Selasa, 11 Desember 2012

Hikmah Dibalik Asinnya Air Laut

Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
ﺎَﻣَﻭ ﻱِﻮَﺘْﺴَﻳ ِﻥﺍَﺮْﺤَﺒْﻟﺍ ﺍَﺬَﻫ ٌﺏْﺬَﻋ
ٌﺕﺍَﺮُﻓ ٌﻎِﺋﺎَﺳ ُﻪُﺑﺍَﺮَﺷ ﺍَﺬَﻫَﻭ ٌﺢْﻠِﻣ
ٌﺝﺎَﺟُﺃ ﻦِﻣَﻭ ٍّﻞُﻛ َﻥﻮُﻠُﻛْﺄَﺗ ﺎًﻤْﺤَﻟ
ﺎًّﻳِﺮَﻃ َﻥﻮُﺟِﺮْﺨَﺘْﺴَﺗَﻭ ًﺔَﻴْﻠِﺣ
ﺎَﻬَﻧﻮُﺴَﺒْﻠَﺗ ﻯَﺮَﺗَﻭ َﻚْﻠُﻔْﻟﺍ ِﻪﻴِﻓ
َﺮِﺧﺍَﻮَﻣ ﺍﻮُﻐَﺘْﺒَﺘِﻟ ﻦِﻣ ِﻪِﻠْﻀَﻓ
ْﻢُﻜَّﻠَﻌَﻟَﻭ َﻥﻭُﺮُﻜْﺸَﺗ
”Dan tidaklah sama (antara) dua
laut; yang ini tawar, segar, sedap
diminum dan yang lain asin lagi
pahit. Dan dari masing-masing laut
itu kamu dapat memakan daging
yang segar dan kamu dapat
mengeluarkan perhiasan yang
dapat kamu pakaip, dan pada
masing-masingnya kamu lihat
kapal-kapal berlayar membelah
laut supaya kamu dapat mencari
karunia-Nya dan supaya kamu
bersyukur.” (QS. Faathir: 12)
Penjelasan Ilmiah
Jika salah seorang di antara kita
mengunjungi pabrik pembuatan es
krim, niscaya akan didapati bahwa
pembekuan es krim dengan
menggunakan es saja tidak cukup
karena es tidak dapat
mendinginkan hingga di bawah 0
(nol) derajat celcius. Oleh karena
itu, para pekerja mencampurkan
garam ke dalam es, sehingga
membentuk campuran cairan asin
yang meleleh pada derajat di
bawah nol derajat (yang perlu
diperhatikan bahwa pendinginan
dengan cara ini –yaitu peningkatan
konsentrasi garam- tidak dapat
dilakukan sampai suhu di bawah 12
derajat celcius). Dan pengamatan
sederhana ini termasuk hal yang
penting yang terjadi di perairan
laut.
Maka keberadaan kadar garam di
laut ini membuat air laut baru
membeku pada derajat di bawah 0
(nol) derajat, suatu hal itu yang
memungkinkan air laut tetap
mengalir/tidak beku (karena ia cair)
pada derajat kurang dari 10 derajat.
Sehingga hal itu memudahkan
pelayaran pada musim dingin pada
waktu yang lebih lama (karena air
laut tidak membeku pada suhu di
bawah nol derajat). Sementara kita
mencermati bahwa air sungai telah
membeku pada musim dingin.
Dan ini, di samping keadaan air
garam yang memmudah binatang,
ikan, dan manusia untuk berenang,
karena ia (air garam) memperingan
berat badan. Sebagaimana salinitas
(kadar garam) laut berfungsi untuk
mensterilkan air, sehingga
mencegah terjadinya pembusukan,
dan perkembangbiakan penyakit.
Kalau tidak demikian niscaya laut
menjadi menjadi pusat (markas)
yang baik bagi wabah dan penyakit
yang menyebar ke seluruh negara
dan bangsa.
Dan kita dapati diri kita berada
dalam keheranan ketika kita
mengingat bahwa dari benda cair
ini (air), Allah Subhanahu wa
Ta’ala menciptakan segala jenis
makhluk, sebagai bukti dari firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟﻭ َﻦِﻣ ِﺀﺎَﻤْﻟﺍ َّﻞُﻛ ٍﺀْﻲَﺷ ٍّﻲَﺣ
َﻼَﻓَﺃ َﻥﻮُﻨِﻣْﺆُﻳ (30)
””Dan dari air Kami jadikan segala
sesuatu yang hidup. Maka
mengapakah mereka tidak juga
beriman?” (QS. Al-Anbiya’: 30)
Maka air masuk ke dalam
komposisi beberapa tumbuhan
dengan kadar 99%, sedangkan
pada manusia dan hewan
terkadang kadarnya lebih dari 75 %.
Air masuk ke dalam komposisi
semua unsur cairan dalam tubuh
(seperti darah merah, getah
bening/sel darah putih, dahak,
hormon, berbagai jenis kelenjar
dan lain-lain). Dan jika jumlah air
dalam tubuh berkurang, maka
cairan tubuh ini dianggap tidak lagi
mampu berpartisipasi secara
khusus dalam tubuh tersebut. Dan
dimungkinkan bagi manusia untuk
tetap hidup tanpa makanan dalam
waktu satu bulan atau lebih, akan
tetapi dia tidak bisa hidup tanpa
air lebih dari beberapa hari.