Selasa, 25 Desember 2012

MEMBANGUN KUBUR ADALAH LARANGAN NABI,BUKAN LARANGAN EAHABI.


Jaabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu
berkata :
ﻰَﻬَﻧ ُﻝﻮُﺳَﺭ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ
ِﻪْﻴَﻠَﻋ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻥَﺃ َﺺَّﺼَﺠُﻳ
،ُﺮْﺒَﻘْﻟﺍ ْﻥَﺃَﻭ َﺪَﻌْﻘُﻳ ،ِﻪْﻴَﻠَﻋ
ْﻥَﺃَﻭ ﻰَﻨْﺒُﻳ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam telah melarang kubur untuk
dikapur, diduduki, dan dibangun
sesuatu di atasnya”.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim
no. 970, Abu Daawud no. 3225, At-
Tirmidziy no. 1052, An-Nasaa’iy no.
2027-2028 dan dalam Al-Kubraa 2/463
no. 2166, ‘Abdurrazzaaq 3/504 no.
6488, Ahmad 3/295, ‘Abd bin Humaid
2/161 no. 1073, Ibnu Maajah no. 1562,
Ibnu Hibbaan no. 3163-3165, Al-
Haakim 1/370, Abu Nu’aim dalam Al-
Musnad Al-Mustakhraj ‘alaa Shahiih
Muslim no. 2173-2174, Al-Baihaqiy
dalam Al-Kubraa 3/410 & 4/4, Ath-
Thayaalisiy 3/341 no. 1905, Ath-
Thabaraaniy dalam Asy-Syaamiyyiin
3/191 no. 2057 dan dalam Al-Ausath
6/121 no. 5983 & 8/207 8413, Abu
Bakr Asy-Syaafi’iy dalam Al-Fawaaaid
no. 860, Abu Bakr Al-‘Anbariy dalam
Hadiits -nya no. 68, Ath-Thahawiy
dalam Syarh Ma’aanil-Aatsaar
1/515-516 no. 2945-2946, dan yang
lainnya.
Asal dari larangan Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam menunjukkan
keharaman sebagaimana telah
dimaklumi dalam ilmu ushul fiqh.
Bahkan ‘Aliy bin Abi Thaalib
radliyallaahu ‘anhu – nenek moyang
para habaaib – adalah salah seorang
shahabat yang sangat bersemangat
melaksanakan perintah Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersebut
sebagaimana terdapat dalam riwayat :
ْﻦَﻋ ﻲِﺑَﺃ ِﺝﺎَّﻴَﻬْﻟﺍ ،ِّﻱِﺪَﺳَﺄْﻟﺍ
َﻝﺎَﻗ :َﻝﺎَﻗ ُّﻲِﻠَﻋ ﻲِﻟ ﻲِﺑَﺃ ُﻦْﺑ
:ٍﺐِﻟﺎَﻃ " ﺎَﻟَﺃ ﻰَﻠَﻋ َﻚُﺜَﻌْﺑَﺃ
ﺎَﻣ ﻲِﻨَﺜَﻌَﺑ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻝﻮُﺳَﺭ
ﻰَّﻠَﺻ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
َﻢَّﻠَﺳَﻭ ْﻥَﺃ ﺎَﻟ َﻉَﺪَﺗ ﺎًﻟﺎَﺜْﻤِﺗ
ﺎَّﻟِﺇ ،ُﻪَﺘْﺴَﻤَﻃ ﺎَﻟَﻭ ﺍًﺮْﺒَﻗ
ﺎًﻓِﺮْﺸُﻣ ﺎَّﻟِﺇ ُﻪَﺘْﻳَّﻮَﺳ "
Dari Abul-Hayyaaj Al-Asadiy, ia
berkata : ‘Aliy bin Abi Thaalib pernah
berkata kepadaku : “Maukah engkau
aku utus sebagaimana Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah
mengutusku ? Hendaklah engkau tidak
meninggalkan gambar-gambar kecuali
engkau hapus dan jangan pula kamu
meninggalkan kuburan yang ditinggikan
kecuali kamu ratakan” [Diriwayatkan
oleh Muslim no. 969, Abu Daawud no.
3218, At-Tirmidziy no. 1049, An-
Nasaa’iy no. 2031, dan yang lainnya].
Larangan membangun kubur ini
kemudian diteruskan oleh para ulama
madzhab.
Madzhab Syaafi’iyyah, maka
Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy
rahimahullah berkata :
ﺐﺣﺃﻭ ﻥﺃ ﻻ ﻰﻨﺒﻳ ﻻﻭ ﺺﺼﺠﻳ
ﻚﻟﺫ ﻥﺈﻓ ﻪﺒﺸﻳ ﺔﻨﻳﺰﻟﺍ
ﺀﻼﻴﺨﻟﺍﻭ ﺲﻴﻟﻭ ﺕﻮﻤﻟﺍ
ﻊﺿﻮﻣ ﺪﺣﺍﻭ ﺎﻤﻬﻨﻣ ﻢﻟﻭ ﺭﺃ
ﺭﻮﺒﻗ ﻦﻳﺮﺟﺎﻬﻤﻟﺍ
ﺭﺎﺼﻧﻻﺍﻭ ﺔﺼﺼﺠﻣ ...... ﺪﻗﻭ
ﺖﻳﺃﺭ ﻦﻣ ﺓﻻﻮﻟﺍ ﻦﻣ ﻡﺪﻬﻳ
ﺔﻜﻤﺑ ﺎﻣ ﻰﻨﺒﻳ ﺎﻬﻴﻓ ﻢﻠﻓ
ﺭﺃ ﺀﺎﻬﻘﻔﻟﺍ ﻚﻟﺫ ﻥﻮﺒﻴﻌﻳ
“Dan aku senang jika kubur tidak
dibangun dan tidak dikapur/disemen,
karena hal itu menyerupai perhiasan
dan kesombongan. Orang yang mati
bukanlah tempat untuk salah satu di
antara keduanya. Dan aku pun tidak
pernah melihat kubur orang-orang
Muhaajiriin dan Anshaar dikapur.....
Dan aku telah melihat sebagian
penguasa meruntuhkan bangunan yang
dibangunan di atas kubur di Makkah,
dan aku tidak melihat para fuqahaa’
mencela perbuatan tersebut” [ Al-
Umm , 1/316 – via Syamilah].
An-Nawawiy rahimahullah ketika
mengomentari riwayat ‘Aliy
radliyallaahu ‘anhu di atas berkata :
ﻪﻴﻓ ﻥﺃ ﺔﻨﺴﻟﺍ ﻥﺃ ﺮﺒﻘﻟﺍ ﻻ
ﻰﻠﻋ ﻊﻓﺮﻳ ﺽﺭﻷﺍ ًﺎﻌﻓﺭ
ًﺍﺮﻴﺜﻛ ﻻﻭ ﻢﻨﺴﻳ ﻞﺑ ﻊﻓﺮﻳ
ﺮﺒﺷ ﻮﺤﻧ ﺢﻄﺴﻳﻭ ﺍﺬﻫﻭ
ﻲﻌﻓﺎﺸﻟﺍ ﺐﻫﺬﻣ ﻦﻣﻭ
،ﻪﻘﻓﺍﻭ
“Pada hadits tersebut terdapat
keterangan bahwa yang disunnahkan
kubur tidak terlalu ditinggikan di atas
permukaan tanah dan tidak dibentuk
seperti punuk onta, akan tetapi hanya
ditinggikan seukuran sejengkal dan
meratakannya. Ini adalah madzhab
Asy-Syaafi’iy dan orang-orang yang
sepakat dengan beliau” [ Syarh An-
Nawawiy ‘alaa Shahih Muslim, 3/36].
Di tempat lain ia berkata :
ْﺖَﻘَﻔَّﺗﺍَﻭ ِّﻲِﻌِﻓﺎَّﺸﻟﺍ ُﺹﻮُﺼُﻧ
ِﺏﺎَﺤْﺻَﺄْﻟﺍَﻭ ﻰَﻠَﻋ ِﺔَﻫﺍَﺮَﻛ
ِﺀﺎَﻨِﺑ ٍﺪِﺠْﺴَﻣ ﻰَﻠَﻋ ِﺮْﺒَﻘْﻟﺍ
َﻥﺎَﻛ ٌﺀﺍَﻮَﺳ ُﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ ﺍًﺭﻮُﻬْﺸَﻣ
ِﺡﺎَﻠَّﺼﻟﺎِﺑ ْﻭَﺃ ِﻩِﺮْﻴَﻏ ِﻡﻮُﻤُﻌِﻟ
ِﺚﻳِﺩﺎَﺣَﺄْﻟﺍ
“Nash-nash dari Asy-Syaafi’iy dan para
shahabatnya telah sepakat tentang
dibencinya membangun masjid di atas
kubur. Sama saja, apakah si mayit
masyhur dengan keshalihannya ataupun
tidak berdasarkan keumuman hadits-
haditsnya ” [Al-Majmuu’ , 5/316].
Adapun madzhab Hanafiyyah, berikut
perkataan Muhammad bin Al-Hasan
rahimahullah :
ﺎَﻧَﺮَﺒْﺧَﺃ ﻮُﺑَﺃ ،َﺔَﻔﻴِﻨَﺣ :َﻝﺎَﻗ
ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ٌﺦْﻴَﺷ ﺎَﻨَﻟ ﻰَﻟِﺇ ُﻊَﻓْﺮَﻳ
ِّﻲِﺒَّﻨﻟﺍ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
ُﻪَّﻧَﺃ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ﻰَﻬَﻧ ْﻦَﻋ ِﻊﻴِﺑْﺮَﺗ
،ِﺭﻮُﺒُﻘْﻟﺍ ﺎَﻬِﺼﻴِﺼْﺠَﺗَﻭ ."
َﻝﺎَﻗ :ٌﺪَّﻤَﺤُﻣ ِﻪِﺑَﻭ ،ُﺬُﺧْﺄَﻧ َﻮُﻫَﻭ
ﻲِﺑَﺃ ُﻝْﻮَﻗ َﺔَﻔﻴِﻨَﺣ َﻲِﺿَﺭ ُﻪَّﻠﻟﺍ
ُﻪْﻨَﻋ
Telah mengkhabarkan kepada kami
Abu Haniifah, ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami seorang
syaikh kami yang memarfu’kan riwayat
sampai pada Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bahwasannya beliau
melarang untuk membangun dan
mengapur/menyemen kubur.
Muhammad (bin Al-Hasan) berkata :
Dengannya kami berpendapat, dan ia
juga merupakan pendapat Abu
Haniifah ” [ Al-Aatsaar no. 257].
Juga Ibnu ‘Aabidiin Al-Hanafiy
rahimahullah yang berkata :
ﺎَّﻣَﺃَﻭ ُﺀﺎَﻨِﺒْﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
ْﻢَﻠَﻓ َﺭَﺃ ْﻦَﻣ َﺭﺎَﺘْﺧﺍ
....ُﻩَﺯﺍَﻮَﺟ ْﻦَﻋَﻭ ﻲِﺑَﺃ
َﺔَﻔﻴِﻨَﺣ : ُﻩَﺮْﻜُﻳ ْﻥَﺃ َﻲِﻨْﺒَﻳ
ِﻪْﻴَﻠَﻋ ًﺀﺎَﻨِﺑ ٍﺖْﻴَﺑ ْﻦِﻣ ْﻭَﺃ
ٍﺔَّﺒُﻗ ْﻭَﺃ َﻚِﻟَﺫ ِﻮْﺤَﻧ
“Adapun membangun di atas kubur,
maka aku tidak melihat ada ulama
yang memilih pendapat
membolehkannya..... Dan dari Abu
Haniifah : Dibenci membangun
bangunan di atas kubur, baik berupa
rumah, kubah, atau yang
lainnya” [ Raddul-Mukhtaar , 6/380 – via
Syamilah].
Madzhab Maalikiyyah, maka Maalik bin
Anas rahimahullah berkata :
ُﻩَﺮْﻛَﺃ َﺺﻴِﺼْﺠَﺗ ِﺭﻮُﺒُﻘْﻟﺍ
َﺀﺎَﻨِﺒْﻟﺍَﻭ ﺎَﻬْﻴَﻠَﻋ
“Aku membenci mengapur/menyemen
kubur dan bangunan yang ada di
atasnya” [ Al-Mudawwanah , 1/189].
Juga Al-Qurthubiy rahimahullah yang
berkata :
ﺪﺟﺎﺴﻤﻟﺍ ﺫﺎﺨﺗﺎﻓ ﻰﻠﻋ
ﺭﻮﺒﻘﻟﺍ ﺓﻼﺼﻟﺍﻭ ﺎﻬﻴﻓ
ﺀﺎﻨﺒﻟﺍﻭ ،ﺎﻬﻴﻠﻋ ﺮﻴﻏ ﻰﻟﺇ
ﺎﻤﻣ ﻚﻟﺫ ﻪﺘﻨﻤﻀﺗ ﺔﻨﺴﻟﺍ
ﻦﻣ ﻲﻬﻨﻟﺍ ﻪﻨﻋ ﻉﻮﻨﻤﻣ ﻻ
ﺯﻮﺠﻳ
“Membangun masjid-masjid di atas
kubur, shalat di atasnya, membangun
bangunan di atasnya, dan yang lainnya
termasuk larangan dari sunnah, tidak
diperbolehkan” [ Tafsiir Al-Qurthubiy ,
10-379].
Madzhab Hanaabilah, maka Ibnu
Qudaamah rahimahullah berkata :
ﻩﺮﻜﻳﻭ ﺀﺎﻨﺒﻟﺍ ﻰﻠﻋ ﺮﺒﻘﻟﺍ
ﻪﺼﻴﺼﺠﺗﻭ ﺔﺑﺎﺘﻜﻟﺍﻭ ﻪﻴﻠﻋ
ﻯﻭﺭ ﺎﻤﻟ ﻢﻠﺴﻣ ﻲﻓ ﻪﺤﻴﺤﺻ
ﻝﺎﻗ : ] ﻰﻬﻧ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ
ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻭ ﻢﻠﺳ ﻥﺃ
ﺺﺼﺠﻳ ﺮﺒﻘﻟﺍ ﻥﺃﻭ ﻰﻨﺒﻳ
ﻥﺃﻭ ﻪﻴﻠﻋ ﺪﻌﻘﻳ ﻪﻴﻠﻋ - [
ﻱﺬﻣﺮﺘﻟﺍ ﺩﺍﺯ ] - ﻥﺃﻭ ﺐﺘﻜﻳ
[ ﻪﻴﻠﻋ ﻝﺎﻗﻭ ﺍﺬﻫ : ﺚﻳﺪﺣ
ﻦﺴﺣ ﺢﻴﺤﺻ ﻥﻷﻭ ﻚﻟﺫ ﻦﻣ
ﺔﻨﻳﺯ ﺎﻴﻧﺪﻟﺍ ﻼﻓ ﺔﺟﺎﺣ
ﺖﻴﻤﻟﺎﺑ ﻪﻴﻟﺇ
“Dan dibenci bangunan yang ada di
atas kubur, mengkapurnya, dan
menulis tulisan di atasnya,
berdasarkan riwayat Muslim dalam
Shahiih -nya : ‘ Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam telah melarang kubur
untuk dikapur, diduduki, dan dibangun
sesuatu di atasnya ’. At-Tirmidziy
menambahkan : ‘ Dan menulis di
atasnya ’, dan ia berkata : ‘Hadits hasan
shahih’. Karena itu semua merupakan
perhiasan dunia yang tidak diperlukan
oleh si mayit” [ Al-Mughniy, 2/382].
Juga Al-Bahuutiy Al-Hanbaliy
rahimahullah yang berkata :
ﻡﺮﺤﻳﻭ ﺫﺎﺨﺗﺍ ﺪﺠﺴﻤﻟﺍ
ﺎﻬﻴﻠﻋ :ﻱﺃ ﺭﻮﺒﻘﻟﺍ
ﺎﻬﻨﻴﺑﻭ ﺚﻳﺪﺤﻟ ﻲﺑﺃ ﺓﺮﻳﺮﻫ
ﻥﺃ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
:ﻝﺎﻗ ﻢﻠﺳﻭ ﻦﻌﻟ ﻪﻠﻟﺍ
ﺩﻮﻬﻴﻟﺍ ﺍﻭﺬﺨﺗﺍ ﺭﻮﺒﻗ
ﻢﻬﺋﺎﻴﺒﻧﺃ .ﺪﺟﺎﺴﻣ ﻖﻔﺘﻣ
ﻪﻴﻠﻋ
“Dan diharamkan menjadikan masjid di
atas kubur, dan membangunnya
berdasarkan hadits Abu Hurairah
bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda : ‘ Allah melaknat
orang Yahudi yang telah menjadikan
kubur para nabi mereka sebagai
masjid-masjid ’. Muttafaqun
‘alaih” [Kasysyaaful-Qinaa’ , 3/774].
Juga Al-Mardawiy rahimahullah yang
berkata :
ﺎَّﻣَﺃَﻭ ُﺀﺎَﻨِﺒْﻟﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ :
ٌﻩﻭُﺮْﻜَﻤَﻓ ، ﻰَﻠَﻋ ِﺢﻴِﺤَّﺼﻟﺍ ْﻦِﻣ
ِﺐَﻫْﺬَﻤْﻟﺍ ، ٌﺀﺍَﻮَﺳ َﻖَﺻﺎَﻟ
ُﺀﺎَﻨِﺒْﻟﺍ َﺽْﺭَﺄْﻟﺍ ْﻡَﺃ ﺎَﻟ ،
ِﻪْﻴَﻠَﻋَﻭ ُﺮَﺜْﻛَﺃ َﻝﺎَﻗ ِﺏﺎَﺤْﺻَﺄْﻟﺍ
ﻲِﻓ ِﻉﻭُﺮُﻔْﻟﺍ : ُﻪَﻘَﻠْﻃَﺃ
ُﺪَﻤْﺣَﺃ ، ُﺏﺎَﺤْﺻَﺄْﻟﺍَﻭ
“Adapun bangunan di atas kubur,
hukumnya makruh berdasarkan
pendapat yang shahih dari madzhab
(Hanaabilah), sama saja, apakah
bangunan itu menempel tanah ataukah
tidak. Pendapat itulah yang dipegang
kebanyakan shahabat Ahmad. Dalam
kitab Al-Furuu’ dinyatakan : Ahmad
dan shahabat-shahabatnya
memutlakkan (kemakruhan)-nya” [ Al-
Inshaaf, 2/549].
Madzhab Dhaahiriyyah, maka Ibnu
Hazm rahimahullah berkata :
:ٌﺔَﻟَﺄْﺴَﻣ َﻻَﻭ ُّﻞِﺤَﻳ ْﻥَﺃ ﻰَﻨْﺒُﻳ
,ُﺮْﺒَﻘْﻟﺍ َﻻَﻭ ْﻥَﺃ ,َﺺَّﺼَﺠُﻳ َﻻَﻭ ْﻥَﺃ
ﻰَﻠَﻋ َﺩﺍَﺰُﻳ ِﻪِﺑﺍَﺮُﺗ ,ٌﺀْﻲَﺷ
ُﻡَﺪْﻬُﻳَﻭ ُّﻞُﻛ َﻚِﻟَﺫ
“Permasalahan : Dan tidak dihalalkan
kubur untuk dibangun, dikapur/
disemen, dan ditambahi sesuatu pada
tanahnya. Dan semuanya itu
(bangunan, semenan, dan tanah
tambahan) mesti dirobohkan” [ Al-
Muhallaa , 5/133].
Tepatkah kemudian jika ada orang
yang mengatakan larangan
membangun kubur merupakan buatan
orang-orang Wahabiy ?. Atau, mungkin
mulai sekarang orang tersebut harus
menyangka bahwa Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam , ‘Aliy bin Abi Thaalib,
Abu Haniifah, Maalik bin Anas, Asy-
Syaafi’iy, dan Ahmad bin Hanbal
rahimahumullah telah ‘bermadzhab’
dengan madzhabnya orang-orang
Wahabiy ? (tentu saja tidak demikian,
karena orang-orang Wahabiy justru
bermadzhab dengan madzhab
mereka)..... Sungguh bahagia orang-
orang Wahabiy itu.....