Selasa, 25 Desember 2012

KEUTAMAAN SIKAP MALU


Berikut adalah hadits-hadits yang
dibawakan oleh Imam Al Bukhari
dalam Adabul Mufrod yang
membicarakan keutamaan sifat
malu.
[465/597]
Dari Abu Mas'ud, ia berkata bahwa
Uqbah berkata, “Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda,
ﻥﺇ ﺎﻤﻣ ﻙﺭﺩﺃ ﺱﺎﻨﻟﺍ ﻦﻣ
ﻡﻼﻛ ﺓﻮﺒﻨﻟﺍ
:[1316/ﻰﻟﻭﻷﺍ] ﺍﺫﺇ ﻢﻟ
ﻲﺤﺘﺴﺗ ﻊﻨﺻﺎﻓ ﺎﻣ ﺖﺌﺷ
"Sesungguhnya di antara kalimat
kenabian pertama yang sampai ke
tengah-tengah manusia adalah:
“Jika engkau tidak malu, berbuatlah
sekehendakmu”."
(Shahih)- Ash Shahihah (684), Al
Irwa’ (2673): [Bukhari: 60-Kitab Al
Anbiya’, 54-Bab Hadatsana Abul
Yaman]
[466/598]
Dari Abu Hurairah, dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ ﻊﻀﺑ -ﻥﻮﺘﺳﻭ ﻭﺃ
ﻊﻀﺑ ﻥﻮﻌﺒﺳﻭ - ؛ﺔﺒﻌﺷ
ﺎﻬﻠﻀﻓﺃ ﻻ ﻪﻟﺇ ﻻﺇ ،ﻪﻠﻟﺍ
ﺎﻫﺎﻧﺩﺃﻭ ﺔﻃﺎﻣﺇ ﻯﺫﻷﺍ ﻦﻋ
،ﻖﻳﺮﻄﻟﺍ ﺀﺎﻴﺤﻟﺍﻭ ﺔﺒﻌﺷ
ﻦﻣ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ
"Iman itu ada 60 lebih (atau 70
sekian) cabang. Iman yang paling
utama adalah [ucapan] Laa ilaaha
illallah dan yang paling rendah
adalah menyingkirkan gangguan
dari jalan, sedangkan malu
termasuk cabang dari iman."
(Shahih) -Ash Shahihah (1769).
Lafazh “ sab’un (70)” itu yang lebih
tepat. [Bukhari: 2-Kitab Al Iman, 3-
Bab Umurul Iman. Muslim: 1-Kitab
Al Iman, hal. 57-58]
[467/599]
Dari Abu Sa’id, ia berkata,
ﻥﺎﻛ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﺪﺷﺃ ﺀﺎﻴﺣ ﻦﻣ
ﺀﺍﺭﺬﻌﻟﺍ [1] ﻲﻓ ،ﺎﻫﺭﺪﺧ
ﻥﺎﻛﻭ ﺍﺫﺇ ﻩﺮﻛ [ًﺎﺌﻴﺷ]
ﻩﺎﻨﻓﺮﻋ ﻲﻓ ﻪﻬﺟﻭ
“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
lebih pemalu dari pada perawan
dalam pingitan. Jika beliau tidak
menyukai [sesuatu], maka akan
kami ketahui dari wajahnya."
(Shahih)- Mukhtashor Ash Shama-il
(307): [Bukhari: 61-Kitab Al
Manaqib, 23-Bab Shifatun Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Muslim: 43-Kitab Al Fadhoil, hal.
67]
[468/600]
Dari Utsman [ibnu Affan] dan
‘Aisyah, keduanya menceritakan,
ﻥﺃ ﺎﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﻥﺫﺄﺘﺳﺍ ﻰﻠﻋ
ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ - ﻮﻫﻭ ٌﻊﺠﻄﻀﻣ
ﻰﻠﻋ ﺵﺍﺮﻓ ،ﺔﺸﺋﺎﻋ ًﺎﺴﺑﻻ
ﻁﺮﻣ -ﺔﺸﺋﺎﻋ ﻥﺫﺄﻓ ﻲﺑﻷ ﺮﻜﺑ
ﻮﻫﻭ ،ﻚﻟﺬﻛ ﻰﻀﻘﻓ ﻪﻴﻟﺇ
،ﻪﺘﺟﺎﺣ ﻢﺛ .ﻑﺮﺼﻧﺍ ﻢﺛ
ﻥﺫﺄﺘﺳﺍ ﺮﻤﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ
،ﻪﻨﻋ ﻥﺫﺄﻓ ﻪﻟ ﻮﻫﻭ ،ﻚﻟﺬﻛ
ﻰﻀﻘﻓ ﻪﻴﻟﺇ ،ﻪﺘﺟﺎﺣ ﻢﺛ
.ﻑﺮﺼﻧﺍ ﻝﺎﻗ :ﻥﺎﻤﺜﻋ ﻢﺛ
ﺖﻧﺫﺄﺘﺳﺍ ،ﻪﻴﻠﻋ .ﺲﻠﺠﻓ
ﻝﺎﻗﻭ :ﺔﺸﺋﺎﻌﻟ ﻲﻌﻤﺟﺍ"
ﻚﻴﻟﺇ ."ﻚﺑﺎﻴﺛ ﺖﻴﻀﻘﻓ
ﻪﻴﻟﺇ ﻲﺘﺟﺎﺣ ﻢﺛ
:ﻝﺎﻗ.ُﺖﻓﺮﺼﻧﺍ ﺖﻟﺎﻘﻓ
:ﺔﺸﺋﺎﻋ ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ !ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻟ
ﻙﺭﺃ ﺖﻋﺰﻓ ﻲﺑﻷ ﺮﻜﺑ ﺮﻤﻋﻭ
ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﺎﻤﻬﻨﻋ ﺎﻤﻛ
ﺖﻋﺰﻓ ؟ﻥﺎﻤﺜﻌﻟ ﻝﺎﻗ ﻝﻮﺳﺭ
ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
ﻢﻠﺳﻭ : ﻥﺇ" ﻥﺎﻤﺜﻋ ﻞﺟﺭ
،ﻲﻴﺣ ﻲﻧﺇﻭ ﺖﻴﺸﺧ ﻥﺃ ُﺖﻧﺫﺃ
-ﻪﻟ ﺎﻧﺃﻭ ﻰﻠﻋ ﻚﻠﺗ -ﻝﺎﺤﻟﺍ
ﻥﺃ ﻻ ﻎﻠﺒﻳ ّﻲﻟﺇ ﻲﻓ ﻪﺘﺟﺎﺣ
“Suatu ketika Abu Bakar meminta
izin untuk menemui Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam - ketika
itu beliau sedang berbaring di
tempat tidur Aisyah sambil
memakai kain panjang istrinya-.
Beliau lalu mengizinkan Abu Bakar
dan beliau tetap dalam keadaan
semula. Abu Bakar lalu
mengutarakan keperluannya lalu
pergi. Setelah itu datanglah Umar
ibnul Khaththab radliallahu 'anhu
meminta izin dan beliau
mengizinkannya masuk sedang
beliau masih dalam kondisi
semula. Umar lalu mengutarakan
keperluannya lalu setelah itu ia pun
pergi.
Utsman [ibnu Affan] berkata, "Lalu
saya meminta izin, beliau lalu
duduk”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam berkata pada Aisyah,
"Tutupkanlah bajumu padaku". Lalu
kuutarakan keperluanku lalu saya
pun pergi.
Aisyah lalu bertanya, "Wahai
Rasulullah, tindakanmu terhadap
Abu Bakar dan ‘Umar radliallahu
'anhuma kok tidak seperti
tindakanmu pada Utsman [?]"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam lalu menjawab,
"Sesungguhnya Utsman adalah
seorang pria pemalu dan saya
khawatir jika dia kuizinkan dan saya
dalam keadaan demikian, dia lalu
tidak mengutarakan keperluannya."
(Shahih)- Ash Shahihah (1687):
[Muslim: 44-Kitab Fadhoil Ash
Shohabah, hal. 26-27]
[469/601]
Dari Anas ibnu Malik, dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda,
ﺎﻣ ﻥﺎﻛ ﺀﺎﻴﺤﻟﺍ ﻲﻓ ﺀﻲﺷ ﻻﺇ
،ﻪﻧﺍﺯ ﻻﻭ ﻥﺎﻛ ﺶﺤﻔﻟﺍ ﻲﻓ
ﺀﻲﺷ ﻻﺇ ﻪﻧﺎﺷ
"Malu akan memperindah sesuatu,
sedangkan kekejian akan
memperjelek sesuatu.”
(Shahih) -Takhrij Al Misykah (4854):
[Tirmidzi: 25-Kitab Al Birr, 47-Bab
Maa Jaa-a Fil Fahsyi wat Tafahusyi.
Ibnu Majah: 37-Kitab Az Zuhd, 17-
Bab Al Haya’, hal. 4185]
[470/602]
Dari Salim, dari ayahnya, ia
menceritakan bahwa
ﻥﺃ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﺮﻣ ﻞﺟﺮﺑ ﻆﻌﻳ
) ﻲﻓﻭ ﺔﻳﺍﻭﺭ … (ﺐﺗﺎﻌﻳ
ﻩﺎﺧﺃ ﻲﻓ ،ﺀﺎﻴﺤﻟﺍ ] ﻰﺘﺣ
ﻪﻧﺄﻛ ﻝﻮﻘﻳ : ّﺮﺿﺃ [ﻚﺑ
:ﻝﺎﻘﻓ " ؛ُﻪﻋﺩ ﻥﺈﻓ ﺀﺎﻴﺤﻟﺍ
ﻦﻣ ﻥﺎﻤﻳﻹﺍ
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
melewati seorang pria yang
menasehati saudaranya karena ia
begitu pemalu [dalam suatu
riwayat disebutkan [pria itu
mencelanya karena sifat malu yang
dimilikinya] [bahkan pria itu
berkata: “Saya dirugikan karena
sifatmu itu.”]
Nabi lalu bersabda, "Biarkanlah
dia, karena malu merupakan ciri
keimanan."
(Shahih)- Ar Roudh An Nadhir
(513): [Bukhari: 2-Kitab Al Iman, 16-
Bab Al Haya’. Muslim: 1-Kitab Al
Iman, hal. 59]
[471/603]
Dari ‘Aisyah, ia berkata,
ﻥﺎﻛ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ًﺎﻌﺠﻄﻀﻣ ﻲﻓ
،ﻲﺘﻴﺑ ًﺎﻔﺷﺎﻛ ﻦﻋ ﻪﺨﻓ ﻭﺃ
ﻪﻴﻗﺎﺳ [2] ، ﻥﺫﺄﺘﺳﺎﻓ ﻮﺑﺃ
ﺮﻜﺑ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ ﻥﺫﺄﻓ
ﻪﻟ ،ﻚﻟﺬﻛ
،ﺙﺪﺤﺘﻓ ﻢﺛ ﻥﺫﺄﺘﺳﺍ ﺮﻤﻋ
ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ،ﻪﻨﻋ ﻥﺫﺄﻓ ﻪﻟ
،ﻚﻟﺬﻛ ﻢﺛ .ﺙّﺪﺤﺗ ﻢﺛ
ﻥﺫﺄﺘﺳﺍ ﻥﺎﻤﺜﻋ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ
،ﻪﻨﻋ ﺲﻠﺠﻓ ﻲﺒﻨﻟﺍ ﻰﻠﺻ
ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻯﻮﺳﻭ
-ﻪﺑﺎﻴﺛ ﻝﺎﻗ ﺪﻤﺤﻣ : ﻻﻭ
ﻝﻮﻗﺃ ﻲﻓ ﻡﻮﻳ -ﺪﺣﺍﻭ
،ﻞﺧﺪﻓ ،ﺙﺪﺤﺘﻓ ﺎﻤﻠﻓ .ﺝﺮﺧ
:ﺖﻟﺎﻗ :ﺖﻠﻗ ﺎﻳ" ﻝﻮﺳﺭ
!ﻪﻠﻟﺍ ﻞﺧﺩ ﻮﺑﺃ ﺮﻜﺑ ﻢﻠﻓ
ّﺶِﻬﺗ ﻢﻟﻭ ،ﻪﻟﺎﺒﺗ ﻢﺛ ﻞﺧﺩ
ﺮﻤﻋ ﻢﻠﻓ ﺶﻬﺗ ﻢﻟﻭ ،ﻪﻟﺎﺒﺗ
ﻢﺛ ﻞﺧﺩ ﻥﺎﻤﺜﻋ ﺖﺴﻠﺠﻓ
ﺖﻳﻮﺳﻭ ؟ﻚﺑﺎﻴﺛ
“Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
tengah berbaring di rumahku dalam
keadaan paha atau betis beliau
tersingkap. Abu Bakar meminta izin
untuk menemui beliau dan beliau
pun mengizinkan kemudian ia
mengutarakan maksudnya. Setelah
itu datanglah Umar radliallahu
'anhu, beliau pun mengizinkannya
dan ia pun menyampaikan
keperluannya. Datanglah Utsman
radliallahu 'anhu, kemudian Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit
untuk duduk dan merapikan
bajunya –Muhammad [3] berkata:
“Saya tidak menyatakan mereka
(ketiga sahabat tadi) masuk
menemui nabi di hari yang sama-.
Utsman pun masuk dan
mengutarakan keperluannya lalu ia
keluar. Saya (Aisyah) pun bertanya,
“Wahai rasulullah ketika Abu Bakr
dan Umar masuk menemuimu,
namun anda tidak menghiraukan
kondisimu, namun sikap anda
berbeda ketika Ustman yang
menemui anda?”
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
lantas bersabda,
ﻻﺃ ﻲﺤﺘﺳﺃ ﻦﻣ ﻞﺟﺭ ﻲﺤﺘﺴﺗ
ﻪﻨﻣ ؟ﺔﻜﺋﻼﻤﻟﺍ
"Apakah saya tidak malu kepada
pria yang malaikat saja malu
kepadanya?”
(Shahih)- Ash Shahihah (1687):
[Muslim: Lihat hadits 600] [4]
Artikel www.rumaysho.com
[1] Dalam kitab asli tercantum
ﺀﺍﺭﺬﻋ demikian pula pada kitab
pensyarah. Saya mengoreksinya
beracuan kepada kitab Shahih
penulis (imam Bukhari) dan Shahih
Muslim. Dan berdasarkan kedua
acuan tersebut saya menyisipkan
lafadz ”syaian” pada hadits di atas
sebagaimana tertera dalam tanda
kurung.
[2] Demikianlah lafadz yang tertera
dalam Shahih Muslim dan hal itu
merupakan keragu-raguan dari
salah satu perawi. Namun hal itu
tidak terjadi dalam riwayat Ath
Thahawi ketika saya
mencantumkan takhrij hadits
tersebut dalam Ash Shahihah
(4/259). Saya juga menyatakan
bahwa hadits tersebut dikeluarkan
pula oleh Ibnu Hibban dalam
Shahih-nya (9/27-28). Hadits di atas
memiliki syahid dari hadits Anas,
namun dalam redaksinya tidak
disebutkan keraguan yang muncul
dari perawi sebagaimana tersebut
dalam hadits di atas. Saya juga
mentakhrij hadits tersebut di
tempat yang sama.
[3] Muhammad bin Abi Harmalah,
perawi yang meriwayatkan hadits
ini dari Atha’ (ed). Syarh Shahih
Adabil Mufrad 2/254.
[4] Yang dimaksudkan di sini adalah
hadits no. (468/600). Sudah
sepatutnya diketahui bahwa hadits
seandainya diriwayatkan juga oleh
Muslim, namun riwayat lain tidak
demikian baik secara matan
maupun sanad. Adapun sanad,
maka hadits ini berasal dari hadits
‘Aisyah saja sebagaimana yang
engkau saksikan Begitu pula hadits
lainnya adalah hadits Utsman
bersama Aisyah sebagaimana yang
telah lewat.
Adapun secara matan, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat
menyingkap pahanya (maksudnya:
dia menurunkan kedua kakinya di
dinding sebagaimana ditegaskan
dalam hadits Anas). Di dalamnya,
beliau berbaring di rumah ‘Aisyah
sambil tertutup oleh pakaian
(berbulu). Hal ini sebagaimana
dijelaskan dalam Ibnu Hibban
(6867), Al Musnad (6/167). Oleh
karena itu beliau katakan: “Jadikan
pakaianmu untuk menutupku”. Dari
sini, beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam memakai selain pakaiannya.