Selasa, 25 Desember 2012

TENTANG TAHLILAN 7 HARI


Abu Nu’aim rahimahullah berkata :
ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ﻮُﺑَﺃ ِﺮْﻜَﺑ ،ٍﻚِﻟﺎَﻣ ُﻦْﺑ ﺎﻨﺛ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﺪْﺒَﻋ
ُﻦْﺑ ِﻦْﺑ َﺪَﻤْﺣَﺃ ،ٍﻞَﺒْﻨَﺣ ﺎﻨﺛ ،ﻲِﺑَﺃ ُﻢِﺷﺎَﻫ ﺎﻨﺛ
ُﻦْﺑ ،ِﻢِﺳﺎَﻘْﻟﺍ ﺎﻨﺛ ،ُّﻲِﻌَﺠْﺷَﻷﺍ ْﻦَﻋ ،َﻥﺎَﻴْﻔُﺳ
:َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ " :ٌﺱُﻭﺎَﻃ ﻰَﺗْﻮَﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ َﻥﻮُﻨَﺘْﻔُﻳ ﻲِﻓ
ْﻢِﻫِﺭﻮُﺒُﻗ ،ﺎًﻌْﺒَﺳ ْﻥَﺃ َﻥﻮُّﺒِﺤَﺘْﺴَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻜَﻓ
َﻢَﻌْﻄُﻳ ْﻢُﻬْﻨَﻋ َﻚْﻠِﺗ ِﻡﺎَّﻳَﻷﺍ "
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr
bin Maalik : Telah menceritakan kepada
kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal :
Telah menceritakan kepada kami ayahku :
Telah menceritakan kepada kami Haasyim
bin Al-Qaasim : Telah menceritakan
kepada kami Al-Asyja’iy, dari Sufyaan (Ats-
Tsauriy), ia berkata : Telah berkata
Thaawus : “Sesungguhnya orang yang
meninggal akan terfitnah (diuji) dalam
kuburnya selama 7 hari. Dulu mereka [1]
menyukai untuk memberikan makanan dari
mereka (yang meninggal) pada hari-hari
tersebut” [Hilyatul-Auliyaa’ 4/11].
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hajar [2]
rahimahullah dalam Al-
Mathaalibul-‘Aaliyyah no. 834.
Keterangan para perawinya adalah
sebagai berikut :
1. Abu Bakr bin Maalik, namanya
adalah : Ahmad bin Ja’far bin
Hamdaan bin Maalik bin Syabiib Al-
Baghdaadiy Al-Qathii’iy Al-Hanbaliy,
Abu Maalik; seorang yang tsiqah .
Lahir tahun 274 H dan wafat tahun
368 H [Lihat : Siyaru A’laamin-
Nubalaa’ , 16/210-213 dan
Mishbaarul-Ariib 1/75 no. 1316].
2. ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad
bin Hanbal bin Hilaal bin Asad Asy-
Syaibaaniy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-
Baghdaadiy; seorang yang tsiqah .
Termasuk thabaqah ke-12, dan wafat
tahun 290 H. Dipakai oleh An-
Nasaa’iy [ Taqriibut-Tahdziib , hal.
490 no. 3222].
3. Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
bin Hilaal bin Asad Asy-Syaibaaniy,
Abu ‘Abdillah Al-Marwaziy ; seorang
imam yang tsiqah , haafidh, faqiih ,
lagi hujjah . Termasuk
thabaqah ke-10, lahir tahun 164 H,
dan wafat tahun 241 H. Dipakai oleh
Al-Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud,
At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu
Maajah [ Taqriibut-Tahdziib , hal. 98
no. 97].
4. ‘Ubaidullah bin ‘Ubaidirrahmaan Al-
Asyja’iy, Abu ‘Abdirrahmaan Al-
Kuufiy; seorang yang tsiqah lagi
ma’muun – orang yang paling tsabt
kitabnya dalam riwayat dari Ats-
Tsauriy. Termasuk thabaqah ke-9,
dan wafat tahun 182 H. Dipakai oleh
Al-Bukhaariy, Muslim, At-Tirmidziy,
An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah
[Taqriibut-Tahdziib , hal. 642 no.
4347].
5. Sufyaan bin Sa’iid bin Masruuq Ats-
Tsauriy, Abu ‘Abdillah Al-Kuufiy;
seorang yang
tsiqah , haafidh, faqiih, ‘aabid , imam ,
lagi hujjah . Termasuk thabaqah ke-7,
lahir tahun 97 H, dan wafat tahun
161 H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy,
Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy,
An-Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah
[Taqriibut-Tahdziib , hal. 394 no.
2458].
6. Thaawuus bin Kaisaan Al-Yamaaniy,
Abu ‘Abdirrahmaan Al-Humairiy;
seorang yang tsiqah , faqiih ,
lagi faadlil . Termasuk thabaqah ke-3,
wafat tahun 106 H, dan dikatakan
juga setelah itu. Dipakai oleh Al-
Bukhaariy, Muslim, Abu Daawud, At-
Tirmidziy, An-Nasaa’iy, dan Ibnu
Maajah [ Taqriibut-Tahdziib , hal. 462
no. 3026].
Dapat kita lihat bahwa para perawi riwayat
di atas adalah tsiqaat. Namun, rijaal
tsiqaat tidaklah langsung menjadikan satu
riwayat shahih[3] karena ternyata riwayat
tersebut ma’luul lagi dla’iif .
Sufyaan Ats-Tsauriy lahir pada tahun 97 H
di Kuufah, sedangkan Thaawuus bin
Kaisaan wafat 106 H di Makkah. Hingga
tahun wafatnya Thaawuus, Sufyaan belum
melakukan rihlah ke Makkah [4] . Selain itu,
tidak masyhur penukilan bahwa Thaawuus
termasuk syuyuukh Ats-Tsauriy
rahimahumallah .
Ada riwayat lain :
ِﻦَﻋ ِﻦْﺑﺍ ،ٍﺞْﻳَﺮُﺟ :َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ ُﺪْﺒَﻋ ُﻦْﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ
" َﺮَﻤُﻋ ُﻦَﺘْﻔُﻳ ﺎَﻤَّﻧِﺇ ،ٌﻦِﻣْﺆُﻣ ِﻥﻼُﺟَﺭ ،ٌﻖِﻓﺎَﻨُﻣَﻭ
ﺎَّﻣَﺃ :ُﻦِﻣْﺆُﻤْﻟﺍ ،ﺎًﻌْﺒَﺳ ُﻦَﺘَﺘْﻔُﻴَﻓ ﺎَّﻣَﺃَﻭ
:ُﻖِﻓﺎَﻨُﻤْﻟﺍ ُﻦَﺘْﻔُﻴَﻓ َﻦﻴِﻌَﺑْﺭَﺃ ،ﺎًﺣﺎَﺒَﺻ ﺎَّﻣَﺃَﻭ
ﻼَﻓ :ُﺮِﻓﺎَﻜْﻟﺍ ْﻦَﻋ ُﻝَﺄْﺴُﻳ ،ٍﺪَّﻤَﺤُﻣ ﻻَﻭ " ُﻪُﻓِﺮْﻌَﻳ
Dari Ibnu Juraij, ia berkata : Telah berkata
‘Abdullah bin ‘Umar : “Dua orang yaitu
orang mukmin dan munafiq memperoleh
fitnah kubur. Adapun seorang mukmin
maka ia difitnah selama tujuh hari. Orang
munafiq selama empat puluh hari. Adapun
orang kafir, maka jangan ditanya dari
Muhammad, ia tidak
mengetahuinya” [Diriwayatkan oleh
‘Abdurrazzaaq 3/590 no. 6757].
Riwayat lemah karena munqathi’ . Ibnu
Juraij tidak pernah bertemu dengan Ibnu
‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa . Selain itu,
Ibnu Juraij sendiri seorang yang tsiqah
namun sering melakukan tadlis dan irsaal .
[5]
Riwayat yang shahih yang berkaitan
dengan permasalahan ini adalah :
ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﻦْﺑ ُﺪَّﻤَﺤُﻣ ،ﻰَﻴْﺤَﻳ :َﻝﺎَﻗ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺪﻴِﻌَﺳ
ُﻦْﺑ ،ٍﺭﻮُﺼْﻨَﻣ .ٌﻢْﻴَﺸُﻫ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ﺡ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣﻭ ُﻉﺎَﺠُﺷ
ُﻦْﺑ ٍﺪَﻠْﺨَﻣ ﻮُﺑَﺃ ،ِﻞْﻀَﻔْﻟﺍ :َﻝﺎَﻗ ،ٌﻢْﻴَﺸُﻫ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ
ﻞﻴِﻋﺎَﻤْﺳِﺇ ْﻦَﻋ ِﻦْﺑ ،ٍﺪِﻟﺎَﺧ ﻲِﺑَﺃ ْﻦَﻋ ِﻦْﺑ ِﺲْﻴَﻗ
،ٍﻡِﺯﺎَﺣ ﻲِﺑَﺃ ِﺮﻳِﺮَﺟ ْﻦَﻋ ِﻦْﺑ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ
،ِّﻲِﻠَﺠَﺒْﻟﺍ " :َﻝﺎَﻗ ﺎَّﻨُﻛ ﻯَﺮَﻧ َﻉﺎَﻤِﺘْﺟﺎِﻟﺍ ﻰَﻟِﺇ
ِﻞْﻫَﺃ ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ ِﻡﺎَﻌَّﻄﻟﺍ َﺔَﻌْﻨَﺻَﻭ " ِﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ
Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Yahyaa, ia berkata : Telah
menceritakan kepada kami Sa’iid bin
Manshuur : Telah menceritakan kepada
kami Husyaim (ﺡ). Dan telah menceritakan
kepada kami Syujaa’ bin Makhlad Abul-
Fadhl, ia berkata : Telah menceritakan
kepada kami Husyaim, dari Ismaa’iil bin
Abi Khaalid, dari Qais bin Abi Haazim,
dari Jariir bin ‘Abdillah Al-Bajaliy, ia
berkata : “Kami (para shahabat)
menganggap menganggap berkumpul-
kumpul di rumah keluarga mayit, serta
penghidangan makanan oleh mereka
(kepada para tamu) termasuk bagian dari
niyahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan
oleh Ibnu Majah no. 1612].
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabaraaniy
dalam Al-Kabiir 2/307-308 no. 2279.
Semua perawinya tsiqaat, hanya saja
Husyaim seorang mudallis [6] dan di sini ia
meriwayatkan dengan ‘an’anah . Husyaim
mempunyai mutaba’ah dari Nashr bin
Baab sebagaimana diriwayatkan oleh
Ahmad [7] 2/204.
Nashr bin Baab seorang yang lemah [8] .
Riwayat di atas dikuatkan oleh :
ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ،ٌﻊﻴِﻛَﻭ ِﻚِﻟﺎَﻣ ْﻦَﻋ ،ٍﻝَﻮْﻐِﻣ ِﻦْﺑ ْﻦَﻋ
،َﺔَﺤْﻠَﻃ :َﻝﺎَﻗ ٌﺮﻳِﺮَﺟ َﻡِﺪَﻗ ﻰَﻠَﻋ ،َﺮَﻤُﻋ " :َﻝﺎَﻘَﻓ
ْﻞَﻫ ُﺡﺎَﻨُﻳ ْﻢُﻜُﻠَﺒِﻗ ﻰَﻠَﻋ ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ ؟ ﺎَﻟ :َﻝﺎَﻗ "
" :َﻝﺎَﻗ ْﻞَﻬَﻓ ُﻊِﻤَﺘْﺠَﺗ ُﺀﺎَﺴِّﻨﻟﺍ ْﻢُﻛَﺪﻨﻋ ﻰَﻠَﻋ
ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ ُﻢَﻌْﻄُﻳَﻭ ؟ُﻡﺎَﻌَّﻄﻟﺍ :َﻝﺎَﻗ ،" ْﻢَﻌَﻧ
:َﻝﺎَﻘَﻓ " " ُﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ َﻚْﻠِﺗ
Telah menceritakan kepada kami Wakii’,
dari Maalik bin Mighwal, dari Thalhah, ia
berkata : Jarir mendatangi ‘Umar, lalu ia
(‘Umar) berkata : “Apakah kamu sekalian
suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab :
“Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara
wanita-wanita kalian semua suka
berkumpul di rumah keluarga mayit dan
makan hidangannya ?”. Jarir menjawab :
“Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama
dengan niyahah (meratapi
mayit)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Syaibah 2/487].
Semua perawinya tsiqaat , hanya saja ada
kekhawatiran keterputusan antara Thalhah
dengan Jariir. Ada syaahid yang lain :
ﺎﻨﺛ ُﺪْﺒَﻋ ،ِﺪﻴِﻤَﺤْﻟﺍ :َﻝﺎَﻗ ﺎﻧﺃ ُﻦْﺑ ُﺪﻳِﺰَﻳ
،َﻥﻭُﺭﺎَﻫ :َﻝﺎَﻗ ﺎﻧﺃ ُﺮَﻤُﻋ ﻮُﺑَﺃ ٍﺺْﻔَﺣ
َﻥﺎَﻛَﻭ ،ُّﻲِﻓَﺮْﻴَّﺼﻟﺍ ،ًﺔَﻘِﺛ :َﻝﺎَﻗ ٌﺭﺎَّﻴَﺳ ﺎﻨﺛ
ﻮُﺑَﺃ ،ِﻢَﻜَﺤْﻟﺍ :َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ ُﻦْﺑ ُﺮَﻤُﻋ ِﺏﺎَّﻄَﺨْﻟﺍ
ُﻪَّﻠﻟﺍ َﻲِﺿَﺭ " :ُﻪْﻨَﻋ ﺎَّﻨُﻛ ُّﺪُﻌَﻧ َﻉﺎَﻤِﺘْﺟﺎِﻟﺍ َﺪْﻨِﻋ
ِﻞْﻫَﺃ ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ ُﻦَﻓْﺪُﻳ ﺎَﻣَﺪْﻌَﺑ " ِﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-
Hamiid, ia berkata : Telah mengkhabarkan
kepada kami Yaziid bin Haaruun, ia
berkata : Telah mengkhabarkan kepada
kami ‘Umar bin Abi Hafsh Ash-Shairaafiy -
dan ia seorang yang tsiqah - ia berkata :
Telah menceritakan kepada kami Sayyaar
Abul-Hakam, ia berkata : Telah berkata
‘Umar bin Al-Khaththaab radliyallaahu
‘anhu : “Dulu kami menganggap
berkumpul-kumpul di sisi keluarga mayit
setelah si mayit dikuburkan termasuk
niyahah (meratap)” [Diriwayatkan oleh
Aslam bin Sahl dalam Taariikh Waasith hal.
26 no. 206].
Semua perawinya tsiqaat, hanya saja
Sayyaar tidak pernah bertemu dengan
‘Umar radliyallaahu ‘anhu .
Oleh karena itu, dengan keseluruhan jalan
riwayatnya, atsar Jariir bin Abdillah
radliyallaahu ‘anhu adalah shahih.[9]
Asy-Syaafi’iy rahimahullah berkata :
َﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ ُﻩَﺮْﻛَﺃَﻭ ﻰَﻠَﻋ ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ َﺪْﻌَﺑ ،ِﻪِﺗْﻮَﻣ
ْﻥَﺃَﻭ ُﺔَﺤِﺋﺎَّﻨﻟﺍ ُﻪَﺑُﺪْﻨَﺗ ﻰَﻠَﻋ ،ِﺩﺍَﺮِﻔْﻧﺎِﻟﺍ
ﻯَّﺰَﻌُﻳ ْﻦِﻜَﻟ ﺎَﻤِﺑ ُﻪَّﻠﻟﺍ َﺮَﻣَﺃ َّﺰَﻋ َﻦِﻣ َّﻞَﺟَﻭ
ِﺮْﺒَّﺼﻟﺍ ،ِﻉﺎَﺟْﺮِﺘْﺳﺎِﻟﺍَﻭ ُﻩَﺮْﻛَﺃَﻭ َﻢَﺗْﺄَﻤْﻟﺍ َﻲِﻫَﻭ
،ُﺔَﻋﺎَﻤَﺠْﻟﺍ ْﻢَﻟ ْﻥِﺇَﻭ ْﻦُﻜَﻳ ،ٌﺀﺎَﻜُﺑ ْﻢُﻬَﻟ َّﻥِﺈَﻓ
ُﺩِّﺪَﺠُﻳ َﻚِﻟَﺫ َﻥْﺰُﺤْﻟﺍ ُﻒِّﻠَﻜُﻳَﻭ .... ،َﺔَﻧْﺆُﻤْﻟﺍ
“Dan aku membenci perbuatan niyaahah
(meratap) terhadap mayit setelah
kematiannya dan orang yang meratap
tersebut menyebut-nyebut kebaikan si
mayit secara tersendiri. Akan tetapi
hendaknya ia dihibur dengan sesuatu yang
diperintahkan Allah agar bersabar dan
mengucapkan kalimat istirjaa’ . Dan aku
juga membenci[10] berkumpul-kumpul di
keluarga di mayit meskipun tidak disertai
adanya tangisan, karena hal tersebut akan
menimbulkan kesedihan dan membebani
materi/bahan makanan (bagi keluarga si
mayit)...” [Al-Umm , 1/248].
Kesimpulan : Tahlilan sampai tujuh hari
ternyata (BUKAN) tradisi para sahabat
Nabi Saw dan para tabi'in .
Wallaahu a’lam .
Semoga ada manfaatnya.
[abul-jauzaa’ – perum ciomas permai –
15122012 – 22:24 – revisi : 16122012,
17:00].
[1] ‘Mereka’ yang dimaksudkan oleh
Thaawus di sini adalah sebagian
shahabat dan taabi’iin yang semasa
dengannya.
[2] Riwayatnya adalah :
َﻝﺎَﻗَﻭ ﻲِﻓ ُﺪَﻤْﺣَﺃ ِﺪْﻫُّﺰﻟﺍ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﻢِﺷﺎَﻫ
ُﻦْﺑ ،ِﻢِﺳﺎَﻘْﻟﺍ ﺎﻨﺛ ،ُّﻲِﻌَﺠْﺷَﻷﺍ ْﻦَﻋ
،َﻥﺎَﻴْﻔُﺳ :َﻝﺎَﻗ َﻝﺎَﻗ " :ٌﺱُﻭﺎَﻃ َّﻥِﺇ
ﻰَﺗْﻮَﻤْﻟﺍ َﻥﻮُﻨَﺘْﻔُﻳ ْﻢِﻫِﺭﻮُﺒُﻗ ﻲِﻓ ،ﺎًﻌْﺒَﺳ
ﺍﻮُﻧﺎَﻛَﻭ ْﻥَﺃ َﻥﻮُّﺒِﺤَﺘْﺴَﻳ ْﻢُﻬْﻨَﻋ ﺍﻮُﻤِﻌْﻄُﻳ
َﻚْﻠِﺗ " َﻡﺎَّﻳَﻷﺍ
[3] Baca artikel : Apa perbedaan antara
istilah hadits shahih, hadits shahihul-
isnad, dan hadits rijaaluhu tsiqaat ? .
[4] Bahkan ia (Sufyaan) belum keluar
dari negerinya (Kuufah).
ﺎَﻧَﺮَﺒْﺧَﺃ ﻦﺑﺍ ،ﻕﺯﺭ :ﻝﺎﻗ ﺎَﻧَﺮَﺒْﺧَﺃ
ﻦﺑ ﻥﺎﻤﺜﻋ ،ﺪﻤﺣﺃ :ﻝﺎﻗ ﻞﺒﻨﺣ ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ
ﻦﺑ ،ﻕﺎﺤﺳﺇ :ﻝﺎﻗ ﻝﺎﻗ ﻮﺑﺃ :ﻢﻴﻌﻧ
ﺝﺮﺧ ﻥﺎﻴﻔﺳ ﻦﻣ ﻱﺭﻮﺜﻟﺍ ﺔﻓﻮﻜﻟﺍ ﺔﻨﺳ
ﺲﻤﺧ ﻦﻴﺴﻤﺧﻭ ﺔﺋﺎﻣﻭ ﻢﻟﻭ ،ﻊﺟﺮﻳ
ﺕﺎﻣﻭ ﺔﻨﺳ ﻯﺪﺣﺇ ﻦﻴﺘﺳﻭ ،ﺔﺋﺎﻣﻭ ﻮﻫﻭ
ﺖﺳ ﻦﺑﺍ ﺎﻤﻴﻓ ﻦﻴﺘﺳﻭ ﻦﻇﺃ
Telah mengkhabarkan kepada kami
Ibnu Rizq, ia berkata : Telah
mengkhabarkan kepada kami
'Utsmaan bin Ahmad, ia berkata :
Telah menceritakan kepada kami
Hanbal bin Ishaaq, ia berkata : Telah
berkata Abu Nu'aim (Al-Fadhl bin
Dukain) : "Sufyaan Ats-Tsauriy keluar
dari Kuufah pada tahun 155 H, dan
kemudian ia tidak kembali lagi. Ia
meninggal tahun 161 H dalam usia
66 tahun sebagaimana yang aku
kira" [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib
dalam Taariikh Baghdaad , 10/242 -
biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].
Sanad riwayat ini shahih, semua
perawinya tsiqaat.
[5] ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziiz bin
Juraij Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abul-
Waliid atau Abu Khaalid Al-Makkiy -
terkenal dengan nama Ibnu Juraij;
seorang yang tsiqah , faqiih ,
lagi faadlil, akan tetapi banyak
melakukan tadlis dan irsal.
Termasuk thabaqah ke-6, wafat tahun
150 H, atau dikatakan setelahnya.
Dipakai oleh Al-Bukhaariy, Muslim,
Abu Daawud, At-Tirmidziy, An-
Nasaa’iy, dan Ibnu Maajah
[Taqriibut-Tahdziib , hal. 624 no.
4221].
Ia tidak pernah berjumpa seorang
pun dari kalangan shahabat
[Jaami’ut-Tahshiil , hal. 229-230 no.
472].
[6] Husyaim bin Basyiir bin Al-Qaasim
bin Diinaar As-Sulamiy, Abu
Mu’aawiyyah bin Abi Khaazim;
seorang yang tsiqah lagi tsabt ,
namun banyak
melakukan tadlis dan irsal khafiy .
Termasuk thabaqahke-7, lahir tahun
104/105 H, dan wafat tahun 183
H. Dipakai oleh Al-Bukhaariy,
Muslim, Abu Daawud, At-Tirmidziy,
An-Nasaa’iy, dan Ibnu
Maajah [ Taqriibut-Tahdziib , hal. 1023
no. 7362].
[7] Riwayatnya adalah :
ﺎَﻨَﺛَّﺪَﺣ ُﺮْﺼَﻧ ُﻦْﺑ ،َﻞﻴِﻋﺎَﻤْﺳِﺇ ْﻦَﻋ ،ٍﺏﺎَﺑ
ْﻦَﻋ ْﻦَﻋ ،ٍﺲْﻴَﻗ ِﻦْﺑ ِﺮﻳِﺮَﺟ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﺪْﺒَﻋ
،ِّﻲِﻠَﺠَﺒْﻟﺍ " :َﻝﺎَﻗ ﺎَّﻨُﻛ ُّﺪُﻌَﻧ َﻉﺎَﻤِﺘْﺟﺎِﻟﺍ
ﻰَﻟِﺇ ِﻞْﻫَﺃ ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ َﺔَﻌﻴِﻨَﺻَﻭ ِﻡﺎَﻌَّﻄﻟﺍ
ِﻪِﻨْﻓَﺩ َﺪْﻌَﺑ " ِﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ
[8] Beberapa ulama mengkritiknya
dengan keras, seperti Ibnu Ma’iin,
Zuhair bin Harb, Abu Haatim,
Juzjaaniy, dan yang lainnya. Akan
tetapi Ahmad bin Hanbal
mentautsiqnya dan membelanya saat
mengetahui beberapa ulama
mendustkannya. Ia (Ahmad)
mengatakan bahwa Nashr bin Baab
diingkari para ulama saat ia (Nashr)
meriwayatkan dari Ibraahiim Ash-
Shaaigh. Ibnu Sa’d juga mengatakan
hal yang sama dengan Ahmad.
Ahmad adalah ulama yang terkenal
muta’addil dalam urusan al-jarh
wat-ta’diil , dan ia juga termasuk
orang yang paling tahu mengenai
gurunya, Nashr bin Baab, sehingga
mengambil riwayat darinya. Namun
bukan berarti jarh para ulama
kepada Nashr tidak memberikan
pengaruh. Nashr adalah seorang
yang dla’iif yang riwayatnya dapat
digunakan sebagai i’tibaar , hanya
saja tidak benar tuduhan dusta yang
dialamatkan kepadanya. Wallaahu
a’lam .
[9] Atsar Jariir bin ‘Abdillah
radliyallaahu ‘anhu tersebut
dishahihkan oleh An-Nawawiy dalam
Al-Majmuu’ 5/285, Ibnu Katsiir
dalam Irsyaadul-Faqiih 1/241, Al-
Buushiiriy dalam Zawaaidu Ibni
Maajah hal. 236, Ibnu Hajar Al-
Haitamiy dalam Tuhfatul-Muhtaaj
3/207, Asy-Syaukaaniy dalam As-
Sailul-Jaraar 1/372, dan yang lainnya.
[10] Makna ‘makruh’ dalam perkataan
Asy-Syaafi’iy rahimahullah di sini
adalah tahriim (pengharaman),
karena sebelumnya ia juga
mengatakan tentang makruhnya
perbuatan niyaahah (meratap).
Perkataan itu satu rangkaian.
Meratap sendiri sudah jelas
hukumnya, yaitu haram , berdasarkan
sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa
sallam :
ِﻥﺎَﺘَﻨْﺛﺍ ﻲِﻓ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ ﺎَﻤُﻫ ْﻢِﻬِﺑ ،ٌﺮْﻔُﻛ
ﻲِﻓ ُﻦْﻌَّﻄﻟﺍ ،ِﺐَﺴَّﻨﻟﺍ ُﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍَﻭ ﻰَﻠَﻋ
ِﺖِّﻴَﻤْﻟﺍ
“ Dua perkara yang dapat membuat
manusia kufur : Mencela keturunan
dan niyaahah (meratapi
mayit) ” [Diriwayatkan oleh Muslim
no. 67].
Ummu ‘Athiyyah berkata :
َّﻥِﺇ ِﻪَّﻠﻟﺍ َﻝﻮُﺳَﺭ ﻰَّﻠَﺻ ُﻪﻠﻟﺍ َﻢَّﻠَﺳَﻭ ِﻪْﻴَﻠَﻋ
ِﻦَﻋ ﺎَﻧﺎَﻬَﻧ " ِﺔَﺣﺎَﻴِّﻨﻟﺍ
“Bahwasannya Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah
melarang kami dari perbuatan
niyaahah ” [Diriwayatkan oleh Abu
Daawud no. 3127; shahih].