Kamis, 13 Desember 2012

Saudariku mampuhkah kita seperti beliau


Sebuah panutan indah telah tertulis dalam
sejarah hidup Fatimah bin abdul malik.
Beliau adalah sosok perempuan yang nyaris
sempurna, cantik, cerdas, keturunan
terpandang, serta kaya raya. Bagaimana
tidak kaya, beliau adalah putri khalifah
tertinggi, serta saudari dari empat khalifah
Islam ternama, yaitu Al-Walid bin Abdil
Malik, Sulaiman bin Abdil Malik, Yazid bin
Abdil Malik, dan Hisyam bin Abdil Malik.
Namun, dibalik semua kemewahan itu,
beliau begitu mencintai kesederhanaan.
Inilah yang membuat sang suami Amirul
Mukminin Umar bin Abdil Aziz, sang
khalifah besar dari Bani Ummayah merasa
beruntung karena memiliki istri yang
mampu mendidik hatinya dan mengalahkan
nafsunya dalam mencintai dunia.
Setelah menikah, Fatimah memiliki harta
yang begitu berlimpah pemberian dari
ayahnya. Hartanya adalah yang paling
berharga yang pernah dimiliki oleh seorang
perempuan di atas permukaan bumi ini,
yang berupa perhiasan dan intan permata.
Namun, semua berubah ketika Umar bin
Abdul Aziz mendapat amanat sebagai
seorang khalifah. Betapa sedihnya Umar
ketika tugas berat tersebut dibebankan
kepadanya. Terbayang keadaannya di
akhirat, saat Allah meminta semua
pertanggungjawabannya dalam memimpin
umat.
Umar bin Abdul Aziz kemudian mengajak
Fatimah untuk mengurangi beban hidupnya
dengan cara menyerahkan semua harta,
berikut perhiasan yang dimiliki Fatimah ke
Baitul Mal.
Selanjutnya, jadilah sang khalifah besar itu
hanya mendapatkan gaji yang begitu kecil,
yaitu dua dirham per hari atau 60 dirham
per bulan. Namun sebagai istri yang baik,
Fatimah tidak pernah protes, malah beliau
dengan ikhlas selalu mendukung suaminya.
Setelah Umar meninggal, Dinasti Ummayah
pun dipimpin oleh saudara Fatimah
bernama Yazid bin Abdul Malik. Suatu hari,
Yazid menemui Fatimah untuk
mengembalikan harta-harta yang disimpan
di Baitul Mal. Yazid berkata kepada
Fatimah “Umar telah dholim kepada
hartamu, sekarang aku kembalikan
kepadamu. Ambillah!”
Diluar dugaan, Fatimah menolak semua
tawaran saudaranya tersebut. Beliau
berkata, “Demi Allah, aku tidak akan
mengambilnya kembali. Karena aku patuh
kepada suami untuk selamanya. Bukan
ketika dia masih hidup aku patuh, lalu
setelah meninggal berkhianat”
Yazid merasa sangat kagum dengan sikap
saudara perempuannya itu. Dia lalu
mengambil kembali harta-harta Fatimah
dan membagikan kepada orang-orang yang
berhak menerimanya.
Sikap Fatimah yang seperti inilah, yang
berhasil membawanya sebagai salah satu
contoh mulia dari seorang wanita salehah
yang taat kepada suami dan yang selalu
mendahulukan kepentingan umat.
Ternyata wanita tidak perlu memerlukan
gemerlapnya perhiasan untuk terlihat
indah. Dengan Iman, rasa malu serta
ketundukan kepada Robbnya serta ketaatan
kepada suaminya, justru dia akan menjadi
perhiasan itu sendiri. Dan pastinya menjadi
yang terindah dari yang pernah ada.
Dibalik kekuatan para suami, dukungan istri
merekalah yang banyak menguatkan.
Sebaliknya, dibalik kerepotan para suami,
tuntutan istri merekalah yang banyak
merongrong dan kemudian menghancurkan.
Jika saja, saat ini banyak wanita yang
mencontoh sikap mulia dari Fatimah bin
Abdul malik, maka akan banyak tenanglah
batin suami dalam kehidupan mereka. Lalu
adakah dari kita salah satunya yang mampu
melakukan hal tersebut?