Selasa, 11 Desember 2012

Sanad Hadits pada Syiah

Atas dasar ini, saya katakan kepada setiap
orang yang tertipu dengan agama ini, bahwa
Syi’ah imammiyyah (iman dua belas), tidak
ada pada mereka satu sunnah pun,
maksudnya tidak ditemukan pada mereka
hadits-hadits dari Rasulullah sallallahu alaihi
wasallam. Bahkan kitab-kitab hadits mereka,
yang mereka amalkan dengan
meriwayatkannya, adalah hadits-hadits yang
dikatakan melalui lisan Abu ‘Abdillah, Ja’far
as-Shadiq, iman keenam pada mereka.
Adapun sanad hadits-hadits, maka sanad
tersebut mengundang gelak tawa,
cemoohan, dan keanehan. Bagaimana
seseorang masuk agama Syi’ah, sementara
mereka tidak mengetahui sama sekali ilmu
hadits; sebuah agama yang semuanya
adalah kerugian, dan permainan serta kesia-
siaan. Oleh karena itu, tidak memeluk
agama ini orang yang berakal dan berilmu.
Akan tetapi yang masuk hanyalah orang
yang tidak nalar, tidak berilmu, atau orang
yang mencari harta atau kedudukan.
Agar saya tidak terlalu panjang dalam sisi
ini, maka biarkanlah kita menghadirkan
bersama sanad-sanad Syi’ah, dan
periwayatannya dengan disertai komentar
bahwa itu tidak dimaksudkan untuk
mengajak tertawa, sekalipun benar-benar
layak mengundang tawa, akan tetapi ini
adalah sebuah ajakan untuk memperhatikan
dan merenungkannya. Mudah-mudahan
Allah Subhanallahu wa Ta’ala menuliskan
hidayah bagi setiap orang yang mencari
kebenaran dan orang-orang yang tertipu
dengan agama Syi’ah.
Kami akan memilih kitab Syi’ah yang
terpenting dan paling shahih dalam hal
hadits, yaitu kitab Ushulul Kafi yang kata
mereka setara dengan al-Bukhari menurut
ahlussunnah.
Kita akan mempelajari kondisi sanad
periwayatannya yang aneh, yang tidak akan
dipercayai oleh akal. Maka diantara rlwayat-
riwayat dalam kitab Ushulul Kafi, adalah
sebagal berikut:
1.  Diriwayatkan beberapa hadits dan
seorang laki-laki (Siapa laki-laki ini? tidak
ada seorang pun yang mengetahuinya)
2. Dari seorang laki-laki penduduk
Bashrah (siapa dia, dan apa biografinya,
tidak ada seorang pun yang
mengetahuinya)
3. Dari seekor keledai (tentu saja, tidak
perlu kita tanyakan siapa keledai ini, dan
apa biografinya, akan tetapi cukuplah
Syi’ah merasa terhormat dengan
meriwayatkan hadits-hadits mereka dari
seekor keledai)
4. Dari sebagian sahabat-sahabat kami
(siapa sahabat-sahabat tersebut, tidak
ada seorang pun yang mengetahuinya)
5.  Dari sejumlah sahabat-sahabat kami
(siapa sahabat-sahabat tersebut, tidak
ada seorang pun yang mengetahuinya)
6.  Dari seorang  laki-laki dari
Thabaristan, dan disebut Muhammad
(Iihatlah kalimat, ‘disebut Muhammad’
lalu siapa Muhammad ini, apa
biografinya? Tidak ada seorang pun yang
tahu)
7.  Dari  seseorang yang menyebutkannya
(ini termasuk teka-teki sanad yang ada
pada syi’ah)
8. Dari orang yang mengabarkannya (ini
juga teka-teki sanad pada Syi’ah)
9. Dari seorang laki-laki penduduk
Madinah (siapa dia, dan apa biografinya,
hingga kita bisa mengetahui
ketersambungan sanad? Tidak ada
seorang pun yang tahu)
10.  Dari sebagian sahabat-sahabat kami,
saya kira dia adalah as-Sayyari (lihatlah
kepada kedetailan sanad, perhatikantah
agama ini yang berdiri di atas
persangkaan)
11.  Dari seorang laki-laki penduduk
Kufah yang dipanggil Abu Muhammad
(Siapa dia dan biografinya, tidak ada
seorang pun tahu, kemudian
perhatikanlah kedetilan Syi’ah dalam
menetapkannya)
12.  Dari sebagian sahabatnya dari
penduduk Iraq (Allahu akbar, inikah
sanad yang wajib bagi kita untuk
mengambil agama kita darinya, dan kita
yakin akan keshahihannya?!)
13.  Dari seorang laki-laki dari penduduk
Halwan (!)
14.  Dari sebagian perawinya (!)
15. Dari orang yang meriwayatkannya(!)
Siapa yang bisa percaya bahwa ini adalah
keadaan mayoritas periwayatan Syi’ah?
Jadi, dengan segenap kemudahan, menjadi
jelaslah bahwa mayoritas sanad-sanad
periwayatan Syi’ah mengandung sanad-
sanad seperti ini yang diriwayatkan dari
orang-onang majhul (tidak diketahui). Maka
bagaimana para pengikut suatu agama
mengambil agama mereka dari orang-orang
majhul (tak diketahui) yang menukilkan
untuk mereka bagaimana mereka beribadah
kepada Rabb mereka?!
Maka jika ini adalah keadaan hadits yang
paling shahih pada Syi’ah, maka bagaimana
keadaan kitab-kitab mereka yang lain?!
Sesungguhnya termasuk perkara yang telah
kami tinjau, kami simpulkan bahwa para
ulama Syi’ah tidak mengakui sanad-sanad
ini. Adakalanya karena mereka mengetahui
bahwa mereka berada di atas kebatilan,
atau bahwa mereka mengetahui bahwa
agama mereka tidak memiliki ushul dan
qawa ‘id dalam ilmu yang agung ini (ilmu
hadits, red). Dan sesungguhnya, termasuk
bukti-bukti jelas, lagi terang, yang tidak
menerima keraguan sama sekali bahwa para
ulama Syi’ah tidak mengakui sanad adalah
apa yang kami temukan dalam kitab NahjuI
Balaghah yang mengandung khutbah-
khutbah yang dinisbahkan kepada ‘All bin
Abi Thalib radiyallahu ‘anhu , yang telah
dikumpukan oleh as-Syanif ar-Ridha. Jika kita
rnengetahui bahwa ar-Ridha dilahirkan pada
tahun 359 H, dan dia melakukan
pengumpulan khutbah khutbah ‘Ali
radiyallahu anhu dalam kitab yang dia
bernama NahjuI Balaghah sekitar tahun 400
H, dan seandainya jika juga tahu bahwa ‘Ali
radiyallahu anhu mati syahid pada tahun 40
H, maka tersingkaplah bahwa antara Ali
radiyallahu anhu dan ar-Ridha terpaut
sekitar 360 tahun.
Jadi, bagaimana mungkin ar-Ridha mampu
mengumpulkan khutbah-khutbah ‘Ali
radiyallahu anhu dalam kitab tanpa
mengalami tahrif (penyimpangan,
pemalsuan), apalagi khutbah-khutbah
tersebut tanpa sanad-sanad. Bahkan ar-
Ridha mengisyaratkan dalam permulaan
setiap khutbah, ‘Dan di antara khutbah
beliau ‘alaihiss salam.” Bahkan yang lebih
tercela dari ini adalah bahwa kitab tersebut
paling shahih setelah al-Qur’an menurut
$yi’ah!
Al-Amin berkata dalam A’yanus Syi’ah ,
‘Sesungguhnya Nahjul Balaghah , bersamaan
dengan keshahihan sanad-sanadnya dalam
berbagal kitab, dan keagungan kedudukan,
keadilah, dan ketsiqahan pengumpulnya,
maka tidak membutuhkan saksi atas
keshahihan penisbatannya kepada Imamul
Fashahah wal Balaghah , bahkan dia memiliki
berbagai penguat darinya
Dia juga berkata dalam halaman yang
sama,’Kami katakan bahwa Nahjul Balaghah
tidak membutuhkan penguat, bahwa dia
sendiri yang menyaksikan dirinya sendiri
sebagaimana matahari tidak membutuhkan
saksi bahwa dia adalah matahari’ (A’yanus
syi’ah , juz I bab Kalamun fi NahjiI Balaghah ,
hal. 79)
Demikianlah al-Amin Iari dari penetapan
keshahihan penisbatan khutbah-khutbah
yang ada dalam kitab tersebut kepada Ali
radiyallahu anhu, meninggalkan metode
ilmiah, lalu bersaksi dengan ucapan seperti
ini yang berhak untuk ditulis dengan air
radiator.
Sungguh, benar-benar termasuk perkara
yang menggelikan adalah bahwa datang
seorang dan Syi’ah kemudian memberikan
komentar atas kitab-kitab hadits pada
Ahlussunnah yang mereka (ahlussunnah) itu
telah meletakkan dasar-dasar ilmu hadits,
dan bersendirian (teristimewakan) tanpa
pemeluk agama-agama manapun, dan tanpa
kelompok kelompok sesat yang
menisbahkan dirinya kepada Islam dengan
dusta. Karena sesungguhnya perkara
pertama yang dilihat oleh ahli hadits pada
ahlussunnah adalah sanad, dan sisi
ketersambungannya. Yang demikian itu
adalah demi menjauhkan dan berbagai
perkara yang menggugurkan, seperti mursal,
munqathi, mudallis, khafiy , dan mu’allaq.
Kemudian setelah itu melewati langkah
berikutnya, yaitu mengetahui para perawi
dan tingkat kejujuran mereka, yaitu masalah
jarh wat ta’dil dan segala perkara yang
dikandungnya dan pengenalan ilmu sejarah
para perawi, dan ilmu nama-nama para
perawi. Dan saat ada kontradiksi pada
sebagian hadits, maka dilihatlah matannya.
Seluruh ilmu yang agung ini, dikhususkan
oleh Allah bagi ahlussunnah wal jama’ah.
Maka jadilah agama mereka adalah agama
yang benar, sementara selain mereka
tersesat di dalam lautan kegelapan dan
kesesatan.
Maka segala puji bagi Allah Subhanallahu wa
Ta’ala yang telah memberikan nikmat
mengikuti agama yang memiliki kaidah-
kaidah rinci, dan ushul yang bersih dalam
mengetahui kebenaran dan kebatilan kepada
kita. (AR)*
Sumber: Majalah Qiblati edisi 01 Tahun VII