Selasa, 11 Desember 2012

Syarah Ibn Taimiyah

Oleh : Syaikh Sa'id bin Ali bin Wahfi Al-
Qahthaniy rahimahullah
METODE AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
DALAM MENIADAKAN DAN MENETAPKAN
ASMA' DAN SIFAT BAGI ALLAH
Ahlus Sunnah wal Jama'ah menetapkan apa
yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-
Nya secara tafshil, dengan landasan firman
Allah :
َﻮُﻫَﻭ ُﻊﻴِﻤَّﺴﻟﺍ ُﺮﻴِﺼَﺒﻟﺍ
"Dan Dia Maha Mendengar dan Maha
Melihat." [QS.Asy-Syura : 11]
Karena itu, semua nama dan sifat yang telah
ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya atau
oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wassalam,
mereka tetapkan untuk Allah, sesuai dengan
keagungan sifat-Nya. Sebaliknya, Ahlus
Sunnah wal Jama'ah menafikan apa yang
telah dinafikan oleh Allah dari diri-Nya, atau
oleh rasul-Nya, dengan penafian secara
ijmal, berdasarkan kepada firman Allah :
َﺲْﻴَﻟ ِﻪِﻠْﺜِﻤَﻛ ٌﺀْﻲَﺷ
"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-
Nya..." [QS.Asy-Syura : 11]
Penafian sesuatu menuntut penetapan
terhadap kebalikannya, yaitu kesempurnaan.
Semua yang dinafikan oleh Allah dari diri-
Nya, berupa kekurangan atau persekutuan
makhluk dalam hal-hal yang merupakan
kekhususan-Nya, menunjuk-kan
ditetapkannya kesempurnaan-kesempurnaan
yang merupakan kebalikannya. Allah telah
memadukan penafian dan penetapan dalam
satu ayat. Maksud saya penafian secara
ijmal dan penetapan secara tafshil yaitu
dalam firman Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻭ ﻰﻟﺎﻌﺗ :
َﺲْﻴَﻟ ِﻪِﻠْﺜِﻤَﻛ ٌﺀْﻲَﺷ َﻮُﻫَﻭ ُﻊﻴِﻤَّﺴﻟﺍ ُﺮﻴِﺼَﺒﻟﺍ
"Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-
Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat." [QS.Asy-Syura: 11]
Ayat ini mengandung tanzih, -penyucian-
Allah dari penyerupaan dengan makhluk-
Nya, baik dalam dzat, sifat, maupun
perbuatan-Nya. Bagian awal ayat di atas
merupakan bantahan bagi kaum
Musyabbihah (yang menyerupakan Allah),
yaitu firman Allah Ta'ala:
َﺲْﻴَﻟ ِﻪِﻠْﺜِﻤَﻛ ٌﺀْﻲَﺷ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-
Nya ..." [Asy-Syura : 11]
Adapun bagian akhir dari firman Allah
tersebut merupakan bantahan bagi kaum
Mu'athilah -yang melakukan ta'thil-, yaitu
firman Allah:
ُﻊﻴِﻤَّﺴﻟﺍ َﻮُﻫَﻭ ﺮﻴِﺼَﺒﻟﺍ
"Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat." [Asy-Syura : 11]
Pada bagian pertama terkandung penafian
secara ijmal sedangkan pada bagian
terakhir terkandung penetapan secara
tafshil. Ayat di atas juga mengandung
bantahan bagi kaum Asy'ariyah yang
mengatakan bahwa Allah mendengar tanpa
pendengaran dan melihat tanpa
penglihatan.1
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ﻪﻤﺣﺭ ﻪﻠﻟﺍ
ﻰﻟﺎﻌﺗ mencantumkan ayat diatas, berikut
surah Al-Ikhlas dan ayat Al-Kursi, karena
surah Al-Ikhlas dan ayat-ayat tersebut
mengandung penafian dan penetapan.2
Surah Al-Ikhlas memiliki bobot yang
sebanding dengan sepertiga Al-Qur'an,
sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah
ﻲﻠﺻ ﻪﻴﻠﻋ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ3 Para Ulama
menyebutkan penafsiran sabda beliau itu,
bahwa Al-Qur'an diturunkan dengan tiga
macam kandungan, yaitu : Tauhid, kisah-
kisah, dan hukum-hukum, sedangkan surah
Al-Ikhlas ini mengandung tauhid dengan
ketiga macamnya, yaitu: Tauhid Uluhiyah,
Tauhid Rububiyah, dan Tauhid Asma' wa
Shifat. Karena itulah ia dikatakan sebanding
dengan sepertiga Al-Qur'an. 4
Ayat Al-Kursi adalah ayat yang agung,
bahkan merupakan ayat yang paling agung
di dalam Al-Qur'an. 5 Itu disebabkan, ia
mengandung nama-nama Allah Yang Maha
Indah dan sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi.
Nama-nama dan sifat-sifat tersebut
terkumpul di dalamnya, yang tidak
terkumpul seperti itu dalam ayat lainnya.
Karena itu, ayat yang mengandung makna-
makna agung ini layak untuk menjadi ayat
yang paling agung dalam Kitabullah. 6
MADZHAB AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH
TENTANG ASMA' DAN SIFAT-SIFAT ALLAH
SECARA TAFSHIL/ RINCI
Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah
madzhab kaum salaf ﻢﻬﻤﺣﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻟﺎﻌﺗ .
Mereka beriman kepada apa saja yang
disampaikan oleh Allah mengenai diri-Nya
di dalam kitab-Nya dan oleh Rasulullah ﻲﻠﺻ
ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻠﺳﻭ ﻪﻴﻠﻋ dengan keimanan yang
bersih dari tahrif dan ta'thil serta dari takyif
dan tamtsil. Mereka menyatukan
pembicaraan mengenai sifat-sifat Allah
dengan pembicaraan mengenai Dzat-Nya,
dalam satu bab. Pendapat mereka mengenai
sifat-sifat Allah sama dengan pendapat
mereka mengenai Dzat-Nya. Bila penetapan
Dzat adalah penetapan tentang
keberadaannya, bukan penetapan tentang
bagaimananya, maka seperti itu pulalah
penetapan sifat. Menurut mereka, wajib
mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah
yang telah ditegaskan oleh Al-Qur'an dan
As-Sunnah, atau oleh salah satu dari
keduanya. Nama-nama dan sifat-sifat
tersebut wajib diimani sebagaimana yang
disebutkan dalam nash, tanpa takyif, wajib
diimani berikut makna-makna agung yang
terkandung didalamnya yang merupakan
sifat-sifat Allah ّﻞﺟﻭّﺰﻋ. Wajib mensifati Allah
dengan makna sifat-sifat tersebut, dengan
penyifatan yang layak bagi-Nya, tanpa tahrif,
ta'thil, takyif, atau tamtsil.7
Ahlus Sunnah wal Jama'ah tidak
mengkiaskan Allah dengan makhluk-Nya,
karena mereka tidak memperbolehkan
penggunaan berbagai kias (analogi) yang
mengandung konsekuensi penyerupaan dan
penyamaan antara apa yang dikiaskan
dengan apa yang menjadi obyek pengkiasan
dalam masalah-masalah Ilahiyah. Karena itu
mereka tidak menggunakan kias, tamtsil dan
kias syumul/ menyeluruh terhadap Allah
Ta'ala. Terhadap Allah ﻪﻧﺎﺤﺒﺳ ﻭ ﻰﻟﺎﻌﺗ
mereka menggunakan kias aula/ yang lebih
utama. Inti kias ini adalah bahwa setiap
kesempurnaan yang terdapat pada makhluk,
tanpa kekurangan dipandang dari berbagai
segi, maka Al-Khaliq lebih layak untuk
memilikinya, sebaliknya setiap sifat
kekurangan dihindari oleh makhluk, maka Al-
Khaliq lebih layak untuk terhindar darinya.
......bersambung, insya Allah.
Sumber : https://www.facebook.com/
note.php?note_id=10150693580731221
1_Al-Ajwibah Al-Ushuliyah 'ala Al-Aqidah
Al-Wasithiyah, hal.26
2_Ar-Raudah An-Nadiyah, hal. 120 dan
Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, Al-haras,
hal.31
3_Al-Bukhari, lihat Fathul Bari XIII / 347
dan Muslim I/556 no.811
4_Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Haras,
hal.21
5_Muslim I/556 no.810, Ahmad V/142, dan
lain-lain
6_Al-Ajwibah Al-Ushuliyah 'ala Al-Aqidah
Al-Wasithiyah, hal.40
7_ Lihat "Al-Aqidah Asy-Shahihah wa maa
Yudhaadhuha", Syaikh Abdul Aziz bin
Abdulah bin Baz, hal 7 dan 'Syarh Al-Aqidah
Al-Wasithiyah", Al-Haras hal. 25
Share Print