslimin yang
menyatakan bahwa bid’ah itu ada
yang hasanah.
ْﻦَﻋ َﺔَﻔـْﻳَﺬُﺣ :َﻝﺎَﻗ ُﻞـَﺒـْﻘـﻳَﻻ ُﻪﻠﻟﺍ
ِﺔَﻋْﺪِﺒْﻟﺍ ِﺐِﺣﺎَﺼِﻟ ًﺓَﻼَﺻ ﺎًﻣْﻮَﺻَﻻَﻭ َﻻَﻭ
ًﺔـَﻗَﺪَﺻ َﻻَﻭ ﺎًﺟﺎَﺣ َﻻَﻭ ًﺓَﺮْﻤُﻋ َﻻَﻭ
ﺎًﻓَﺮـَﺻَﻻَﻭ ﺍًﺩﺎَﻬِﺟ ًﻻْﺪَﻋَﻻَﻭ ، ُﺝُﺮـْﺨَﻳ
َﻦِﻣ ِﻡَﻼْﺳِﻻْﺍ ﺎَﻤَﻛ َﺓَﺮْﻌـَّﺸﻟﺍ ُﺝُﺮْﺨَﻳ َﻦِﻣ
.ِﻦْﻴِﺠَﻌْﻟﺍ ﻩﺍﻭﺭ ﻦﺑﺍ ﻪﺟﺎﻣ
"Dari Huzaifah radhiallahu 'anhu
baginda berkata: Allah tidak akan
menerima dari pembuat bid'ah
puasa, sembahyang, haji, umrah,
jihad, kebaikan dan keadilan (yang
dikerjakannya). Dia akan keluar
dari Islam sebagaimana keluarnya
rambut dari tepung". (Hadis
Riwayat Ibn Majah. Lihat: ﺢﺘﻓ
ﻯﺭﺎﺒﻟﺍ jld. 17. hlm. 10. Hadis ini
lemah dan sebahagian ulama hadis
mendapati hadis ini adalah hadis
mungkar)
ﻰَﺑَﺍ ُﻪﻠﻟﺍ ْﻥَﺍ َﻞَﺒْﻘَﻳ َﻞَﻤَﻋ ﺐِﺣﺎَﺻ
ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ﻰَّﺘَﺣ ﺎَﻬَﻋَﺪَﻳ
"Allah tidak akan menerima
amalan pelaku (pembuat) bid'ah
hingga ditinggalkan bid'ah
tersebut". (Hadis Riwayat Ibn
Majah (49) Muqaddimah)
َﺙَﺪْﺣَﺍ ﺎَﻣ ٌﻡْﻮَﻗ ًﺔَﻋْﺪِﺑ َّﻻِﺍ َﻊِﻓُﺭ ﺎَﻬُﻠْﺜِﻣ
ِﺔَّﻨُّﺴﻟﺍ َﻦِﻣ ُﻚَّﺴَﻤَﺘَﻓ ٍﺔَّﻨُﺴِﺑ ٌﺮْﻴَﺧ ْﻦِﻣ
ِﺙﺍَﺪْﺣِﺍ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ
"Tidak akan (dibiarkan) berlaku
bid'ah pada satu-satu kaum,
kecuali akan dicabut (oleh Allah)
satu sunnah dari mereka yang
sepertinya. Maka berpegang
kepada sunnah lebih baik dari
melakukan (mencipta) satu
bid'ah". (Hadis Riwayat Ahmad
(16356))
ْﻦَﻣ ﺎَﻧِﺮْﻣَﺎﻯِﻓ َﺙَﺪْﺣَﺍ ﺍَﺬَﻫ ﺎَﻣ َﺲْﻴَﻟ
ُﻪْﻨِﻣ َﻮُﻬَﻓ ٌّﺩَﺭ
"Siapa yang mencipta (mengada-
adakan) yang baru dalam urusan
(agama) Kami ini, maka itu
tertolak". (Hadis Riwayat Ahmad
(24840). Bukhari (2499) as-Soleh.
Muslim (3242) al-Aqdhiah. Abu
Daud (3990) as-Sunnan. Ibn Majah
(14) Muqaddimah)
Imam Nawawi rahimahullah
berkata: "Hadits ini merupakan
kaidah yang agung dari kaidah-
kaidah Islam". Beliau
menambahkan lagi: "Hadits ini
termasuk hadits yang sepatutnya
dihafalkan dan digunakan dalam
membatilkan seluruh kemungkaran
dan seharusnya hadits ini
disebarluaskan untuk diambil
sebagai dalil". ( Syarah Shahih
Muslim)
Al Hafidz Ibnu Hajar Al Atsqalani
rahimahullah setelah
membawakan hadits ini dalam
syarahnya terhadap kitab Shahih
Bukhari, beliau berkomentar :
"Hadits ini terhitung sebagai pokok
dari pokok-pokok Islam dan satu
kaidah dari kaidah-kaidah agama".
(Fathul Bari)
Imam Ibnu Rajab Al Hambali
rahimahullah dalam kitabnya
Jami`ul Ulum wal Hikam juga
memuji kedudukan hadits ini,
beliau berkata : "Hadits ini
merupakan pokok yang agung dari
pokok-pokok Islam. Dia seperti
timbangan bagi amalan-amalan
dalam dzahirnya sebagaimana
hadits: (amal itu tergantung pada
niatnya) merupakan timbangan
bagi amalan-amalan dalam
batinnya. Maka setiap amalan
yang tidak diniatkan untuk
mendapatkan wajah Allah tidaklah
bagi pelakunya mendapatkan
pahala atas amalannya itu,
demikian pula setiap amalan yang
tidak ada padanya perintah dari
Allah dan rasulnya maka amalan
itu tidak diterima dari pelakunya.
(Jami`ul Ulum wal Hikam, 1/176)
ْﻦَﻣ َﻞِﻤَﻋ ًﻼَﻤَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﺲْﻴَﻟ ﺎَﻧُﺮْﻣَﺍ َﻮُﻬَﻓ
ٌّﺩَﺭ
"Siapa yang melakukan
(mengerjakan) satu amal yang
bukan dari perintah Kami, maka
(amalan itu) tertolak". (Maksud
tertolak ialah bermakna “bid'ah”
ﺔﻋﺪﺒﻟﺎﺑ ﻰﻤﺴﻤﻟﺍ ﻮﻫ "Ia
dinamakan bid'ah". Lihat: ﻢﻠﻋ
ﻝﻮﺻﺍ ﻉﺪﺒﻟﺍ hlm. 29. Ali Hasan)
Kata Imam Nawawi rahimahullah :
"Hadits ini jelas sekali dalam
membantah setiap bid`ah dan
perkara yang diada-adakan dalam
agama". (Syarah Muslim, 12/16)
Namun bila ada pelaku bid`ah
dihadapkan padanya hadits ini,
kemudian dia mengatakan bahwa
bid`ah tersebut bukanlah dia yang
mengada-adakan akan tetapi dia
hanya melakukan apa yang telah
diperbuat oleh orang-orang
sebelumnya sehingga ancaman
hadits di atas tidak mengenai
pada dirinya. Maka terhadap
orang seperti ini disampaikan
padanya hadits :
"Siapa yang mengamalkan suatu
amalan yang tidak di atas perintah
kami maka amalannya itu
tertolak". Dengan hadits ini akan
membantah apa yang ada pada
orang tersebut dan akan menolak
setiap amalan yang diada-adakan
tanpa dasar syar`i. Sama saja
apakah pelakunya yang membuat
bid`ah tersebut adalah dia atau
dia hanya sekedar melakukan
bid`ah yang telah dilakukan oleh
orang-orang sebelumnya.
Demikian penerangan ini juga
disebutkan oleh Imam Nawawi
dengan maknanya dalam kitab
beliau Syarah Muslim (12/16)
ketika menjelaskan hadits ini.
Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali
rahimahullah berkata : "Dalam
sabda Nabi shallallahu alaihi
wasallam :
َﺲْﻴَﻟ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﺎَﻧُﺮْﻣَﺃ َﻮُﻬَﻓ ٌّﺩَﺭ
ada isyarat bahwasanya amalan-
amalan yang dilakukan seharusnya
di bawah hukum syariah di mana
hukum syariah menjadi pemutus
baginya apakah amalan itu
diperintahkan atau dilarang.
Sehingga siapa yang amalannya
berjalan di bawah hukum syar`i,
cocok dengan hukum syar`i maka
amalan itu diterima, sebaliknya
bila amalan itu keluar dari hukum
syar`i maka amalan itu tertolak.
("Jami`ul Ulum wal Hikam",
1/177)
َﻝﺎَﻗ ِﻪﻠﻟﺍ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
:َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻦَﻣ َﻊَﻨَﺻ ﺍًﺮْﻣَﺍ ْﻰَﻠَﻋ ِﺮْﻴَﻏ
ﺎَﻧِﺮْﻣَﺍ َﻮُﻬَﻓ ٌّﺩَﺭ
"Bersabda Rasulullah sallallahu
'alaihi wa sallam: Barangsiapa
yang berbuat sesuatu urusan yang
bukan dari perintah kami, maka ia
tertolak". (Hadis Riwayat Ibn
Majah)
َﻝﺎَﻗ ِﻪﻠﻟﺍ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
:َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻦَﻤَﻓ َﺐِﻏَﺭ ْﻦَﻋ ْﻲِﺘَّﻨُﺳ َﺲْﻴَﻠَﻓ
ْﻲِّﻨِﻣ ﻖﻔﺘﻣ ﻪﻴﻠﻋ
"Bersabda Rasulullah sallallahu
'alaihi wa sallam: Maka
barangsiapa yang menyimpang
dari Sunnahku, maka bukanlah dia
dari golonganku". Muttafaq 'Alaih.
َﺔَﺸِﺋﺎَﻋ ْﻦَﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ ﺎَﻬْﻨَﻋ :ْﺖَﻟﺎَﻗ
َﻝﺎَﻗ ُﻝْﻮُﺳَﺭ ُﻪﻠﻟﺎﻯَّﻠَﺻ ِﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻦَﻣ َﺮَّﻗَﻭ َﺐِﺣﺎَﺻ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ْﺪَﻘَﻓ
َﻥﺎَﻋَﺍ ﻰَﻠَﻋ ِﻡْﺪَﻫ .ِﻡَﻼْﺳِﻻْﺍ ﺚﻳﺪﺣ
ﻉﻮﻓﺮﻣ
"Dari Aisyah radhiallahu 'anha
berkata: Bersabda Rasulullah
sallallahu 'alaihi wa sallam: siapa
yang memuliakan aktivis/pelaku
bid'ah, maka dia telah menolong
untuk menghancurkan
Islam" (Hadis Riwayat Ahmad.
Lihat: ﺲﻴﻠﺑﺍ ﺲﻴﺒﻠﺗ . Hlm. 14.
Menurut Syeikh Ali Hasan: Hadis
ini adalah hadist hasan isnadnya.
Lihat: ﺲﻔﻨﻟﺍ ﻰﻘﺘﻨﻤﻟﺍ hlm. 37.
Dikeluarkan oleh Al-Lalikaii dalam
ﺡﺮﺷ ﻝﻮﺻﺍ ﺔﻨﺴﻟﺍ ﻞﻫﺍ ) 1/139 ))
Hadis Marfu'. (Ibn Asakir dalam
ﺦﻳﺭﺎﺗ ﺔﻤﺟﺮﺗ :ﻖﺸﻣﺩ ﺱﺎﺒﻌﻟﺍ" ﻦﺑ
ﻰﻠﻜﺸﻟﺍ ﻒﺳﻮﻳ . Hlm. 286)
َّﻥِﺍ ِّﻞُﻜِﻟ ٍﻞَﻤَﻋ ًﺓَّﺮِﺷ َّﻢَﺛَﻭ ًﺓَﺮْﺘَﻓ ْﻦَﻤَﻓ
ْﺖَﻧﺎَﻛ ُﻪُﺗَﺮْﺘَﻓ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ﻰَﻟِﺍ ْﺪَﻘَﻓ َّﻞَﺿ ،
ْﺖَﻧﺎَﻛ ْﻦَﻣَﻭ ُﻪُﺗَﺮْﺘَﻓ ﻰَﻟِﺍ ٍﺔَّﻨُﺳ ْﺪَﻘَﻓ
ﻯَﺪَﺘْﻫﺍ
"Sesungguhnya pada setiap amal
terdapat kegiatan, dan pada amal
ada fitrahnya. Barangsiapa yang
fitrahnya terlibat dengan bid'ah
maka dia telah sesat dan
barangsiapa yang fitrahnya terlibat
dengan sunnah maka dia telah
mendapat petunjuk". (Hadis
Riwayat Ahmad (22376), Musnad.
Hadis sahih. Lihat: ﻡﺎﻤﺗﻻﺍ
23521) ). Lihat: ﻉﺎﺒﺗﺍ ﻦﻨﺴﻟﺍ 8) ))
Faidah hadits
Faidah yang bisa kita ambil dari
hadits ini, di antaranya :
• Batilnya perkara yang diada-
adakan dalam agama
• Larangan terhadap satu perkara
menunjukkan jeleknya perkara
tersebut..
• Islam merupakan agama yang
sempurna, tidak ada kekurangan di
dalamnya dan tidak butuh koreksi
dan protes terhadapnya.
• Perkara yang diada-adakan
dalam agama ini adalah bid`ah
dan setiap bid`ah itu sesat.
• Dengan hadits ini tertolaklah
pembagian bid`ah menjadi
bid`ah hasanah (bid`ah yang
baik) dan bid`ah sayyiah (bid`ah
yang jelek).
Seluruh akad yang dilarang oleh
syariat adalah batil, demikian pula
hasilnya karena apa yang dibangun
di atas kebatilan maka ia batil
pula.
C. DARI ATSAR PARA SALAFUS
SHALEH
Abdullah bin Mas‘ud radhiallahu
'anh adalah sahabat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam yang
begitu terkenal dengan keilmuan
dan kefahamannya dalam agama.
al-Imam al-Darimi rahimahullah
(255H) meriwayatkan bantahan
beliau terhadap bid‘ah berzikir
secara berjama'ah yang muncul
pada zamannya:
ْﻦَﻋ ﻭﺮﻤﻋ ﻦﺑ ﺔﻤﻠﺳ :َﻝﺎَﻗ ﺎَّﻨُﻛ ُﺲِﻠْﺠَﻧ
ﻰَﻠَﻋ ِﺏﺎَﺑ ِﺪْﺒَﻋ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻦْﺑ ٍﺩﻮُﻌْﺴَﻣ َﻞْﺒَﻗ
ِﺓَﻼَﺻ ﺍَﺫِﺈَﻓ ِﺓﺍَﺪَﻐْﻟﺍ َﺝَﺮَﺧ ﺎَﻨْﻴَﺸَﻣ
ُﻪَﻌَﻣ ﻰَﻟِﺇ ﺎَﻧَﺀﺎَﺠَﻓ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ﻮُﺑَﺃ
ﻰَﺳﻮُﻣ ُّﻱِﺮَﻌْﺷَﻷﺍ َﺝَﺮَﺧَﺃ َﻝﺎَﻘَﻓ ْﻢُﻜْﻴَﻟِﺇ
ﻮُﺑَﺃ ِﺪْﺒَﻋ ُ؟ﺪْﻌَﺑ ِﻦَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ :ﺎَﻨْﻠُﻗ !َﻻ
َﺲَﻠَﺠَﻓ ﺎَﻨَﻌَﻣ ﻰَّﺘَﺣ َﺝَﺮَﺧ ﺎَّﻤَﻠَﻓ َﺝَﺮَﺧ
ﺎَﻨْﻤُﻗ ِﻪْﻴَﻟِﺇ .ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ
َﻝﺎَﻘَﻓ ُﻪَﻟ ﻮُﺑَﺃ ﻰَﺳﻮُﻣ ﺎَﻳ ﺎَﺑَﺃ ِﺪْﺒَﻋ
ِﻦَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ ُﺖْﻳَﺃَﺭ ﻲِّﻧِﺇ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ﻲِﻓ
ﺍًﺮْﻣَﺃ ﺎًﻔِﻧﺁ ُﻪُﺗْﺮَﻜْﻧَﺃ ْﻢَﻟَﻭ َﺭَﺃ
ُﺪْﻤَﺤْﻟﺍَﻭ ِﻪَّﻠِﻟ َّﻻِﺇ .ﺍًﺮْﻴَﺧ :َﻝﺎَﻗ ﺎَﻤَﻓ
؟َﻮُﻫ :َﻝﺎَﻘَﻓ ْﻥِﺇ ,َﺖْﺸِﻋ .ُﻩﺍَﺮَﺘَﺴَﻓ :َﻝﺎَﻗ
ُﺖْﻳَﺃَﺭ ِﺪِﺠْﺴَﻤْﻟﺍ ﻲِﻓ ﺎًﻣْﻮَﻗ ﺎًﻘَﻠِﺣ
,َﺓَﻼَّﺼﻟﺍ َﻥﻭُﺮِﻈَﺘْﻨَﻳ ﺎًﺳﻮُﻠُﺟ ﻲِﻓ ِّﻞُﻛ
ٍﺔَﻘْﻠَﺣ ٌﻞُﺟَﺭ ﻲِﻓَﻭ ْﻢِﻬﻳِﺪْﻳَﺃ ,ﻰًﺼَﺣ
:ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ ﺍﻭُﺮِّﺒَﻛ َﻥﻭُﺮِّﺒَﻜُﻴَﻓ ,ًﺔَﺋﺎِﻣ
:ُﻝﻮُﻘَﻴَﻓ .ًﺔَﺋﺎِﻣ ﺍﻮُﻠِّﻠَﻫ .ًﺔَﺋﺎِﻣ
:ُﻝﻮُﻘَﻳَﻭ .ًﺔَﺋﺎِﻣ َﻥﻮُﻠِّﻠَﻬُﻴَﻓ ﺍﻮُﺤِّﺒَﺳ
َﻥﻮُﺤِّﺒَﺴُﻴَﻓ .ًﺔَﺋﺎِﻣ .ًﺔَﺋﺎِﻣ :َﻝﺎَﻗ ﺍَﺫﺎَﻤَﻓ
َﺖْﻠُﻗ ؟ْﻢُﻬَﻟ :َﻝﺎَﻗ ﺎَﻣ ُﺖْﻠُﻗ ْﻢُﻬَﻟ ﺎًﺌْﻴَﺷ
َﺭﺎَﻈِﺘْﻧﺍ َﺭﺎَﻈِﺘْﻧﺍَﻭ َﻚِﻳْﺃَﺭ .َﻙِﺮْﻣَﺃ
:َﻝﺎَﻗ ْﻢُﻬَﺗْﺮَﻣَﺃ َﻼَﻓَﺃ ْﻥَﺃ ﺍﻭُّﺪُﻌَﻳ
,ْﻢِﻬِﺗﺎَﺌِّﻴَﺳ َﺖْﻨِﻤَﺿَﻭ ْﻢُﻬَﻟ ْﻥَﺃ َﻻ َﻊﻴِﻀَﻳ
.ْﻢِﻬِﺗﺎَﻨَﺴَﺣ ْﻦِﻣ َّﻢُﺛ ﺎَﻨْﻴَﻀَﻣَﻭ ﻰَﻀَﻣ ُﻪَﻌَﻣ
ﻰَّﺘَﺣ ﻰَﺗَﺃ ًﺔَﻘْﻠَﺣ ْﻦِﻣ َﻚْﻠِﺗ ِﻖَﻠِﺤْﻟﺍ
َﻒَﻗَﻮَﻓ ,ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ :َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻣ ﺍَﺬَﻫ ﻱِﺬَّﻟﺍ
؟َﻥﻮُﻌَﻨْﺼَﺗ ْﻢُﻛﺍَﺭَﺃ :ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ﺎَﻳ ﺎَﺑَﺃ
ِﺪْﺒَﻋ ِﻦَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ ﻰًﺼَﺣ ُّﺪُﻌَﻧ ِﻪِﺑ
َﺮﻴِﺒْﻜَّﺘﻟﺍ َﻞﻴِﻠْﻬَّﺘﻟﺍَﻭ .َﺢﻴِﺒْﺴَّﺘﻟﺍَﻭ
:َﻝﺎَﻗ ,ْﻢُﻜِﺗﺎَﺌِّﻴَﺳ ﺍﻭُّﺪُﻌَﻓ ﺎَﻧَﺄَﻓ ٌﻦِﻣﺎَﺿ
ْﻥَﺃ َﻊﻴِﻀَﻳ َﻻ ْﻢُﻜِﺗﺎَﻨَﺴَﺣ ْﻦِﻣ ,ٌﺀْﻲَﺷ
ْﻢُﻜَﺤْﻳَﻭ ﺎَﻳ َﺔَّﻣُﺃ ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﺎَﻣ َﻉَﺮْﺳَﺃ
!ْﻢُﻜَﺘَﻜَﻠَﻫ ُﺔَﺑﺎَﺤَﺻ ِﺀَﻻُﺆَﻫ ْﻢُﻜِّﻴِﺒَﻧ ﻰَّﻠَﺻ
ﻪَّﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ,َﻥﻭُﺮِﻓﺍَﻮَﺘُﻣ
ِﻩِﺬَﻫَﻭ ُﻪُﺑﺎَﻴِﺛ ْﻢَﻟ ,َﻞْﺒَﺗ ُﻪُﺘَﻴِﻧﺁَﻭ ْﻢَﻟ
,ْﺮَﺴْﻜُﺗ ﻲِﺴْﻔَﻧ ﻱِﺬَّﻟﺍَﻭ ِﻩِﺪَﻴِﺑ ْﻢُﻜَّﻧِﺇ
ﻰَﻠَﻌَﻟ ٍﺔَّﻠِﻣ َﻲِﻫ ﻯَﺪْﻫَﺃ ْﻦِﻣ ِﺔَّﻠِﻣ ,ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ
ﻮُﺤِﺘَﺘْﻔُﻣ ْﻭَﺃ ِﺏﺎَﺑ !؟ٍﺔَﻟَﻼَﺿ
:ﺍﻮُﻟﺎَﻗ ِﻪَّﻠﻟﺍَﻭ ﺎَﻳ ﺎَﺑَﺃ ِﺪْﺒَﻋ
ِﻦَﻤْﺣَّﺮﻟﺍ ﺎَﻣ ﺎَﻧْﺩَﺭَﺃ َّﻻِﺇ .َﺮْﻴَﺨْﻟﺍ
:َﻝﺎَﻗ ْﻢَﻛَﻭ ْﻦِﻣ ٍﺪﻳِﺮُﻣ ِﺮْﻴَﺨْﻠِﻟ ْﻦَﻟ
.ُﻪَﺒﻴِﺼُﻳ َﻝﻮُﺳَﺭ َّﻥِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ﻪَّﻠﻟﺍ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ َّﻥَﺃ ﺎًﻣْﻮَﻗ
َﻥﺁْﺮُﻘْﻟﺍ َﻥﻭُﺀَﺮْﻘَﻳ َﻻ ُﺯِﻭﺎَﺠُﻳ
ْﻢُﻬَﻴِﻗﺍَﺮَﺗ ُﻢْﻳﺍَﻭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﺎَﻣ ﻱِﺭْﺩَﺃ
ْﻢُﻫَﺮَﺜْﻛَﺃ َّﻞَﻌَﻟ ْﻢُﻜْﻨِﻣ َّﻢُﺛ ﻰَّﻟَﻮَﺗ .ْﻢُﻬْﻨَﻋ
ﻭُﺮْﻤَﻋ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻨْﻳَﺃَﺭ :َﺔَﻤَﻠَﺳ ُﻦْﺑ َﺔَّﻣﺎَﻋ
َﻚِﺌَﻟﻭُﺃ ِﻖَﻠِﺤْﻟﺍ ﺎَﻧﻮُﻨِﻋﺎَﻄُﻳ َﻡْﻮَﻳ
ِﻥﺍَﻭَﺮْﻬَّﻨﻟﺍ ِﺝِﺭﺍَﻮَﺨْﻟﺍ َﻊَﻣ .
Dari ‘Amr bin Salamah(1) katanya:
“Satu ketika kami duduk di pintu
‘Abd Allah bin Mas‘ud sebelum
sholat subuh. Apabila dia keluar,
kami berjalan bersamanya ke
masjid. Tiba-tiba datang kepada
kami Abu Musa al-Asy‘ari, lalu
bertanya: “Apakah Abu ‘Abd al-
Rahman (2) telah keluar kepada
kamu?” Kami jawab: “Tidak!”.
Maka dia duduk bersama kami
sehingga ‘Abd Allah bin Mas‘ud
keluar. Apabila dia keluar, kami
semua bangun kepadanya. Lalu
Abu Musa al-Asy‘ari berkata
kepadanya: “Wahai Abu ‘Abd al-
Rahman, aku telah melihat di
masjid tadi satu perkara yang aku
tidak setuju, tetapi aku tidak lihat
– alhamdulilah – melainkan hal itu
baik”. Dia bertanya: “Apakah ia?”.
Kata Abu Musa: “Jika umur kamu
panjang engkau akan melihatnya.
Aku melihat satu kaum, mereka
duduk dalam lingkungan (halaqah)
menunggu sholat. Bagi setiap
lingkungan (halaqah) ada seorang
lelaki (ketua kumpulan),
sementara di tangan mereka yang
lain ada anak-anak batu (kerikil ).
Apabila lelaki itu berkata :
_______________________________
(1)Beliau adalah seorang tabi`in,
anak murid ‘Abd Allah bin Masud.
Meninggal dunia pada 85H.
(2)Gelar untuk `Abd Allah bin
Mas`ud.
Takbir seratus kali, mereka pun
bertakbir seratus kali. Apabila dia
berkata: Tahlil seratus kali, mereka
pun bertahlil seratus kali. Apabila
dia berkata: Tasbih seratus kali,
mereka pun bertasbih seratus
kali.” Tanya ‘Abd Allah bin Mas‘ud:
“Apa yang telah kamu katakan
kepada mereka?”. Jawabnya: “Aku
tidak berkata apa-apa kepada
mereka karana menanti
pendapatdan perintahmu”.
Berkata ‘Abd Allah bin Mas‘ud:
“Mengapa engkau tidak menyuruh
mereka menghitung dosa mereka
dan engkau jaminkan bahwa
pahala mereka tidak akan hilang
sedikit pun”. Lalu dia berjalan,
kami pun berjalan bersamanya.
hingga dia tiba kepada salah satu
dari kaum tersebut. Dia berdiri
lantas berkata: “Apa yang sedang
kamu lakukan ini?” Jawab mereka:
“Wahai Abu ‘Abd al-Rahman! Batu
yang dengannya kami menghitung
takbir, tahlil dan tasbih”.
Jawabnya: “Hitunglah dosa-dosa
kamu, aku jamin pahala-pahala
kamu tidak hilang sedikit pun.
Celaka kamu wahai umat
Muhammad! Alangkah cepat
kemusnahan kamu. Para sahabat
Nabi masih banyak (hidup) , baju
baginda belum lagi buruk dan
bekas makanan dan minuman
baginda pun belum lagi pecah.(1)
Demi yang jiwaku berada di
tangan-Nya(2) , apakah kamu
berada di atas agama yang lebih
mendapat petunjuk daripada
agama Muhammad, atau
sebenarnya kamu semua pembuka
pintu kesesatan?”
Jawab mereka : “Demi Allah wahai
Abu ‘Abd al-Rahman, kami hanya
bertujuan baik.” Jawabnya :
“Betapa banyak orang yang
bertujuan baik, tetapi tidak
mendapatkannya.” Sesungguhnya
Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam telah menceritakan
kepada kami satu kaum yang
membaca al-Quran namun tidak
lebih dari kerongkong mereka(3)
Demi Allah aku tidak tahu,
barangkali kebanyakan mereka
dari kalangan kamu.” Kemudian
beliau pergi.
Berkata ‘Amr bin Salamah: “Kami
melihat kebanyakan puak tersebut
bersama Khawarij memerangi
kami pada hari Nahrawan.”(4)
Lihatlah bagaimana ‘Abd Allah bin
Mas‘ud radhiallahu 'anh
membantah perbuatan ibadah
kumpulan ini walaupun mereka
pada asalnya memiliki niat dan
pandangan yang baik. Pada
dzahirnya tiada yang buruk pada
perbuatan mereka. Namun oleh
kerana ia merupakan ibadah yang
tidak ada contoh daripada Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam maka
ia ditolak. Bahkan ‘Abd Allah bin
Mas‘ud memberi amaran betapa
perbuatan bid‘ah yang kecil akan
mengheret seseorang kepada
bid‘ah yang lebih besar. ‘Abd Allah
bin Mas‘ud menggambarkan
mereka akan menyertai Khawarij
yang sesat.
_____________________________________
______________________
(1)Maksudnya baginda shallallahu
‘alaihi wasallam baru sahaja
wafat, tetapi mereka telah
melakukan bid`ah.
(2) Maksudnya Allah.
(3)Ini salah satu sifat Khawarij
yang disebut dalam hadith-hadith.
(4) Riwayat al-Darimi di dalam
Musnadnya dengan sanad yang
dinilai sahih oleh al-Albani dalam
Silsilah al-Ahadith al-Shahihah, jld.
5, m.s. 11.
Justeru itu ‘Abd Allah bin Mas‘ud
juga pernah menyebutkan:(1)
ﺩﺎﺼﺘﻗﺍ ﻲﻓ ﺔﻨﺳ ﺮﻴﺧ ﺩﺎﻬﺘﺟﺍ ﻦﻣ
ﻲﻓ ﺔﻋﺪﺑ .
Sederhana dalam sesuatu sunnah
lebih baik daripada bersungguh
sungguh dalam sesuatu bid‘ah .
ﺓﺮﻴﻐﺼﻟﺍ ﺔﻋﺪﺒﻟﺍ ﻥﺇ ﺪﻳﺮﺑ ﻰﻟﺇ
ﺓﺮﻴﺒﻜﻟﺍ ﺔﻋﺪﺒﻟﺍ.
Sesungguhnya bid‘ah yang kecil
adalah pembawa kepada bid‘ah
yang besar.
Seorang lelaki telah datang kepada
al-Imam Malik rahimahullah
(179H)(2) dan berkata:(3)
“Wahai Abu ‘Abd Allah (gelar al-
Imam Malik) dari mana aku patut
berihram?” Jawab al-Imam Malik:
“Dari Zu Hulaifah ( ﻭﺫ ﺔﻔﻴﻠﺣ ) di
mana tempat yang Rasulullah
berihram.” Kata lelaki itu: “Aku
ingin berihram dari Masjid Nabi
(medinah).” Jawab al-Imam Malik:
“Jangan buat demikian itu.” Kata
lelaki itu lagi: “Aku ingin berihram
dari kubur Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam.” Jawab al-Imam Malik:
“Jangan buat demikian itu, aku
takut fitnah akanmenimpa dirimu.”
Tanya lelaki itu: “Apa fitnahnya? Ia
hanya jarak yang aku tambah.”
Jawab al-Imam Malik:
ﻱﺃﻭ ﺔﻨﺘﻓ ﻢﻈﻋﺃ ﻦﻣ ﻥﺃ ﻯﺮﺗ ﻚﻧﺃ
ﺖﻘﺒﺳ ﺔﻠﻴﻀﻓ ﻰﻟﺇ ﺮّﺼﻗ ﺎﻬﻨﻋ ﻝﻮﺳﺭ
ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ،ﻢﻠﺳﻭ
ﻲﻧﺇﻭ ﺖﻌﻤﺳ ْﺭَﺬْﺤَﻴْﻠَﻓ :ﻝﻮﻘﻳ ﻪﻠﻟﺍ
َﻥﻮُﻔِﻟﺎَﺨُﻳ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍ ْﻦَﻋ ِﻩِﺮْﻣَﺃ ْﻥَﺃ
ْﻢُﻬَﺒﻴِﺼُﺗ ٌﺔَﻨْﺘِﻓ ْﻢُﻬَﺒﻴِﺼُﻳ ْﻭَﺃ ٌﺏﺍَﺬَﻋ
ٌﻢﻴِﻟَﺃ.
Apakah lagi fitnah yang lebih besar
daripada engkau melihat bahwa
engkau telah mendahului satu
kelebihan yang Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam telah
menguranginya. Sesungguhnya aku
telah mendengar Allah berfirman:
(maksudnya) “Oleh itu, hendaklah
mereka yang mengingkari
perintahnya, beringat serta
berjaga-jaga jangan mereka
ditimpa bala bencana, atau
ditimpa azab seksa yang tidak
terperi sakitnya. [al-Nur 24:63]
Perhatikan bahwa sekalipun lelaki
tersebut ingin berihram dari
tempat yang begitu baik yaitu
Masjid Nabi atau kubur baginda
shallallahu 'alaihi wasallam, al-
Imam Malik rahimahullah
membantahnya disebabkan ia
adalah ibadah yang tidak dilakukan
oleh Nabi. Beliau menyatakan ini
adalah fitnah karena seakan-akan
lelaki itu menganggap dia dapat
melakukan ibadah yang lebih baik
daripada Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam.
_____________________________________
____
(1)Lihat: Silsilah al-Ahadith al-
Sahihah, jld. 5, m.s. 11.
(2) Beliau ialah imam Mazhab
Maliki, pembesar Atba’ al-Tabi‘in.
Guru al-Imam al-Syafi'i. Tokoh
fekah dan hadith yang tiada
bandingnya. Karya beliau yang
agung ialah kitab al-Muwattha’.
Berkata al-Imam al-Sayuti: “Beliau
guru para imam, Imam Dar al-
Hijrah (Madinah), mengambil
hadith darinya al-Syafi‘i dan
banyak lagi. Berkata al-Syafi’i:
‘Apabila datangnya athar, maka
Malik adalah bintang’.” (al-Imam
al-Sayuti, Tabaqat al-Huffaz, jld. 1,
m.s. 96)
(3) al-Syatibi, al-I’tishom, m.s. 102
Imam Abu Syamah al-Muqaddisi
berkata:
ْﺪَﻗَﻭ ُّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ َﺭَّﺬَﺣ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
ُﻪﺑﺎَﺤْﺻَﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻦَﻣَﻭ ْﻢُﻫَﺪْﻌَﺑ َﻞْﻫَﺍ
ْﻢِﻬِﻧﺎَﻣَﺯ ِﺕﺎَﺛَﺪْﺤُﻣَﻭ ِﻉَﺪِﺒْﻟﺍ ِﺭْﻮُﻣُﻻﺍ ،
ِﻉﺎَﺒِّﺗﻻﺎِﺑ ْﻢُﻫْﻭُﺮَﻣَﺍَﻭ ْﻱِﺬَّﻟﺍ ِﻪْﻴِﻓ
ُﺓﺎَﺠَّﻨﻟﺍ ْﻦِﻣ ِّﻞُﻛ ٍﺭْﻭُﺬْﺤَﻣ
"Nabi Sallallahu 'alaihi wa-sallam
telah memberi peringatan kepada
sekalian para sahabatnya, dan
orang-orang selepas zaman
mereka dari melakukan bid'ah dan
ciptaan-ciptaan yang baru (dalam
agama). Mereka sekalian
diperintahkan agar ittiba' karena
dengannya akan mendapat
kejayaan (dan terselamat) dari
setiap yang telah diperingatkan
(oleh Nabi sallallahu 'alaihi wa-
sallam)". (Lihat: ﺚﻋﺎﺒﻟﺍ ﻰﻠﻋ
ﺭﺎﻜﻧﺍ ﻉﺪﺒﻟﺍ ﺙﺩﺍﻮﺤﻟﺍﻭ hlm. 11)
َﻝﺎَﻗ ُﻦْﺑﺍ ٍﺱﺎَّﺒَﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ :ُﻪْﻨَﻋ
ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻯَﻮْﻘَﺘِﺑ ِﻪﻠﻟﺍ َّﺰَﻋ َّﻞَﺟَﻭ
ِﺔَﻣﺎَﻘَﺘْﺳِﻻْﺍَﻭ ْﻊِﺒَّﺗِﺍ َﻻَﻭ ْﻉِﺪَﺘْﺒَﺗ
"Dari Ibn Abbas beliau berkata:
Hendaklah kamu takut (takwa)
kepada Allah dan sentiasa
istiqamah (sentiasa dalam
ketaatan), hendaklah kamu
mengikut (al-Quran dan as
Sunnah) dan janganlah berbuat
bid'ah".
َﻝﺎَﻗ ﺏﺎَّﻄَﺨْﻟﺍ ﻦْﺑﺮَﻤُﻋ َﻲِﺿَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ
:ُﻪْﻨَﻋ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ُّﻞُﻛ ٌﺔَﻟَﻼَﺿ ْﻥِﺍَﻭ ﺎَﻫﺁَﺭ
ُﺱﺎَّﻨﻟﺍ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ
"Setiap bid'ah itu sesat, walaupun
(semua) manusia telah
berpendapat & melihat bid'ah
(yang mereka lakukan itu) hasanah
(baik)". (Diriwayatkan oleh Al-
Lalikaii (162). Ibn Battah (205).
Baihaqi dalam ﻞﺧﺪﻤﻟﺍ ﻰﻟﺍ ﻦﻨﺴﻟﺍ
191) ) dan Ibn Nasr dalam ﺔﻨﺴﻟﺍ
70) ) sanadnya sahih)
َﻝﺎَﻗ ُﻦْﺑﺍ ٍﺩْﻮُﻌْﺴَﻣ َﻲِﺿَﺭ ُﻪﻠﻟﺍ :ُﻪْﻨَﻋ
ُﺩﺎَﺼِﺘْﻗِﻻَﺍ ﻰِﻓ ِﺔَّﻨُّﺴﻟﺍ ُﻦَﺴْﺣَﺍ َﻦِﻣ
ِﺩﺎَﻬِﺘْﺟِﻻْﺍ ِﺔَﻋْﺪِﺒْﻟﺍ ﻰِﻓ
"sedikit ( biasa saja ) dalam
mengerjakan sunnah lebih baik
dari bersungguh-sungguh dalam
mengerjakan bid'ah". (Lihat: ﺡﺮﺷ
ﺩﺎﻘﺘﻋﺍ ﻝﻮﺻﺍ ﻞﻫﺍ ﺔﻨﺴﻟﺍ
115-114) ). As-Sunnah, hlm. 27-28
Ibn Nasr. Al-Ibanah (1/230) Ibn
Battah)
Di riwayat yang lain pula:
ﺍًﺩﺎَﺼِﺘْﻗِﺍ َّﻥِﺍَﻭ ﻰِﻓ ٍﻞْﻴِﺒَﺳ ٍﺔَّﻨُﺳَﻭ ٌﺮْﻴَﺧ
ٍﺩﺎَﻬِﺘْﺟِﺍ ْﻦِﻣ ﻰِﻓ ِﻑَﻼِﺧ ِﻞْﻴِﺒَﺳ ٍﺔَّﻨُﺳ
ﺍْﻭُﺮُﻈْﻧﺎَﻓ ْﻥَﺍ َﻥْﻮُﻜَﻳ ْﻢُﻜُﻠَﻤَﻋ ْﻥِﺍ َﻥﺎَﻛ
ﺍًﺩﺎَﻬِﺘْﺟِﺍ ﺍًﺩﺎَﺼِﺘْﻗِﺍ ْﻭَﺍ ْﻥَﺍ َﻥْﻮُﻜَﻳ
َﻚِﻟَﺫ ﻰَﻠَﻋ ِﺀﺎَﻴِﺒْﻧَﻻْﺍ ِﺝﺎَﻬْﻨِﻣ
ْﻢِﻬِﺘَّﻨـُﺳَﻭ ِﻪﻠﻟﺍ ُﺕﺍَﻮَﻠَﺻ ْﻢِﻬْﻴَﻠَﻋ
"sedikit ( biasa saja ) dalam
mengikuti jalan sunnah lebih baik
dari bersungguh-sungguh dalam
melakukan perkara yang
bertentangan dengan jalan sunnah.
Lihatlah apa yang akan kamu
lakukan, jika ia termasuk yang
bersungguh-sungguh atau yang
biasa hendaklah mengikut
panduan manhaj para nabi dan
sunnah mereka sallallahu 'alaihi wa
sallam". (Diriwayatkan oleh Al-
Lalikaii (11). Ibn Mubarak dalam
Az-Zuhud. Jld. 2. hlm. 12. dan Abu
Na'im dalam Al-Hilyah. Jld. 1. Hlm.
252)
Al-Hafiz Fudhail bin 'Iyad
rahimahullah menyatakan:
ٌﻞَﻤَﻋ ٌﻞْﻴِﻠَﻗ ﻰِﻓ ٍﺔَّﻨُﺳ ٌﺮْﻴَﺧ ْﻦِﻣ ٍﻞَﻤَﻋ
ٍﺮْﻴِﺜَﻛ ﻰِﻓ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ
"Amal yang sedikit (tetapi) dalam
perkara sunnah lebih baik
daripada amalan yang banyak
(tetapi dalam perkara yang)
bid'ah." (Lihat: ﺔﻧﺎﺑﻻﺍ ﻦﻋ ﺔﻌﻳﺮﺷ
ﺔﻴﻨﻳﺪﻟﺍ Jld. 1. hlm. 395. (249))
Imam Malik rahimallahu ‘anhu
seorang imam Ahli Sunnah wal-
Jamaah dari kalangan Salaf as-
Soleh amat tegas terhadap bid'ah.
Beliau menganggap aktivis bid'ah
sebagai orang yang mengkhianati
kesempurnaan risalah (al-Quran
dan al-Hadist) yang telah
disampaikan oleh Nabi
Muhammad sallallahu 'alaihi wa
sallam kepada ummahnya. Beliau
pernah mengeluarkan ucapannya
yang tegas terhadap pembuat
bid'ah:
َﻉَﺪَﺘْﺑﺍ ِﻦَﻣ ِﻡَﻼْﺳِﻻْﺍ ﻰِﻓ ٌﺔَﻋْﺪِﺑ
ﺎَﻫﺍَﺮَﻳَﻭ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ ْﺪَﻘَﻓ َﻢَﻋَﺯ َّﻥَﺍ ٌﺪَّﻤَﺤُﻣ
ْﺪَﻗ َﻥﺎَﺧ َّﻥَﻻَِﺔَﻟﺎَﺳِّﺮﻟﺍ َﻪﻠﻟﺍ :ُﻝْﻮُﻘَﻳ
َﻡْﻮَﻴْﻟَﺍ" ُﺖْﻠَﻤْﻛَﺍ ْﻢُﻛﺎَﻨْﻳِﺩ ْﻢُﻜَﻟ
ُﺖْﻤَﻤْﺗَﺍَﻭ ْﻲِﺘَﻤْﻌِﻧ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ُﺖْﻴِﺿَﺭَﻭ ُﻢُﻜَﻟ
َﻡَﻼْﺳِﻻْﺍ ْﻢَﻟﺎَﻤَﻓ "ﺎًﻨْﻳِﺩ ْﻦُﻜَﻳ ٍﺬِﺌَﻣْﻮَﻳ
ﺎًﻨْﻳِﺩ َﻼَﻓ َﻡْﻮَﻴْﻟﺍ ُﻥْﻮُﻜَﻳ ﺎًﻨْﻳِﺩ
"Siapa yang melakukan bid'ah di
dalam Islam kemudian
disangkanya baik, maka dia telah
menganggap bahwa Muhammad
telah mengkhianati al-Risalah
karena telah jelas Allah berfirman:
(Hari ini Aku telah sempurnakan
agama kamu dan Aku cukupkan
nikmat kamu dan Aku hanya
meridai Islam sebagai agamamu).
Apa yang tidak dapat dianggap
sebagai agama pada masa itu
(masa Nabi), maka pada masa ini
ia juga tidak boleh dianggap
sebagai agama." (Hadist Riwayat
Malik)
َﻝﺎَﻗ ُﻞَﺼْﻴـَﻓ ُﻦـْﺑ ٍﺽﺎَﻴـِﻋ َﻢِﺣَﺭ ُﻩ
:ُﻪﻠﻟﺍ ْﻦَﻣ َﺐِﺣﺎَﺻ َّﺐَﺣَﺍ ٍﺔَﻋْﺪـِﺑ
َﻂـَﺒـْﺣَﺍ ُﻪﻠﻟﺍ َﺝَﺮْﺧﺍَﻭ ُﻪَﻠَﻤَﻋ َﺭْﻮـُﻧ
ِﻡَﻼْﺳِﻻْﺍ ْﻦِﻣ ِﻪِﺒْﻠَﻗ
"Berkata Faisal bin 'Eyadz: Siapa
yang menyukai pembuat bid'ah,
Allah melenyapkan
(menggugurkan) amalannya dan
akan dicabut cahaya Islam dari
hatinya". (Lihat: ﺲﻴﺒﻠﺗ ﺲﻴﻠﺑﺍ Ibn
Qaiyim, hlm 84. Dan lihat: ﺡﺮﺷ
ﺔﻨﺴﻟﺍ hlm. 138. Dikeluarkan juga
oleh Al-Lalikaii dalam ﺡﺮﺷ ﻝﻮﺻﺍ
ﺩﺎﻘﺘﻋﻻﺍ ﻞﻫﺍ ﺔﻨﺴﻟﺍ . Jld. 1. Hlm.
139)
:َﻝﺎَﻗَﻭ ْﻦَﻣ َﺲَﻠَﺟ ﻰَﻟِﺍ ِﺐِﺣﺎَﺻ ٍﺔَﻋْﺪِﺑ
َﻂَﺒْﺣَﺍ ُﻪَﻠَﻤَﻋ ﻪﻠﻟﺍ َﺝَﺮْﺧَﺍَﻭ َﺭْﻮُﻧ
ﻥﺎَﻤْﻳِﻻْﺍ - ْﻭَﺍ َﻝﺎَﻗ ِﻡَﻼْﺳِﻻﺍ - ْﻦِﻣ
ِﻪِﺒْﻠَﻗ
"Beliau juga pernah berkata: siapa
yang duduk di majlis orang bid'ah
Allah melenyapkan
(menggugurkan) amalannya dan
mengeluarkan nur (cahaya) iman -
atau ia berkata - keluar nur Islam
dari hatinya." (Dikeluarkan oleh Al-
Lalikaii dalam ﺡﺮﺷ ﻝﻮﺻﺍ ﺩﺎﻘﺘﻋﺍ
ﺔﻨﺴﻟﺍ ﻞﻫﺍ ) 1/132 ). Dan Ali bin al-
J'ad. dalam "Musnad" (1885))
َّﻥَﺍ ِﺔَﻋْﺪِﺒْﻟﺍ َﺐِﺣﺎَﺻ ُﺩﺍَﺩْﺰَﻳ َﻦِﻣ ِﻪﻠﻟﺍ
ﺍًﺪْﻌُﺑ َﻎَﻟﺎَﺑ ﺎَﻤَّﻠُﻛ ِﺔَﻋﺎَّﻄﻟﺍ ﻰِﻓ
ِﺓَﺩﺎَﺒِﻌْﻟﺍﻭ
"Pembuat bid'ah akan bertambah-
tambah jauh dari Allah sekalipun
bersungguh-sungguh dalam
ketaatan dan kuat ibadahnya".
(Lihat: Fathul al-Qadir, jld. 1, hlm.
10)
َﻪﻠﻟﺍ َّﻥِﺍ َﺐَﺠَﺣ َﺔَﺑْﻮَّﺘﻟﺍ ْﻦَﻋ ِّﻞُﻛ ِﺐِﺣﺎَﺻ
ٍﺔَﻋْﺪِﺑ ﻰَّﺘَﺣ َﻉَﺪَﻳ ُﻪَﺘَﻋْﺪَﺑ
"Sesungguhnya Allah menghijab
(tidak menerima) taubat setiap
pembuat bid'ah hingga ia
meninggalkan bid'ahnya". (Hadis
Riwayat at-Thabrani dengan sanad
yang sahih. Dan dihasankan oleh
al-Munziri. Lihat: ﺝﺭﺍﺪﻣ
ﻦﻴﻜﻟﺎﺴﻟﺍ ) 1/84 ) Ibn Qaiyim)
Imam Ibn Rajab rahimahullah
pernah ditanya, apakah boleh
menyebut keburukan ahlul bid'ah
(ﻉﺪﺘﺒﻣ) dalam usaha
menyadarkan ummah agar
menjauhi mereka? Beliau
menjawab:
"Adapun Ahli Bid'ah itu sesat
begitu juga orang-orang yang
beserta dengannya yang seakan-
akan ulama. Maka boleh
menjelaskan kejahilan, kecacatan
atau kejahatan mereka dalam
rangka memperingatkan ummah
agar tidak mengikuti mereka".
(Lihat: ﺡﺮﺷ ﺔﻨﺴﻟﺍ , al-Barbahari,
hlm. 138. Tahqiq Abu Yasir ar-
Rodadi)
Penjelasan Imam Ibn Rejab di
atas menunjukkan bahwa
menyebut dan membongkar
perbuatan bid'ah yang diseru dan
dilakukan oleh para penyeru bid'ah
tidak dianggap sebagai suatu
kesalahan. Malah wajib dijelaskan
kepada khalayak umum jika tujuan
dan niat seseorang yang bertindak
sedemikian demi untuk
menjauhkan atau menyelamatkan
ummah agar tidak terlibat dan
tidak terpengaruh dengan
perbuatan dan hasutan ahli bid'ah.
semua nash-nash di atas
mengharamkan umat Islam dari
melakukan perbuatan bid'ah.
Selain amalan yang berbentuk
bid'ah itu ditolak oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala karena ia
menyesatkan, ternyata bid'ah ini
juga amat ditakuti oleh orang-
orang beriman yang berilmu. Ini
disebabkan setiap amalan bid'ah
terutama yang melibatkan akidah,
pasti akan menyebabkan
pembuatnya menjadi sesat dan di
akhirat kelak akan menjadi
golongan yang merugi karana akan
dilemparkan ke neraka. Malah
seseorang itu akan dikekalkan di
dalam neraka jika semasa
hidupnya ia terlibat dalam
perbuatan bid'ah di segi akidah
yang menyebabkan kesyirikan.
Setiap orang yang beriman
sepatutnya memperhatikan
dengan akal jernih terhadap
ancaman dari hadist-hadist di atas
sehingga dapat memberi kesan
menakutkan yang mendalam di
hati sanubari atau perasaan
mereka.
Para sahabat dan jumhur ulama
Ahli Sunnah wal-Jamaah yang
berpegang dengan manhaj Salaf as
Soleh terlalu berjaga-jaga dari
terlibat dengan segala perbuatan
yang berbentuk atau berunsur
bid'ah. Ketegasan mereka dalam
perkara ini telah diuraikan melalui
kata-kata mereka tersebut.
Pengaruh Buruk Akibat Memuji Ahli
Bid’ah
192. Abul Walid Al Baji dalam
Kitabnya, Ikhtishar Firaqil Fuqaha
ketika menyebutkan keadaan Abu
Bakar Al Baqillaniy mengatakan :
“Abu Dzar Al Harawy telah
menceritakan kepadaku bahwa ia
condong kepada madzhab Al
Asy’ari.” Maka saya tanyakan dari
mana ia dapatkan madzhab ini.
Katanya : “Saya pernah berjalan
bersama Abu Al Hasan Ad
Daraquthniy dan kami bertemu
dengan Abu Bakr bin Ath Thayyib
Al Qadli lalu Ad Daraquthniy
memeluknya dan mencium wajah
dan kedua matanya maka setelah
kami berpisah saya bertanya siapa
laki-laki tadi?”Ia menjawab :
“Imamnya kaum Muslimin,
pembela Islam, (yaitu) Al Qadli
Abu Bakr bin Ath Thayyib.”Abu
Dzar berkata : “Sejak saat itu saya
berulang-ulang mendatanginya
bersama ayahku dan akhirnya
kami mengikuti madzhabnya.” (At
Tadzkirah 3/1104-1105 dan As
Siyar 17/558-559)
Saya berkata : “Ini merupakan
istidlal (pengambilan dalil) yang
jelas sekali. Karena jika seorang
alim diam dalam permasalahan
ahli bid’ah dan tidak menerangkan
kebid’ahan mereka maka ia akan
membahayakan orang lain yang
jahil hingga akhirnya mereka dapat
terjatuh dalam kebida’ahan pula.
Dan yang lebih berbahaya serta
lebih pahit lagi dari diamnya itu
adalah apabila keluar ungkapan-
ungkapan pujian dan sanjungan
terhadap ahli bid’ah yang mungkin
(pada dirinya) tampak keshalihan
dan ketaqwaan.”(Sumber : Kilauan
Mutiara Hikmah Dari Nasihat
Salaful Ummah, terjemah dari
kitab Lamudduril Mantsur minal
Qaulil Ma'tsur, karya Syaikh Abu
Abdillah Jamal bin Furaihan Al
Haritsi.